Wednesday, August 30, 2017

".. Selama merah putih tidak terbalik, NKRI msh harga mati. Tenang aja bung.."

Oleh Ibrahim Rantau
Ancaman terhadap toleransi dan kemajemukan NKRI tidak hanya datang dari ekstremisme dan radikalisme beragama, namun juga datang dari kelompok yg menjadikan toleransi dan kemajemukan sebagai komoditas politik dan ekonomi. Sebagai jualan untuk kontestasi politik, maupun sebagai jualan untuk mendapatkan proyek2 dan bantuan negara. Belakangan, sebagai alat untuk menekan lawan politik. Alih alih bela pluralisme sampe mati, kelompok2 inilah yg justru menjadi ancaman paling serius bagi keberagaman republik kita. 

Radikalisme dan ektremisme yg tdinya hanya bahaya laten, kini justru dihadirkan secara langsung dihadapan mata. Hemat saya, tidak perlu gusar dan berlebihan menyikapi ancaman terhadap toleransi dan keberagaman. Sejak republik ini berdiri, kehidupan beragama sudah berjalan dengan sangat harmonis. Saya belom pernah melihat minoritas mendapatkan apresiasi sebaik yg diberikan oleh negeri ini. Istiqlal dan Katedral dapat berdiri sama megah dijantung ibukota. Setiap hari raya agama diberikan libur nasional bagi seluruh warga. Penghargaan yg belum pernah saya dengar di Palestina, Myanmar, bahkan dinegara negara eropa sekalipun bagi kaum minoritas. Selama merah putih tidak terbalik, NKRI msh harga mati. Tenang aja bung





Thursday, August 24, 2017

KAMMI Aceh: Alokasi Dana untuk Dinas Syariat Islam Wajib ditambah

Banda Aceh-Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh sudah berlangsung sejak diundangkan UU no 44 tahun 1999 dan UU no 18 tahun 2001. Sejak itu Aceh resmi menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang diberikan keistemewaan untuk melaksanakan syariat Islam di daerahnya. Dalam pelaksanaannya,  Syariat Islam di Aceh dianggap masih belum maksimal berjalan meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa pelaksanaan syariat Islam di Aceh sudah memberikan dampak yang lebih positif bagi kehidupan masyarakat Aceh. Oleh sebab itu,  proses berjalannya syariat Islam di Aceh harus terus didorong dan didukung agar pelaksanaannya bisa maksimal dan memberikan hasil.
Namun ternyata,  semangat memajukan pelaksanaan Syariat Islam di Aceh belum didukung sepenuhnya dengan pengalokasian dana yang sesuai dengan harapan.  Menurut Ketua Partai Damai Aceh Tgk. Muhib, alokasi anggaran pada Dinas Syariat Islam tidak sampai Rp 30 miliar yang direncanakan dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) 2018 yang ditetapkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh.

Menanggapi hal ini,  Tuanku Muhammad selaku Ketua Umum KAMMI Aceh sangat menyayangkan jika dana untuk Dinas syariat Islam selaku dinas yang memiliki kewajiban untuk mengurusi pelaksanaan Syariat Islam di Aceh hanya diberikan lebih kurang 30 Milyar saja.  Padahal menurut Pasal 10 ayat (2) Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2014 tentang Pokok-Pokok Syariat Islam, jelas mengatur alokasi anggaran untuk syariat Islam lima persen dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) atau APBK.

"Coba kita bayangkan,  maukah pelaksanaan syariat Islam di Aceh bisa maju jika dananya saja banyak dikebiri,  30 Milyar itu hanya 0,2% dari 14 T APBA kita.  Seharusnya jika melihat aturan qanun, dana untuk syariat Islam bisa mencapai 700 M atau 5% dari total APBA. Padahal disaat zaman sudah penuh dengan kemaksiatan seperti ini, syariat Islam harus bisa lebih digenjot dan diperhatikan serta dijadikan tameng untuk menyelematkan kehidupan rakyat Aceh." tegas Tuanku.

Oleh karena itu,  Tuanku mengharapkan agar alokasi dana untuk Dinas Syariat Islam bisa ditambah lagi dalam KUA dan PPAS oleh BAPPEDA Aceh.  BAPPEDA harus bisa lebih adil dalam membagi-bagi anggaran prioritas.  Saat ini terkesan anggaran untuk pembangunan fisik saja yang lebih diprioritaskan tetapi pembangunan SDM Aceh seperti pembinaan masyarakat terhadap pemahaman keislaman malah dilupakan.

Keupeu gedong di Aceh manyang-manyang ngoen lagak-lagak.  Tapi aneuk nanggroe gadoh bak peget maksit.  Woe,  woe,  woe,  BAPPEDA. Saran Tuanku.

Monday, August 21, 2017

Melagukan Al-Quran (Irama dan Maqamat dalam Tilawah)

Oleh Ustadz Laili Al-Fadhly
Melagukan atau membaca Al-Quran dengan irama itu ada dua macam:
1. Irama yang mengikuti tabiat asli manusia, tanpa memberat-beratkan diri, belajar atau berlatih khusus. Melagukan bacaan Al-Quran seperti ini dibolehkan.
Irama ini lahir karena seringnya membaca dan mendengar. Allaah ‘azza wa jalla telah menganugerahi setiap manusia dengan iramanya masing-masing. Walaupun setiap orang memiliki kecenderungan pada salah satu jenis irama tertentu, namun ia mendapatkan irama tersebut secara natural, bukan latihan.
( sumber : https://alfadhli.wordpress.com)
Irama seperti inilah yang disenandungkan para Sahabat dan Ulama Salaf. Dengan irama jenis inilah yang Rasuulullaahi shallallaahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan kita untuk menghiasi Al-Quran.
Dari Abu Lubabah Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنّا
“Barangsiapa yang tidak memperindah suaranya ketika membaca Al-Quran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Muslim dan Abu Daud]
2. Irama yang dibuat-buat, bukan dari tabiat asli, diperolah dari latihan khusus sebagaimana para penyanyi berlatih untuk mahir dalam mendendangkan lagu.
Melagukan semacam ini tidak disukai oleh para ulama salaf, mereka mencela dan melarangnya. Para ulama salaf dahulu mengingkari cara membaca Al-Quran dengan dibuat-buat seperti itu, karena termasuk bagian dari takalluf.
Selain itu, irama-irama yang dijadikan dasar latihan berasal dari dunia musik, yang para Ulama Salaf tidak menyukai hal tersebut. Maka, menempatkan sesuatu yang mulia (Al-Quran) kepada sesuatu yang hina (musik), dapat termasuk menghinakannya.
Kita tidak pernah diperintahkan mempelajari irama-irama tersebut secara khusus. Para Sahabat ridhwanullaahi ‘alayhim ajma’in telah melagukan Al-Quran dengan senandung yang indah, sebelum orang-orang Arab mengenal irama-irama musik yang kita kenal sebagai maqamat musiqiyah ini.
Selain itu, meluangkan waktu khusus untuk mempelajari irama musik dikhawatirkan dapat melalaikan seseorang dari hal-hal yang lebih bermanfaat dari mempelajari ilmu syar’i, baik itu aqidah, tajwid, tafsir, hadits, fikih dan selainnya yang wajib bagi kita mempelajarinya.
Jadi, tidak menyandarkan irama bacaan Al-Quran pada salah satu maqam di antara maqamat musiqiyah, bukan berarti membaca Al-Quran benar-benar datar, seperti berbicara biasa, tanpa melagukannya. Karena Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan kita untuk melagukan bacaan Al-Quran. Dan para Sahabat telah membaca Al-Quran dengan irama-irama yang indah jauh sebelum maqamat musiqiyah dikenal oleh orang-orang Arab.
Tidak menggunakan maqamat musiqiyah saat membaca Al-Quran adalah membacanya sesuai dengan irama yang natural yang berasal dari diri kita. Tanpa harus terbebani tausyih atau meniru-niru irama orang lain yang tidak sesuai dengan tabiat kita sendiri. Karena hal tersebut termasuk takalluf dan ta’assuf yang tidak disukai dalam tilawah.
Dengan banyaknya tilawah dan seringnya mendengar murattal, maka seseorang akan menemukan irama yang paling seauai dengan tabiat dirinya. Maka senandungkanlah Al-Quran dengan irama tersebut. Persoalan bila kemudian irama itu mirip dengan salah satu maqam di antara maqamat musiqiyah, sudah bukan lagi menjadi sebuah masalah, karena sejak awal kita tidak berniat untuk menempatkan maqamat musiqiyah sebagai wadah tilawah kita. Dan tidak perlu kita menyebut bacaan tersebut sebagai maqam anu dan anu.
Inilah maksud dari larangan melagukan Al-Quran. Yakni melarangnya bila dengan menyengaja memasukkan bacaan Al-Quran ke dalam maqamat musiqiyyah. Karena irama Al-Quran bukanlah bagian dari musik. Syaikh Ayman Suwaid menukil ucapan As-Sakhawi (murid Imam Asy-Syathibi) dalam salah satu ceramahnya: “Irama pokok maqamat itu ada 7 (tujuh), sedangkan irama Al-Quran adalah yang ke-8 (delapan).” (Atau sebagaimana perkataan beliau).
Hal ini menunjukkan bahwa irama Al-Quran adalah sesuatu dan maqamat musiqiyyah adalah seauatu yang lain.
Namun demikian, kami mengakui bahwa dalam hal ini ada sebagian Ulama, termasuk sebagian guru kami, yang memberikan keringanan dengan membolehkan penggunaan maqamat musiqiyyah selama bacaannya tidak keluar dari kaidah-kaidah tajwid. Karena itu, bagi yang masih ingin mempelajari maqamat, kami ingin memberikan saran dan masukan:
1. Jangan sampai mempelajari maqamat membuat kita melalaikan menuntut ilmu yang jauh lebih penting darinya, khususnya ilmu-ilmu syar’i yang diwajibkan atas setiap muslim.
2. Hendaknya mempelajari tajwid terlebih dahulu, dari makharij, sifat, dan hukum-hukumnya agar menjaga bacaan tetap tartil.
3. Bila antara kaidah tajwid dengan kaidah maqamat terjadi pertentangan pada bacaan tertentu, wajib untuk mengikuti kaidah tajwid dan meninggalkan kaidah maqamat.
4. Hendaknya membaca dengan maqamat bukan untuk mendapatkan kemuliaan di sisi manusia, melainkan untuk mempermudah dalam tadabbur agar hati senantiasa terjaga keikhlasannya.
Semoga Allaah azza wa jalla membimbing kita untuk senantiasa dekat dengan kalam-Nya yang mulia. Menjadikan Al-Quran sebagai hujjah bagi kita di akhirat kelak, bukan menghujat kita. Aamiin.
Malam takbir idul fithri 1438 H
Cukanggenteng, Pasir Jambu, Kab. Bandung

Saturday, August 19, 2017

Latah Aswaja

Oleh Yusuf Maulana
Menjadi Ahlus-Sunnah wa-al-Jama’ah, bagi saya, satu pilihan untuk bersiap memanggul amanah. Amanah bagi diri pribadi sekurangnya. Amanah untuk menjaga deretan ulama yang jadi rujukan kita bertindak tanduk. Setiap lisan mencerminkan kadar penghayatan sekaligus pengamalan pada para ulama Ahlus-Sunnah terujuk.

Ketika lisan yang hadir ke ruang publik hanya kebanggaan mendakwa diri ter-Ahlus-Sunnah (kadang mengakronim: ter-Aswaja), tetapi kualitas lisan menentangi kaidah akhlak ulama Ahlus-Sunnah, ya semuanya hancur berantakan. Apatah lagi kedirian dan kemendakuan sebagai kelompok ter-Ahlus-Sunnah ataupun ter-Aswaja membenarkan untuk bertindak nyaris apa saja yang tidak sepatutnya diperbuat muslimin. Menggertak sampai melupakan ucapan berpurnama lampau soalan serupa, hingga ada anasir mengajak massa membunuh seorang muslim hanya karena kebijakan yang tak disuka. Semua ini seakan absah diperbuat dengan teras klaim “kami lebih menjaga nilai Aswaja; Islam rahmatan lil-'alamin.” Sementara ia luput menafakuri: adakah in bercanggah, bertentangan, dengan ulama anutan?
Maka, sudahi latah mendakwa diri cukup ber-Aswaja; berpuas hanya dengan memelihara pakem diri yang paling ini dan itu dalam tatanan Ahlus-Sunnah wa-al-Jama'ah, lantas berhak menilai orang lain begitu dan begitu. Pas giliran kita diuji, akhlak ataupun adab kita sungguh mengerikan. Amat sangat jauh dari nilai yang acap dibanggakan di mimbar-mimbar atau majelis media massa yang telanjur bertakdir menyanjung tiada henti.
Kita yang sering mendakwa orang lain itu Khawarij, dakwa pula di hati masing-masing: adakah terbebas dari tindakan serupa puak tersebut?
Ilustrasi: orientalistart(dot)tumblr(dot)com

Friday, August 18, 2017

KEKUASAAN ALLAH MENEMBUS RUANG DAN WAKTU

Situasi yang dikisahkan dalam ayat berikut merupakan bukti bahwa waktu sebenarnya merupakan cerapan psikologis.

Seperti orang yang melewati sebuah dusun yang sudah runtuh sampai ke tap-atapnya, ia berkata, “Oh, bagaimana Allah menghidupkan semua ini ssetelah mati?” lalu Allah membuat orang itu mati selama 100 tahun kemudian membangkitkannya kembali, Allah berfirman sebagai berikut.

“Tidak, bahkan seratus tahun. Maka lihatlah makananmu, tidak rusak. Tetapi lihatlah keledaimu; dan akan kami jadikan engkau suatu tanda bagi manusia; dan lihatlah tulang-belulang itu bagaimana kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka setelah jelas kepadanya ia pun berkata, ‘Aku tahu bahwa Allah berkuasa atas segalanya.” (QS. Al-Baqarah, 2: 259)


Ayat di atas jelas menekankan bahwa Allah, yang menciptakan waktu, tidak dibatasi oleh waktu. Sebaliknya, manusia dibatasi oleh waktu, yang ditakdirkan Allah. Seperti dalam ayat itu, manusia bahkan tidak mampu mengetahui berapa lama ia tertidur. (Harun Yahya, Memahami Allah Melalui Akal)



Thursday, August 17, 2017

Peran Ikhwanul Muslimin Mesir dan Mufti Besar Palestina Terhadap Kemerdekaan Indonesia

Oleh Azzam Mujahid Izzul Haq
25 Januari 1946, majalah TIME menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. "Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa," demikian ditulisnya pada headline news-nya di hari itu.
(Mursyid Ikhwanul Muslimin, Hasan al-Banna, bertemu dengan Delegasi Pejuang Kemerdekaan RI)

Hal ini juga sebagai propaganda pembenaran atas ketidaksetujuan Barat atas kemerdekaan negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia. Karena pada saat yg bersamaan, Januari 1946, Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI), tentara Inggris sebagai sekutu Belanda yg bertopeng melucuti persenjataan Jepang karena kalah pada Perang Dunia II, malah membonceng Netherlands Indies Civil Administration (NICA) untuk melakukan pembatalan atas kemerdekaan Indonesia dengan menguasai Jakarta sebagai ibukota.

4 Januari 1946, Presiden Soekarno menerima tawaran dari Khalifah Islam Ing Tanah Jawa, Wakil Kekhilafahan Utsmaniyyah di Jawa, Sultan Hamengku Buwono IX untuk memindahkan ibukota yg dikuasai Belanda dan tentara sekutunya, dari Jakarta ke Yogyakarta setelah sebelumnya, 2 Januari 1946, Sultan mengirimkan kurirnya ke Istana Kepresidenan.
Dari pemberitaan Majalah Time yg menakut-nakuti Eropa dengan tema Kebangkitan Islam dari negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, setelah 22 tahun sebelumnya, tahun 1924 Islam 'berhasil' ditaklukkan dengan runtuhnya Kekhilafahan Utsmaniyyah, serta perlaku tantara sekutu (Inggris) yg membonceng Belanda untuk membatalkan kemerdekaan dan mengambil alih kembali Indonesia kembali dalam kekuasaan penjajah Belanda, tergambar secara jelas dan gamblang bahwa dunia Barat TIDAK PERNAH MAU MENGAKUI kemerdekaan Indonesia. Dan, dunia Barat menyimpan fobia yg begitu besar akan terjadinya kebangkitan Islam khususnya dari Indonesia.
Betapa tidak, Indonesia adalah negara pertama yg merdeka pasca Perang Dunia II. Indonesia tidak seperti banyak negara lainnya yg merdeka karena hadiah atau pemberian. Indonesia merdeka karena perjuangan. Walau sempat pada awalnya, Soekarno meyakini Jepang akan memberikan kemerdekaan itu jika kalah dalam Perang Dunia II. Namun, atas desakan para PEMUDA, tanpa harus menunggu pemberian, Indonesia memilih untuk menyatakan kemerdekaannya atas berkat rahmat Tuhan, Allah Yang Maha Rahman.
Sementara Barat tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia, di saat Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa lain (de jure) setelah gaung kemerdekaan membahana ke seluruh dunia (de facto), dunia Arab justru sebaliknya. Dunia Arab bukan saja mengakui kemerdekaan Indonesia, melainkan juga mendukung, turut memperjuangman dan berkorban dengan harta dan jiwanya untuk kemerdekaan Indonesia. Negara yg di dalamnya ada wilayah yg sebelumnya menjadi bagian dari Khilafah. Sebuah sistem hebat peradaban dunia selama lebih dari 14 abad lamanya.
Dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari PALESTINA dan MESIR, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yg ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan Lc.
M. Zein Hassan Lc., sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada halaman 40, menjelaskan tentang peran-serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap atau di dunia Barat bahkan tidak mau bersikap.
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Imam Masjid Al Aqsha yg juga adalah Mufti Besar Palestina, Syaikh Muhammad Amin Al Husaini secara terbuka mengakui kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 6 September 1945, Radio Berlin di Jerman berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ Mufti Besar Palestina Amin Al Husaini kepada Alam Islami (persatuan negara-negara berpenduduk Muslim), bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, disebar-luaskan oleh M Zein Hassan, bahkan harian “Al Ahram” di jazirah Arab, media besar yg terkenal telitinya juga menyiarkannya.
Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamasikan kemerdekaannya, Al Ikhwan Al Muslimun (IM), organisasi Islam yg dipimpin Syaikh Hasan Al Banna, tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya. Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media yg memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar.
Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali berdemonstrasi di depan Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap mereka lakukan. Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo kewalahan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yg biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran.
Tidak cukup juga dengan itu, rakyat Mesir melakukan penghadangan kapal-kapal Belanda yg melintas di Terusan Suez. Sehingga, beragam pasokan barang dan dagangan Belanda terganggu secara signifikan.
Kuatnya dukungan rakyat Mesir di bawah koordinasi Al Ikhwan Al Muslimun (IM) atas kemerdekaan Indonesia membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946. 10 Juni 1947, pengakuan Mesir atas kemerdekaan Indonesia kemudian ditandatangani yg disaksikan oleh KH. Agus Salim dan AR Baswedan. Dengan begitu Mesir tercatat sebagai negara yg mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelah itu menyusul Syria, Irak, Libanon, Yaman, Afghanistan dan terakhir Kerajaan Arab Saudi setelah Sidang Dewan Liga Arab.
Pada tanggal 18 November 1946, Sidang Dewan Liga Arab tanggal 18 November 1946 memutuskan kepada semua negara anggota Liga Arab supaya mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yg berdaulat. Alasan Liga Arab memberikan dukungan kepada Indonesia merdeka didasarkan pada ikatan keagamaan, persaudaraan serta kekeluargaan.
Kenapa Kerajaan Arab Saudi menjadi negara terakhir dari sekian banyak negara-negara Arab yg mengakui kemerdekaan Indonesia? Perlu diketahui bahwa Arab Saudi baru berdiri pada tahun 1933, selisih 12 tahun sebelumnya saja. Kondisi kerajaannya belum stabil, apalagi berdirinya kerajaan tersebut adalah hadiah dari Inggris, sekutu Belanda di Indonesia. Ada hal berbau politis yg menjadi pertimbangan Raja Abdulaziz ibn Saud, raja Kerajaan Arab Saudi saat itu.
Mari perhatikan seksama bagaimana perbedaan sikap dan perlakuan antara dunia Barat dan Islam (yg diwakili dunia Arab). Sekali lagi, faktanya adalah Barat tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia. Mereka justru mendukung penjajahan kembali Indonesia oleh Belanda. Sebaliknya, Islam melalui dunia Arab, justru mengakui dan memberikan dukungan sepenuhnya.
Hari ini, kita bisa menghirup udara kemerdekaan dan mendapatkan legalitas kemerdekaan berawal dari pengakuan negara-negara Islam. Negara dan masyarakatnya yg berkopiah, berjubah dan berserban.
Lalu, dengan jasa seperti ini, oknum di antara kita kemudian ingin mendiskreditkan, mengebiri, dan memisahkan Islam dari negara?
Lalu, dengan jasa Palestina yg seperti ini, oknum di antara saudara kita kemudian mencela perjuangan pejuang Palestina? Yg dengan sekuat tenaga, pikiran, harta dan jiwa mereka lakukan?
Lalu, dengan jasa Al Ikhwan Al Muslimun yg seperti ini, oknum di antara saudara kita kemudian menuduh, memfitnah, melabel sebagai biang organisasi teroris dunia?
Lalu, dengan jasa orang-orang yg Qadarullah berketurunan Arab, menjalankan Islam dengan taat dalam tataran personal dan juga sosial, dalam berkeluarga dan juga bernegara, negara Indonesia diakui kemerdekaannya seperti ini, oknum di antara kita mengenyampingkannya dan atau malah menghinanya?
Nasionalisme yg berkopiah, berjubah dan berserban terbukti tidak kalah dengan yg bertopi kebarat-baratan. Bahkan, faktanya adalah menjadi yg terdepan.
Negara kita, diperjuangkan dengan pekik takbir, Allahu Akbar! Diproklamasikan juga dengan pekik takbir, Allahu Akbar! Diperjuangkan di tataran internasional juga dengan pekik takbir, Allahu Akbar!
Sudah saatnyalah, kita isi, kita pertahankan kemerdekaan negara kita juga dengan semangat ke-Islam-an yg tercermin dalam keshalihan, keadilan, keberprestasian, dan pekik takbir, Allahu Akbar!
Dirgahayu Indonesia! Merdeka!
***
Source: Dari berbagai sumber.

*Tulisan di atas diambil dari tulisan Azzam Mujahid Izzulhaq di Fbnya, hanya admin menambahkan judul redaksinya saja

Peringati HUT RI ke 72 SMAIT Nurul Fikri Aceh adakan Lomba Pahlawan '45"

Kamis 17 Agustus 2017] Aceh Besar- Peringatan HUT RI menjadi agenda tahunan bagi setiap rakyat Indonesia untuk memperingati hari kemerdekaan Bangsa Indonesia.  Setiap rakyat Indonesia bersuka ria setiap menyambut tanggal 17 Agustus. Hal itu bisa kita lihat dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan setiap tahunnya. Mulai dari upacara bendera hingga perlombaan rakyat dengan berbagai bentuk kreativitasnya.
Peringatan HUT RI

Peringatan HUT RI ke 72

Memanfaatkan momentum HUT RI tahun ini,  sekolah SMAIT Nurul Fikri Boarding School Aceh mengadakan aneka perlombaan "Pahlawan '45" dengan tema "melalui semangat demokrasi proklamsi 17 Agustus 1945 mari kita bangkitkan semangat melahirkan pemimpin baru yang mampu membangun Indonesia untuk semakin maju dan sejahtera". Kegiatan ini berlangsung selama satu hari penuh dengan memperlombakan 10 lomba. Acara tersebut diikuti oleh seluruh siswa yang akan memperebutkan Piala Bergilir Pahlawan '45.

Adapun 10 lombanya terdiri dari lomba Sepak bola sarung,  catur persahabatan,  tenis meja,  estafet kelereng,  pancing botol,  fashion show,  nasyid,  drama,  dekor kelas, dan  rangking 1.

Kepala sekolah SMAIT Nurul Fikri Boarding School Tuanku Muhammad,  S.  Pd.  I mengatakan bahwa Pahlawan Cup ini diselenggarakan atas dasar untuk membentuk karakter para siswa SMAIT Nurul Fikri agar memiliki semangat untuk menjadi pahlawan-pahlawan baru nantinya yang mempu memberikan solusi untuk kemajuan bangsa Indonesia kedepannya. "kita tentu tahu bahwa para saat ini kita sudah tidak berperang lagi melawan penjajah.  Namun bukan berarti kita tidak bisa menjadi pahlawan bagi bangsa ini. Oleh karena itu melalui lomba Pahlawan ini seluruh siswa SMAIT Nurul FIKRI bisa menjadi pahlawan baru kedepannya." Tambah Tuanku.

Adapun Abdul Halim selaku ketua BOS (Badan Otoritas Santri) mengatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi kami para santri.  "Kami para santri sangat bersyukur dengan adanya aneka lomba Pahlawan di perayaan HUT RI tahun ini.  Melalui lomba ini kami bisa membangun kekompakan, kebersamaan,  kepedulian,  dan tentunya memupuk rasa Cinta bagi Negara Indonesia.  Semoga kedepan kami bisa menjadi para pahlawan dengan prestasi yang akan kami torehkan yang bisa mengharumkan bangsa Indonesia." Terang Halim.

Kegiatan lomba ini nantinya akan ditutup dengan pengumuman daftar juara dan pembagian piala bergilir Pahlawan '45 bagi kelas yang pesertanya paling banyak juara.

Wednesday, August 9, 2017

Perlu Anda Tahu Tentang Abraj Albait Di Mekkah

Menarik dari tulisan tentang Abraj Albait. yang ditulis oleh Azzam Mujahid Izzulhaq di akun FBnya. Silahkan disimak uraiannya di bawah ini

Tepat di depan Masjidil Haram, dulu berdiri kokoh sebuah benteng penjagaan kota Makkah yg bernama Benteng Ajyad yg dibangun pada tahun 1781 pada masa Kekhalifahan Utsmaniyyah. Benteng ini kemudian dihancurkan tahun 2002. Dan sebagai gantinya, berdirilah menara tertinggi ketiga di dunia yg diberi nama Abraj Albait.
Saya tidak ingin masuk ke ranah pembahasan simbol-simbol yg subyektif. Mari masuk ke ranah fakta obyektif saja.
Abraj Albait adalah bangunan tinggi, megah dan mewah yg terdiri dari beberapa 7 tower, diantaranya:
1. Makkah Royal Clock Tower, ini adalah tower utama yg di atasnya dibangun jam digital raksasa. Di bawahnya ini adalah bangunan yg difungsikan untuk Fairmont Hotel.
2. Hajar Tower, difungsikan untuk Mövenpick Hotel
3. Zamzam Tower, difungsikan untuk Pullman Hotel
4. Safa Tower, difungsikan untuk Raffles Makkah Palace Hotel
5. Marwah Tower, difungsikan untuk Marwa Rayhaan by Rotana Hotel
6. Al Maqam Tower, difungsikan untuk Swissotel Hotel
7. Qibla Tower, difungsikan juga untuk Swissotel.
Selain untuk hotel dan apartemen, Abraj Albait adalah pusat perbelanjaan (mall) serta sentra makanan (food court and restaurant), tempat shalat (mushalla), perpustakaan, ruang observasi untuk kepentingan hisab dan rukyat, dan lain sebagainya.
Mana yg ramai dikunjungi? Tidak lebih dan tidak bukan adalah pusat perbelanjaan, hotel dan restorannya saja. Sementara Mushalla agak miris memang, jika masih saja menjadi alternatif pertama dengan alasan 'sudah penuh' dan malas kepanasan menuju Masjidil Haram yg di depan mata.
Apa yg lebih memiriskan?
Di pusat perbelanjaan di Abraj Albait inilah dijual gerai dan produk yg erat hubungannya dengan Zionis Israel seperti Starbucks, Mont Blanc, dan produk retail lainnya. Tidak cukup hanya retail, tower utama Abraj Albait, yakni Makkah Royal Clock Tower adalah tower yg khusus diperuntukkan untuk Fairmont Group. Baik untuk hotel di lantai 1-27, ataupun untuk Gold Lounge-nya di lantai 28-28G.
Apa dan siapa Fairmont?
Fairmont adalah jaringan bisnis hotel dan hiburan besar di dunia. Pemiliknya adalah Benjamin Swig, seorang Zionis yg juga adalah seorang banker kenamaan dunia. Selain jaringan hotel bintang lima di dunia, Fairmont juga berbisnis casino di Monte Carlo, Las Vegas, Singapore, dan lainnya. Ada hubungan dan deal apa Raja Abdullah ibn Abdulaziz dengan keluarga atau anak buahnya Benjamin Swig, sehingga Fairmont bisa eksis dan kokoh di depan Rumah Allah?
Bagi saya cukup mencengangkan. Dimana sejatinya tempat berdirinya Abraj Albait ini adalah Tanah Suci, Tanah Haram, yg haram bagi non muslim berada di atasnya. Namun, nyatanya hingga detik ini justru adalah di atas Tanah Haram berdiri mesin uang bagi Zionis Israel. Sementara, bangunan-bangunan sejarah dihancurkan dengan alasan menjaga kemurnian tauhid. Menyedihkan, bukan?
Dimana rumahnya Ayahanda Abdullah dan Ibunda Nabi Siti Aminah? Sekarang menjadi perpustakaan yg juga tidak pernah buka sama sekali. Dimana rumah Abu Bakar dan Utsman, kini telah menjadi bangunan Hilton Hotel. Dimana benteng Ajyad tempat tentara Kekhalifahan berdiri tegak menjaga kesucian Masjidil Haram dan Makkah Al Mukarramah? Kini telah menjadi mesin uang Zionis Israel dengan hotel, restoran, minuman, parfum dan barang mewah yg harganya wah.
Bukannya ini hanya muamalah biasa?
Fenomena ini ada pula yg menganggapnya biasa, sebagaimana Sang Raja dulu juga menganggapnya biasa. Halal. Muamalah katanya. Saya menanggapinya dengan mengurai fakta juga bahwa dulu Syarif Husein menerima 7 juta Poundsterling juga beralibi itu uang halal. Hadiah dari Inggris katanya. Demikian juga Ibnu Saud saat menerima ratusan ribu pondsterling per bulan juga dengan alasan halal. Jizyah dari Inggris katanya. Tapi apakah 'hadiah' dan 'jizyah' itu demikian bersih adanya? Sejarah dan fakta sekarang mengatakan tidak.
Ini bukan masalah halal atau haram. Ini masalah propaganda. Jika produk halal dari produsen umat Islam masih ada, kenapa harus membeli produk Zionis sana? Jika Al Marwa Rayhaan Hotel harga dan fasilitasnya sama, kenapa harus ke Fairmont? Jika mengenakan parfum Abdul Somad Al Qurashi atau Arabian Oud itu wangi, mewah dan harganya sama, kenapa harus memilih Mont Blanc? Jika minum kopi di gerai pemilik Muslim sama, kenapa harus ke Starbucks? Jika belanja di Bin Dawood itu bisa, kenapa memilih belanja di Gazzaz? Kecuali tidak ada alternatif, bolehlah. Ini alternatif masih banyak. Tidak perlu kemudian mengundang Zionis Israel menginjak tanah suci, bahkan tepat di depan Masjidil Haram.
Saya marah, kecewa, lalu kemudian menangis sejadi-jadinya jika sedang berada di kawasan ini.
***
Kemudian apa yg bisa kita lakukan adalah bersoa dan berupaya. Kita meminta kepada-Nya agar segala bentuk kezhaliman, penistaan, propaganda dan penipuan di Tanah Suci segera berakhir sambil melakukan ikhtiar optimal dari apa yg kita bisa. Upaya #BoikotProdukYahudi masih dirasa cukup efektif. Maka lakukan. Ajak sebanyak mungkin umat Islam agar mengerti, memahami dan turut serta.
Kita ke Tanah Suci adalah untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Bukan untuk membuat Zionis Israel dan semua pendukungnya semakin kaya, semakin durjana.
La ilaha illaLlahul 'azhimul halim.
La ilaha illaLlahu rabbul 'arsyil 'azhim.
La ilaha illaLlahu rabus samawati wa rabbul ardhi wa rabbul 'arsyil karim...
*insert picture: Benteng Ajyad saat berdiri kokoh dari 1781 hingga 2002. Kini, bahkan puingnya pun sudah tak ada.
Al Haram, 3:13 AM

Sunday, August 6, 2017

Pelukan Intel Natsir

Oleh Yusuf Maulana
Semasa menempuh jenjang sarjana di Al-Azhar, Dr. Sohirin Mohammad Solihin beberapa kali diminta bertemu sang guru, Mohammad Natsir. Jamak diketahui, Natsir begitu menyayangi para kader-kader dakwah. Di forum-forum ilmiah, apalagi terbatas dan eksklusif, kebaikan Natsir mengajak anak didiknya bukan tanpa rancangan.

Seperti dijelaskan Sohirin dalam “Seminar Pemikiran Reformis — siri VIII Mohammad Natsir” yang diadakan Islamic Renaissance Front di Malaysia 23 Juli lalu, suatu ketika dirinya diminta datang ke Arab Saudi, tepatnya di Jeddah. Natsir tengah menghadiri pertemuan Rabithah ‘Alam Islami, organisasi yang turut didirikannya. Sohirin tahu, di Arab Saudi ada mata-mata khusus pemerintah yang mengawasi Natsir. Sang intel seorang muslim, yang tugasnya memantau pergerakan mantan politikus Masyumi itu. Sebabnya: Natsir dicurigai sebagai oposisi penguasa dalam dua rezim, Sukarno dan Suharto. Sang mata-mata dikenali Sohirin sebagai sosok yang anti-Natsir.
Entah dari sumber mana, Sohirin mendengar kabar sang intel tengah sakit amat parah. “Bah, ini ada berita kabar gembira,” kata Sohirin, “Intelijen di sini sedang koma.”
Sohirin bungah dengan sakitnya intel itu karena pergerakan sang guru bakal leluasa tanpa harus dicatat sebagai aktivitas “membahayakan” dalam perspektif rezim yang berkuasa.
Tak dinyana, bukan jawaban senang atau sekadar senyum puas. “Ayo kita tengok dia,” kata Natsir.
“Gimana Abah ini? Dia kan musuh kita?” terheran Sohirin dengan jawaban sang guru.
“Tapi dia kan Muslim?” balas Natsir meyakinkan.
Akhirnya Sohirin luluh. Setelah lokasi rumah sakit sang intel diketahui, mereka pun membesuk. Benar, sang intel tengah terbaring.
Kaget bukan kepalang begitu didapati sosok yang selama ini diawasi dan begitu dibencinya. Ketika Natsir mendekat, ia pun bangkit dan memeluknya seraya menangis tersedu sedan.
“Orang yang paling saya benci ternyata orang yang paling sayang pada saya,” ucapnya. “Sahabat-sahabat kami satu aliran tak ada yang berkunjung pada saya. Ini oposisi yang benci pada saya, dia yang paling sayangi saya.”
Begitulah luas dan luwesnya pergaulan Natsir. Tindak tanduk Natsir menyajikan adab islami, yang kadang kala para pembencinya salah paham atau tak hendak tahu. Natsir sering dilabel, dan berpuas dengan label itu. Tak mau tahu bahwa label pada Natsir sebagai sosok “pemberontak”, pejuang fanatik negara Islam, pengubah Pancasila, dan banyak label tak sedap lainnya hanya tafsiran yang jauh panggang dari api.
Perlu bukti langsung di depan mata barangkali agar mata batin pembencinya terbuka, layaknya dalam kasus intel di Jeddah tadi. Hari ini pun nama Natsir masih membawa aura “angker” dan fobia bagi kalangan tertentu, yang paradoksnya di waktu lain mereka acap berkoar “saya Pancasila”, “NKRI harga mati” dan syair keindahan slogan kebangsaan semacamnya.
Ada pula sebagian anak bangsa di sini, dan mereka muslim, memandang seolah Natsir lebih hina dan buruk dengan argumen ia sebagai pejuang anti-Pancasila. Sebuah penyimpulan yang gegabah. Lupa siapa yang berjuang dalam perumusan dasar negara, mosi integral NKRI, sampai pemecah deadlock hubungan diplomatik RI-Malaysia.
“Tak saya dapati satu (pun) agenda tertulis Natsir ingin mendirikan negara Islam,” papar Sohirin, yang menulis buku laris _Mohammad Natsir: Islamic Intellectualism and Activism in the Modern Age (2013)_ dan associate professor di International Islamic University Malaysia. Demikian juga dalam _tathbiq asy-syariah_, impelementasi konstitusi syariah, Natsir bukan sosok yang berobsesi (formalis) ke sana.
Islam yang dipahami Natsir tak menanti hadirnya institusi formal demi tegaknya syariat. Sebab syariat pun tegak dalam keseharian melalui adab-adab sebagaimana dalam kasus di Jeddah di atas. Di sisi lain, tanpa harus berbusa-busa mendaku diri paling Pancasilalah, cinta NKRI-lah, dan semacamnya, Natsir sudah lakukan misi-misi kebangsaan penting. Amat berbeda dengan sebagian kita yang masih berpuas dengan performa penyajian diri di media sosial hanya karena gandrung pada syair keindahan saleh mencatut Pancasila. []

Jihad Menteri Agama

“Mengapa HMI ingin dibubarkan? Apakah HMI sudah pernah Bapak panggil untuk dinasihati? Mohon dipertimbangkan sekali lagi!” Jawab K.H. Saifuddin Zuhri, Menteri Agama kala itu, saat ditanya Presiden Sukarno terkait rencana membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam.

“Kalau HMI bubar NU ‘kan untung, PMII makin besar!”
Tanggapan Sukarno tidak keliru. Kalkulasi politiknya memang benar; kekuatan HMI dengan mudah dilibas, dan yang diuntungkan tentu anasir NU berikut sayap-sayapnya.
Amat menarik tanggapan Kiai Saifuddin Zuhri atas “imingan” Sukarno.
“Soalnya bukan masalah untung atau bukan. Sulit buat saya selagi masih Menteri Agama ada organisasi Islam yang dibubarkan tanpa alasan kuat!”
Dalam memoarnya yang berjudul _Berangkat dari Pesantren_ (1987), Pak Kiai menyebutkan situasi batinnya sebagai “memberanikan diri untuk _qulil haqqa walau kaana murra…!_
Berkata benar meski pahit pada sang atasan yang dihormati amatlah berisiko, baik pribadi, keluarga, apatah lagi partai/kelompok Pak Kiai. Inilah sebuah dakwah sekaligus jihad; membela kebenaran dan keadilan di depan penguasa langsung. Dan mencela praktik lali penguasa tanpa harus menjatuhkan kehormatannya.
“Bukan membela HMI, Pak! Saya tidak ingin Presiden berbuat berlebihan. Itu termasuk tugas kami para pembantu Presiden,” mantap Pak Kiai ketika disangka beralih haluan membela HMI.
Ringkas cerita, andil Pak Kiai Saifuddin Zuhri turut menyelamatkan eksistensi HMI. Tahniah dan patut kiranya muslimin mengetahui ihwal ini. Meski sayangnya jasa tersebut “belum” diulang untuk ditiru oleh anaknya ke-11, sosok yang juga menjabat di kursi yang sama hari ini.
Pak Menteri Agama putra Pak Kiai Zuhri sejatinya dinanti banyak muslimin; bukan semata dari kelompok atau partai atau kalangan sehaluan di pemerintahan. Ada banyak saudara seiman yang mengharap bayan dan minda yang tegas; bukan terus-menerus menyebar syubhat, polemik, atau bahkan cibiran yang tak relevan. Mungkin umat masih dangkal berpikir atau lemah menilai motif sebenarnya di diri Menteri Agama putra Pak Kiai Zuhri. Tapi, acap kalinya membuat yang jelas jadi samar atau sebaliknya samar menjadi jelas, ini memperlihatkan kadar kenegarawanan putra Pak Kiai Zuhri.
Semoga saja ada titik ketika nurani Pak Menteri Agama sekarang meruah; mendesak teramat untuk membela keadilan yang hari ini seolah asing bagi muslimin yang tidak sepihak dengan kekuasaan. Bukan senantiasa asyik menikmati bingkai positif menurut media pembela kekuasaan.
Semoga Lukman Hakim bin Saifuddin Zuhri mengingat momen di era Demokrasi Terpimpin itu, atau bahkan tatkala eyang buyutnya Haji Jakfar berjihad melawan Belanda bersama Pangeran Dipanegara di Bagelen.

Thursday, August 3, 2017

Dualitas Gelombang-Partikel—Prinsip Komplementer

Efek fotolistrik, efek Compton, dan percobaan lain telah menempatkan teori cahaya partikel pada basis percobaan yang kuat. Namun bagaimana dengan percobaan Young dan lainnya terhadap interferensi dan difraksi yang telah menunjukkan bahwa teori cahaya gelombang juga mempunyai sebuah landasan percobaan yang kuat.
Cahaya bisa bersifat seperti Gelombang dan juga Partikel

Kita terlihat seperti dalam dilemma. Beberapa percobaan menandakan bahwa cahaya bertingkah laku seperti sebuah gelombang; percobaan yang lain menandakan bahwa cahaya bertingkah laku seperti sebuah aliran partikel. Kedua teori ini seperti tidak cocok satu sama lain, namun keduanya telah menunjukkan validitas. Fisikawan akhirnya mengambil kesimpulan bahwa dualitas cahaya ini harus diterima sebagai kenyataan hidup. Fakta ini dianggap sebagai dualitas partikel-gelombang. Kelihatannya, cahaya adalah sebuah fenomena yang lebih kompleks daripada sekedar sebuah gelombang sederhana atau sebuah berkas partikel sederhana.
Untuk menjelaskan situasi ini, fisikawan Denmark Niels Bohr(1885-1962) mengusulkan prinsip komplementer, teori tersebut menyatakan bahwa untuk memahami sebuah percobahan, terkadang kita menemukan sebuah penjelasan yang menggunakan teori gelombang dan terkadang menggunakan teori partikel. Namun, kita harus sadar tentang kedua aspek cahaya yaitu gelombang dan partikel jika kita ingin mempunyai pemahaman penuh tentang cahaya. Oleh karena itu kedua aspek cahaya ini melengkapi satu sama lain.

Tidaklah mudah untuk menggambarkan dualitas ini. Kita tidak bisa dengan mantap menggambarkan sebuah kombinasi gelombang dan partikel. Dari pada itu, kita harus mengenali bahwa dua aspek dari cahaya adalah wajah berbeda dari cahaya yang ditunjukkan pada percobaan-percobaan.
Bagian dari cabang kesulitan berasal dari bagaimana kita berpikir.