Beranikah Militer AS, Perancis, dan Inggris Menyerang Suriah? ini Analisanya

Pasca serangan senjata kimia di wilayah terkepung Ghouta Suriah, dari presiden Erdogan sampai Presiden Donald Trump mengutuk serangan tersebut. Ini analisa tentang ancaman Donald Trump terhadap rezim Assad. Admin mengambil dari akun fb bernama Saief Alemdar. Judul hanya tambahan dari admin, sedangkan Konten tulisan dan gambar diambil dari akun Fb bersangkutan, selamat membaca
Presiden Donald Trump yang minggu lalu mengatakan akan menarik pasukannya dari Suriah telah memutuskan untuk menunda kunjungannya ke Peru pada Jumat dan Sabtu mendatang, karena ingin fokus pada isu penggunaan senjata Kimia di Suriah, pada saat yang sama Trump juga mengancam akan mengirim kapal perang yang dilengkapi dengan rudal Tomahawk ke Perairan Suriah.

Dibalik "ganas"nya pernyataan Trump dan The Hammalatal Hatab ll di sidang PBB, ternyata ada veteran Kolonel AS yang bersikap berbeda, yaitu Kol.(Purn). Patrick Lang, mantan pasukan Khusus AS dan juga mantan anggota Military Intelligence AS, disamping pakar Timteng dan juga pernah mendapat gelar First Professor of Arabic at the USA Military Academy.
Lang meminta kepada Menhan AS James Mattis, " I beseech you, sir, to consider the possibility that the supposed chlorine gas attack at Douma, Syria may have been a carefully constructed propaganda fraud on the part of rebels encircled in Douma. Such a fraud would have its purpose the elicitation of exactly the kind of response that we are seeing in Western media. The rebels have been defeated in Eastern Ghouta, their fighters and families are being evacuated to Turkish occupied Jarablus by air-conditioned bus. Hiw would it benefit the Syrian government to make such an attack in this situation?
I hope that you will determine the exact facts of what occured at Douma before any action is taken".
Tampaknya Menhan Mattis tidak akan mengindahkan surat Lang itu, alasannya sederhana, karena Trump dan The Hammalatal Hatab ll sudah terlanjur mengancam akan menyerang Suriah di depan media, malu dong kalau setingkat Presiden Trump tidak menepati janji, apalagi janji yang diucapkan dengan penuh dengan rasa superioritas!
Semua indikator menunjukkan bahwa AS, Perancis dan Inggris akan segera menyerang Suriah, sebagai kanjutan atas serangan Israel kemarin pagi ke airport Teyfour di dekat Homs, yang menewaskan 14 tentara Suriah dan Iran.
Serangan AS, Perancis, Inggris plus Arab Saudi (baru saja dikonfirmasi kesiapannya oleh MBS) tidak akan mengubah fakta di lapangan bahwa Tentara Suriah telah merebut sebagian besar wilayah Suriah dari tangan kelompok Oposisi, dan tidak ada lagi pembicaraan tentang masa depan Presiden Suriah.
Satu-satunya hal yang dapat mengubah kenyataan itu adalah invasi militer AS ke Suriah dalam skala yang besar, seperti invasi mereka ke Irak tahun 2003, dan itu tampaknya tidak mungkin, setidaknya dengan indikator yang ada saat ini, karena konsekuensinya akan berat, mengingat AS akan bentrok langsung dengan Rusia.
Trump terlanjur berjanji akan menyerang Suriah dalam 2 x 24 jam (dimulai sejak kemarin), tentunya tidak enak kalau harus menelan ludah sendiri, makanya kalau memang akan menyerang pasti yang diserang hanya instalasi militer Suriah saja, tanpa menyentuh instalasi militer Rusia, ya yang penting ada lah, biar nggak malu.
Panglima Angkatan Bersenjata Rusia, Jend. Valery Gerasimov juga sudah mengingatkan bahwa Rusia akan membalas serangan apapun yang mengancam tentara Rusia di Suriah, bukan saja menjatuhkan rudal yang menyerang, tetapi akan menghancurkan sumber rudal tersebut!
Sementara itu, The Last Gunslinger tidak mengomentari apa-apa atas wacana penyerangan AS Cs ke Suriah. Tampaknya, beberapa jam ke depan adalah jam yang sangat menegangkan di Kawasan sejak beberapa puluh tahun terakhir, jam yang akan menjadi penentu.
Rusia yang dulu pernah dikalahkan di Afghanistan, dieliminasi di Irak, dikibuli di Libya, apakah akan menerima nasib yang sama di Suriah? Sulit dijawab, karena banyak hal yang perlu dipertimbangkan, biarlah waktu yang menjawab...Tahrir Rakyul Youm.

Comments