Monday, April 23, 2018

Dulu Sayyid Quthb seorang Pemikir Liberal, Kini Dikenal sebagai Pemikir Islam Kontemporer

Banyak yang tidak tahu bahwa Sayyid Quthb itu dulunya seorang liberal. Sangat gigih memperkenalkan pemikiran liberalnya. Dalam perjalanan hidupnya, karena satu peristiwa, ia hijrah membela Islam. Ia tak kenal rasa takut menyampaikan kebenaran di depan penguasa walaupun pahit. Karena tulisannya, ia syahid dalam tiang gantungan oleh rezim militer di Mesir. Yuk simak artikelnya;

(Salah satu karya Sayyid Quthb, Ma'alim fit Thoriq)

As Syahid Sayyid Quthb, sebelum mengenal Ikhwanul Muslimin adalah pemikir besar islam "liberal" yang sangat anti Ikhwan dan Hasan Al Banna.

Namun, setelah para polisi rahasia Raja Farouk menembak Imam Syahid Hasan Al Banna, dan diadakannya pesta pora di barat dan Eropa saat itu untuk merayakan pembunuhan Al Banna tersebut, mata Sayyid Quthb terbuka lebar, kenapa kaum kafir sangat bangga atas wafatnya al alBanna.
Singkat cerita, Sayyid Quthb sang Bos "Liberal" yang pernah menuntut ilmu di dunia barat itu pulang kampung, mempelajari al ikhwan, masuk ke dalam al ikhwan, dan akhirnya menjadi ulama besar ikhwan sampai ajal nya tiba sebagai mujahid ikhwan, awal nya terlihat nyeleneh, akhirnya adalah pahlawan.
Khalid Muhammad Khalid, Ulama besar penulis kitab fenomenal " Rijal Haula Rasul" adalah awalnya masuk kategori liberalis, sebelumnya beliau menulis pemikiran liberal nya dalam kitab "min huna nabda" yang kemudian kitab ini dibantah oleh ulama besar ikhwan Yusuf alQardhawi yang menulis buku bantahan nya dengan judul" min huna na'lam".
Khalid Muhammad Khalid mengakui "kesalahan" nya, dan alQardhawi memuji Khalid, beliau mengatakan, anda tidak liberal, anda adalah pemikir besar islam abad ini, pemikiran Khalid tidak sesat, namun butuh ulama besar sekeliber alQardhawi untuk meluruskannya.
Begitulah adab dalam ilmu, kadang terlihat liberal bukan karena dia liberal, tapi karena level berpikirnya jauh diatas rata rata manusia pada waktu itu, sehingga yang dibutuhkan adalah bukan langsung disalahkan, yang dibutuhkan adalah ulama besar juga yang siap mengoreksi dia dengan penuh cinta, naratif, dan ilmiah, bukan pakai mantra mantra dan jimat ala dukun.
AlQardhawi juga pernah berbeda pendapat dengan Gurunya Muhammad al Ghazali, namun al Ghazali tidak merasa paling jago walaupun alQardhawi adalah muridnya dahulu, alGhazali dada nya lapang, beliau pernah memuji alQardhawi, beliau mengatakan" dulu saya adalah gurumu, saat ini kamu adalah ustadzku", wajar, alQardhawi dan alGazali adalah guru dan murid penerima hadiah "Nobel" tertinggi dalam dunia islam "King Faisal Award" dari kerajaan Arab Saudi dalam bidang khidmah kepada islam dan muslimin.
Sama hal nya dengan pemikiran besar Syaikhul islam Ibnu Taimiyah, pemikiran beliau baru diakui dan dan dibukukan, 90 tahun pasca beliau wafat, sedangkan semasa hidup nya, cukup besar jumlah orang yang menetang pemikiran dan narasi besar islam nya.
Jangan mudah menilai buruk narasi orang lain hanya karena kita belum paham utuh pangkal ujungnya, tirulah sikap alGazali terhadap alQardhawi, tirulah adab alQardhawi terhadap Khalid Muhammad Khalid dan sebaliknya adab Khalid terhadap alQardhawi.
Islam itu ilmu, gak ada ilmu tanpa islam, tidak ada islam tanpa ilmu, tidak ada dakwah tanpa ilmu, dan ilmu sebelum amal.
Allahumma ya Allah..La ilma lana illa ma allamtana.
Sungguh kebenaran itu jauh lebih kita cintai daripada oknum, cinta dan benci harus karena Allah
Ajarkanlah kami ilmu yang banyak ya Robb, dan bantu kami untuk mengamalkan ilmu ilmu tersebut.

Tengku Zulkifli Usman.





Sumber ; Fb



Artikel Terkait