Saturday, April 7, 2018

Operasi Militer Turki di Membej (Suriah), Tidak Hanya Akan Menghadapi Pasukan Kurdi&AS, Tapi juga Perancis*

Perang besar Presiden Recep Tayyip Erdogan saat ini bukanlah di Tel Rif’at, tetapi dengan rivalnya, Presiden Emanuel Macron dan pemerintahannya, karena pada akhirnya Macron telah memutuskan untuk memihak secara politik dan militer kepada sehabatnya AS dengan mengirimkan pasukan Perancis ke Membej untuk bertempur side by side dengan pasukan SDF, selain itu Macron juga telah mengaskan dukungan penuhnya terhadap SDF dan proyek pendirian Negara Kurdi Raya sepanjangn perbatasan Suriah-Turki.

Uni Eropa dan Perancis khususnya semakin menyadari bahwa peran dan pengaruhnya di Suriah karena Trio Rusia, Turki dan Iran yang semakin kuat, makanya Uni Eropa dan Perancis berusaha untuk meraih kembali pengaruhnya di Suriah melalui isu Kurdi, kali saja dengan itu Uni Eropa mendapatkan kuris di meja perundingan dalam rangka mencapai solusi politis, dan dengan itu mendapatkan cipratan jatah proyek Rebuild Syria.

Hal yang membuat Turki dongkol sekali dengan Perancis adalah karena Presiden Macron menerima Delagasi Kurdi pada Februari lalu di Élysée Palace dan melegitimasi SDF yang dianggap sebagai kelompok teroris separatis oleh Turki, selain itu usulan Perancis untuk memediasi dialog Turki-Kurdi dianggap sebagai sebuah penghinaan terhadap Turki yang sulit dimaafkan. Presiden Erdogan mengatakan, “Orang yang menerima kelompok teroris separatis di Istananya, cepat atau lambat akan sadar bahwa mereka telah salah!”. Sementara itu, Bekir Bozdag, Wakil PM Turki mengancam Perancis, “Kita akan memperlakukan semua pihak yang bekerjasama dengan teroris seperti memperlakukan teroris, semuanya akan menjadi target Turki!”.
*****
Entah bagaimana pasukan Perancis yang sudah tiba di Membej lengkap dengan persenjataan berat dan sudah bergabung dengan pasukan AS akan menjadi target Turki, tetapi setidaknya kita dapat memprediksikan dua cara:
Pertama: Turki menghajar lokasi pasukan Perancis di Membej dengan rudal yang dapat menyebabkan kerugian besar bagi Perancis, sehingga dengan itu opini umum rakyat Perancis akan berbalik menyerang pemerintahan Macron.
Kedua: Turki bisa saja menggunakan milisia pendukungnya di dalam Membej atau di sekitarnya untuk melakukan perang gerilya melawan pasukan Perancis, dan itu sangat efektif.
Menguasai Tel Rif’at di pinggiran Aleppo merupakan langkah awal bagi Turki untuk memasuki Membej. Media Turki menyebutkan bahwa pemerintah Turki sudah bertekad untuk merebut Membej, whatever it takes. Turki menganggap perang Membej adalah puncak Operasi Ranting Zaitun, karena meneruskan perang lebih baik daripada mundur pada saat publik Turki secara tegas mendukung langkah Pemerintah Erdogan.
Selain itu, Operasi militer yang dilancarkan Turki di Afrin, Tel Rif’at dan mungkin ke depan di Membej sudah dikoordinasikan dengan Rusia dan “diberkati” oleh Suriah serta Iran, karena Suriah dan Iran juga memiliki kepentingan agar janin negara Kurdi diaborsi sebelum lahir.
Dr. Haitham Manna, salah satu aktivis HAM dan pentolan Oposisi senior Suriah mengatakan bahwa Turki sudah mengambil keputusan untuk mengubur 3 kantong penting pasukan Kurdi di Suriah (Afrin, Membej, Kobane). Menurut Manna, bahwa Operasi Ranting Zaitun lebih didominasi oleh faktor ekonomi dan demografi, disamping faktor politis demi kepentingan dalam Turki.
Menurut Manna juga, selama 7 tahun perang Suriah tidak sepeser pun Turki mengeluarkan dana untuk membiaya kelompok oposisi, selama ini yang membiayai adalah Qatar, Arab Saudi dan AS. Kini, dana dari Qatar dan Saudi sudah berkurang, dan AS pun demikian, maka Turki harus menanggung perang ini sendirian, dan itu tidak mungkin. Saat ini pemerintahan Erdogan sedang ditekan oleh public untuk segera membereskan maslaah 3,5 juta pengungsi Suriah yang ada di Turki, makanya satu-satunya solusi cepat adalah dengan mendirikan safe-zone di Utara Suriah dengan “menyingkirkan” Kurdi.
****
Pernyataan menarik dari Presiden Erdogan dalam jumpa pers KTT Istanbul antara The Sultan dengan The last Gunslinger, dan sepertinya summary atas apa yang sedang terjadi di Suriah saat ini, “ Sejak hari pertama dimulai Operasi Ranting Zaitun, Rusia mengetahui semua rencana serta gerak-gerik militer Turki dan mendukungnya”, the Last Gunlinger terlihat menganggukkan kepala dan tidak mendeny-nya.
Anyway, AS sudah kalah dalam perang di Suriah, meskipun Trump tidak jadi menarik pasukannya dari Membej tidak akan mengubah kenyataan ini, seperti halnya 100 pasukan Perancis yang baru bergabung ke Membej tidak akan membuat perubahan yang berarti. Itu hanya opini, kalau faktanya biarlah waktu yang menjawab. Tahrir Rakyul Youm.
*Keterangan : Judul hanya tamabahan dari admin Warnus. Sementara konten tulisan dan gambar diambil dari akun Fb penulis tanpa ada pengurangan sama sekali.

Artikel Terkait