Sunday, April 1, 2018

Syaikh Yasin Al-Fadani, Pemilik Sanad Terbanyak di Dunia


Ulama Indonesia yang menjadi kebanggaan Haramain (Mekkah dan Madinah) 

Indonesia punya banyak ulama kaliber dunia. Salah satunya adalah Syaikh Yasin al-Fadani. Ulama berdarah Padang yang tinggal di Makkah ini mendapat julukan al-musnid dunya (pemilik sanad terbanyak di dunia).

Sebuah gelar yang tak main-main, karena itu hanya disematkan kepada ulama besar dalam bidang ilmu sanad yang memiliki keluasan periwayatan dan berguru pada banyak Syaikh. Selain itu juga menyampaikan Hadist kepada banyak orang.


Namun memang  Syaikh Yasin layak mendapat gelar tersebut. Sejak muda ia gigih mengumpulkan sanad Hadist. Untuk mendapatkannya, dia rela bersafari ke berbagai negara seperti Suriah, Lebanon, Palestina, Yaman, Mesir, Maroko, Iraq, Pakistan, Rusia, India, Indonesia, dan Malaysia. Ada lebih dari 700 ulama yang menjadi gurunya.

Hasilnya, keahlian Syaikh Yasin dalam periwayatan Hadist diakui banyak ulama. Habib Segaf bin Muhammad As-Segaf, salah seorang ulama dari Hadramaut, Yaman, mengagumi keilmuan Syaikh Yasin sehingga menyebutnya Sayuthiyyuh Zamanihi (Imam as-Sayuthi di zamannya). Ahli Hadist dari Maroko, Sayyid Abdul Aziz al-Qumari, bahkan menjulukinya sebagai ulama kebanggaan Haramain (Makkah dan Madinah).

Syaikh Yasin menulis kitab dalam bidang Hadist sebanyak 9 kitab. Juga menulis 25 kitab tentang ilmu fiqh dan ushul fiqh, 36 kitab tentang ilmu astronomi (falak), dan sisanya tentang ilmu-ilmu lain. Jumlah karya ulama yang satu ini mencapai sekitar 100 kitab.

Kitab-kitab tersebut tertulis dalam bahasa Arab dengan susunan bahasa yang tinggi dan sistematis, serta isinya yang padat dan mudah difahami. Karenanya karya tersebut dijadikan rujukan lembaga-lembaga Islam dan pondok pesantren, baik di Arab Saudi maupun di kawasan Asia Tenggara. Kitabnya yang paling terkenal, al-Fawaid al-Janiyyah, menjadi materi silabus dalam mata kuliah Ushul Fiqh di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Yang mengagumkan dari sosok Syaikh Yasin tak hanya karena keluasan ilmunya, namun juga kesederhanaannya. Ia tidak segan-segan keluar-masuk pasar memikul dan menenteng sendiri sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dengan memakai kaos oblong dan sarung, ia juga sering berbincang akrab dengan warga sekitar di warung teh.

Apabila musim haji tiba, Syaikh Yasin biasanya mengundang ulama-ulama dunia dan pelajar untuk berkunjung ke rumahnya. Mereka kemudian terlibat diskusi yang mengasyikkan. Tak sedikit dari para ulama itu yang meminta ijazah sanad Hadist darinya.

Namun meski musim haji sudah berlalu, rumahnya selalu ramai dikunjungi para ulama dan pelajar dari berbagai negara. Mereka semua ingin berguru dan menuntut ilmu.

PENGAJAR DI MASJIDIL HARAM

Nama lengkapnya Syaikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa al-Fadani. Lahir di Makkah, Arab Saudi, 17 Juni 1915. Sejak kecil, Yasin mempelajari Islam dari ayahnya, Syaikh Muhammad Isa.
Ketika anak-anak, Yasin sudah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Bahkan saat menginjak usia remaja, ia mampu mengungguli rekan-rekannya dalam penguasaan ilmu Hadist dan Fiqh sehingga para guru mengaguminya.

Secara formal Yasin muda mengenyam pendidikan di Madrasah ash-Shaulathiyyah al-Hindiyah. Namun sekitar tahun 1353 H/1934 M, terjadi konflik yang menyangkut nasionalisme. Salah seorang guru di madrasah itu merobek surat kabar Melayu. Akibatnya, para pelajar Nusantara merasa dilecehkan martabat melayunya.

Para pelajar asal Melayu, termasuk Yasin, kemudian memberikan perlawanan dengan cara pindah ke Madrasah Darul Ulum. Madrasah ini didirikan oleh Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa dan beberapa pemuka masyarakat Nusantara yang berada di Makkah. Yasin adalah angkatan pertama lembaga tersebut.

Selain mengenyam pendidikan formal, ulama bermazhab Syafi’i ini juga berguru pada ulama-ulama besar Timur Tengah. Misalnya belajar Ilmu Hadist kepada ulama Hadist Haramain yaitu Syaikh Umar Hamdan dan Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki.

Yasin juga belajar fiqh mazhab Syafi’i kepada Syaikh Umar Ba Junaid. Mufti Syafi’iyyah Makkah, Syaikh Sa’id bin Muhammad al-Yamani, dan Syaikh Hassan al-Yamani. Sedangkan dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh, ia belajar kepada Syaikh Muhsin bin ‘Ali al-Masawi al-Palimbani al-Makki keturunan Palembang yang tinggal di Makkah. Juga belajar kepada Syaikh Abdullah Muhammad Ghazi al-Makki, Syaikh Ibrahim bin Daud al-Ghathani al-Makki, serta ulama-ulama berpengaruh lainnya.

Setelah tamat dari Darul Ulum, Yasin didaulat sebagai pengurusnya. Sejak itu ia aktif mengajar di almamaternya dan juga di Masjidil Haram. Bidang yang diajarkan utamanya ialah Ilmu Hadits.

Setiap bulan Ramadhan, syaikh Yasin selalu membaca dan mengijazahkan salah satu di antara Kutub as-Sittah kepada murid-muridnya. Hal itu berlangsung selama kurang lebih 15 tahun.

Pada tahun1362 H/1943 M, Syaikh Yasin mendirikan sebuah lembaga pendidikan khusus perempuan. Ini menjadi lembaga pendidikan khusus perempuan pertama di Arab Saudi.

Meskipun lahir dan tumbuh di Makkah, Syaikh Yasin sering mengunjungi Indonesia. Salah satu jasa besarnya ialah memperkenalkan tokoh-tokoh Nusantara ke dunia.

Melalui pengaruhnya, perawi-perawi Arab dan bukan Melayu mengenal istilah “Kyai” yang merupakan istilah Jawa bermakna Syaikh, Ustadz, atau orang alim.

Banyak ulama Indonesia yang mendapat ijazah dan sanad darinya. Ada juga tokoh Nusantara yang diberi gelar oleh Syaikh Yasin al-Fadani dengan gelar ahli Hadist, misalnya Sayyid Syaikh bin Ahmad Bafaqih dari Surabaya.

Syaikh Yasin al-Fadani wafat pada jum’at Shubuh, 28 Dzulhijjah 1410 H di usianya yang ke-75. Beliau dishalatkan seusai shalat jumat dan dimakamkan di pekuburan al-Ma’la, Makkah. Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah

Keterangan : artikel ini diambil dari majalah Hidayatullah edisi II/XXIX/Maret 2018/Jumadil Akhir 1439

Artikel Terkait

1 komentar so far

This comment has been removed by a blog administrator.