Wednesday, May 30, 2018

Belajar Negarawan dari Sosok Fahri Hamzah

Oleh Dedy Dewa Wahyudi

Kita sering mendengar kalimat pemimpin negarawan dan selalu dikaitkan dengan politisi, namun Thomas Jefferson memiliki definisi bagus tentang perbedaan negarawan dan politisi. Menurutnya politisi memikirkan pemilihan yang akan datang, sementara negarawan memikirkan generasi yang akan datang. Politisi menyibukkan diri dengan pertanyaan 3W 1H, dan negarawan 2W (Why and Where).
Banyak pemimpin berpikir dengan mindset seorang politisi, namun jarang pemimpin yang memiliki pola pikir negarawan

Pemimpin negarawan menempatkan soal kebangsaan diatas soal kepentingan politik diri
Dibutuhkan proses pendewasaan dalam berpolitik untuk menjadi pemimpin yang negarawan
Karena pemimpin yang mengedepankan emosional tak ubahnya politisi kelas kampungan, tidak siap menerima perbedaan pendapat, serta tidak siap untuk menghadapi persaingan dalam politik
Dimasa kekinian, kita bisa belajar pemimpin negarawan dari sosok Fahri Hamzah
Bagaimana sosok tersebut mampu memanjemen perbedaan politik dalam kaidah kebutuhan kebangsaan
Sikap kritis dan apa adanya Fahri Hamzah Full terhadap situasi negeri, tidak menutup dirinya untuk bisa satu meja atau satu forum dengan pemimpin saat ini yang sering mendapat kritikannya
Perbedaan dalam cara pandang politik mengurusi negeri tidak lantas menjadi ajang membangun kebencian yang mengedepankan emosional
Fahri Hamzah masih membangun komunikasi dengan Jokowi ataupun lawan politik yang tidak seide pemikiran, serta masih bisa satu meja dan satu tempat diberbagai acara atau forum
Negeri ini, mungkin sudah biasa ditampilkan wajah politik yang mengedepankan emosional serta politik baper seperti yang dicontohkan oleh salah satu ketua umum partai kepada salah satu ketua umum partai lainnya
Bagaimana negeri ini harus bisa merasakan ketidaksukaan atau ketidakharmonisan hubungan yang terjadi diantara mereka
Tanpa disadari, itu menjadi pendidikan politik yang ditampilkan oleh pemimpin negeri
Sampai saat ini, publik masih menyangsikan ketulusan penerimaan sang ketua umum sebuah partai kepada lawan politiknya dari ketua umum partai lainnya itu
Penampilan ketidakdewasaan serta pembawaan perasaan (baper) sempat menjadi wajah perpolitikan negeri
Dari hal yang ditampilkan diatas, fenomena yang ditampilkan oleh Fahri Hamzah seolah memberi arti pembeda
Sikap kritis dan perbedaan pandangan politik antara Fahri Hamzah dengan gaya memimpin Jokowi tidak lantas membuatnya tidak mau satu meja atau satu forum
Apa yang ditampilkan Fahri Hamzah adalah sebuah pendidikan politik sederhana yaitu bagaimana menjadi pemimpin negarawan
Pemimpin yang mengedepankan soal kebangsaan diatas perbedaan serta friksi pemikiran yang terjadi diantara keduanya
Dan itu bisa menjadi sebuah harapan, sudah saatnya pendidikan politik yang baik ditampilkan ke publik, agar bangsa ini siap berpolitik dewasa tanpa mengedepankan politik baper
Dan kita bisa belajar soal pemimpin negarawan tersebut kepada sosok Fahri Hamzah
Perbedaan politik itu biasa terjadi, tetapi sebagai sesama anak bangsa istilah satu meja harus bisa terjadi tanpa ada sekat lagi
Namun perbedaan pandangan politik serta sikap kritis haruslah tetap hadir
Satu meja bukan pula berarti satu meja politik, tetapi sebuah satu meja kebangsaan dan itulah pentingnya tampilan untuk sebuah pendidikan politik untuk negeri

@bang_dw





*Sumber : Fb.  

Artikel Terkait