Thursday, October 11, 2018

DIALEK AL-FATIHAH (BAG. 2)

oleh Laili al-Fadhli

Sebagian orang Sunda juga kalau mengatakan surat Al-Fatihah biasanya "Patehah". Sebagimana sebagian orang Betawi kalau mengucapkan tiga surat terakhir Al-Quran biasanya mengucapkan: "Kulhu, Palak, Binnas."

Tidak masalah menyebut nama surat dengan dialek daerah, yang penting baca ayatnya benar dan fasih. Jangan sampai menyebutkan nama suratnya benar, tapi baca ayatnya masih berantakan.

Misalnya: tdak bisa membedakan antara هـ dengan ح. Atau ء dengan ع. Atau ش dengan ص dan س. Atau ض dengan ظ dan د.

Kesalahan lainnya adalah pada persoalan huruf bertasydid. Sebagian orang masih banyak tergesa-gesa dalam membaca huruf bertasydid, sedangkan sebagian lagi malah mentasydidkan huruf yang tidak seharusnya dibaca tasydid.

Terlebih huruf Ya (ي) bertasydid yang tidak boleh dibaca memanjang karena nanti malah menjadi mad atau mirip dengan idgham bighunnah.

Dan tahukah Anda bahwa cara membaca huruf bertasydid setidaknya ada 4:

1. Huruf-huruf syiddah yang dibaca kuat dan terputus suaranya.

2. Huruf-huruf rakhawah yang dibaca mengalir suaranya sampai mengucapkan huruf berikutnya.

3. Huruf bayniyyah selain ghunnah yang diucapkan di antara huruf-huruf rakhawah dan syiddah.

4. Huruf ghunnah yang memanjang suaranya sambil mengalirkan suara melalui rongga hidung.

Apakah Anda sudah memahami semua itu? Apakah Anda sudah mengetahui huruf-huruf rakhawah, bayniyyah, syiddah, dan ghunnah?

Juga dalam persoalan tafkhim dan tarqiq. Pengucapan huruf-huruf tebal dan tipis. Apakah Anda yakin memahami kapan huruf Ra (ر) dibaca tebal dan kapan huruf Ra dibaca tipis?

Juga dalam persoalan mad. Apakah Anda telah memahami bahwa mad mesti dibaca konsisten? Apakah Anda telah memahami bahwa mad asli hanya dibaca dua harakat. Tidak lebih dan tidak kurang. Apakah Anda yakin telah membaca mad asli secara konsisten dua harakat?

Belum lagi berbicara kesempurnaan sifat liin pada kata (ملك يوم الدين) dan konsistensi mad 'aridh lissukuun atau mad lazim. Disusul cara membaca mad lazim mutsaqqal yang agak berbeda dengan mad lazim mukhaffaf. Sehingga cara mengucapkan Lam pada kata (الضالين) mesti sedikit ditekan, namun sifat bayniyyahnya mesti tetap tampak.

Dan sebagian orang masih terlalu sering memantulkan huruf-huruf yang bukan qalqalah seperti Lam, Nun, Mim, atau Ghain. Sedangkan saat bertemu huruf qalqalah pada surat yang lain malah tidak dipantulkan.

Maka dari itu, salurkan saja energi Anda untuk mempelajari cara membaca ayat Al-Fatihah yang benar. Karena sangat mungkin sekali Anda yang tertawa geli mendengar "al-patekah" lalu ikut-ikutan nyinyir menyebarkannya, justru saat membaca ayat lebih banyak salahnya daripada benarnya.

Padahal, bacaan ayat-ayat Al-Fatihah itu sangat menentukan keabsahan shalat. Dan salah satu syarat sahnya seorang imam adalah bisa membaca tujuh ayat surat Al-Fatihah tanpa mengubah makna. Apakah Anda sudah memenuhi syaratnya, wahai para imam dan calon imam?

Sekali lagi, yuk belajar Al-Fatihah dengan benar.

- Laili Al-Fadhli -

Sumber : FB

Artikel Terkait