Monday, October 8, 2018

Misteri Hilangnya Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khassoggi

Oleh Saief Alemdar

Sampai saat ini berita tentang “hilangnya” jurnalis Arab Saudi, Jamal Khassoggi masih simpang siur, kemarin pemerintah Turki menyatakan bahwa Khashoggi masih berada di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul, berita lainnya menyebutkan bahwa melalui CCTV terlihat Khashoggi sudah keluar dari Konsulat Saudi dan mungkin saja diculik untuk kemudian diterbangkan ke Riyadh. Lebih parah lagi Washington Post melansir pernyataan dari salah satu Pejabat Turki bahwa Khashoggi telah dieksekusi di dalam Konsulat Saudi!

Berdasarkan Konvensi Wina, Kedutaan Asing merupakan wilayah kedaulatan asing, Turki tidak bisa sembarangan memasukinya. Kalaupun Khashoggi masuk ke Konsulat Arab Saudi, maka nasibnya akan seperti Julian Assange, pemiliki Wikileaks yang dulu mencari suaka di Kedutaan Ekuador di London pada tahun 2012. Bedanya, Khashoggi akan mendekam di Konsulat itu sebagai tawanan, dan nasibnya tergantung pada negosiasi pemerintah Arab Saudi dan Turki. Lebih lanjut, tidak menutup kemungkinan SWAT Turki akan memasuki Konsulat secara paksa, atau bisa juga Turki menggunakan taktik klasik Iran dengan membiarkan para demonstran melakukan penyerangan.

Kalau memang Khashoggi telah meninggalkan Istanbul dengan cara diculik setelah keluar dari Konsulat, ataupun setelah dibius, seperti yang pernah terjadi pada beberapa pangeran Saudi yang “melanggis”, sebut saja Pangeran Sultan Bin Turki (diciduk di Jenewa), Saud Saif Nasr bin Abdul Aziz (diciduk di Rabat), dan Turki bin Bandar (diciduk di Paris), dapat dipastikan nasib Khassoggi akan berakhir di penjara, kalau tidak lebih dari itu. Karena segala tuduhan sudah disiapkan, utamanya tuduhan terlibat dalam jaringan terorisme, dan membocorkan rahasia negara kepada intelijen asing, khususnya Qtara dan Iran, seperti yang pernah dituduhkan kepada pengamat ekonomi Arab Saudi, Issam Zamil sebelumnya, disamping tuduhan keterlibatannya dengan kelompok Ikhwnaul Muslimin, berhubungan dengan Kedutaan Asing dan seabrek tuduhan lainnya yang bisa saja dibuat, padahal kesalahannya hanya satu, yaitu tidak mau menjual sahamnya di Aramco!

Jamal Khashoggi sebagai oposisi tidak seperti Dr. Sa’ad Al Faqih atau Dr. Mohammad Al-Massari yang menuntut lengsernya Rezim Keluarga yang sedang berkuasa, Khassoggi hanya menuntut reformasi kebijakan politik, demokrasi dan sedikit perhatian kepada HAM.

Perlu diketahui bahwa Jamal Khashoggi sebelumnya pernah menjadi penasehat Pangeran Turki bin Faisal pada Kedutaan Arab Saudi di London dan Washington. Khassoggi juga pernah menjadi Pemred di beberapa koran lokal di Arab Saudi. Tulisan dan wawancara Khashoggi di televisi juga dapat dikatakan relatif sopan dalam mengkritisi Raja Salman dan MBS, khususnya terkait dengan pencidukan-pencidukan yang dilakukan oleh pemerintah akhir-akhir ini.

Namun demikian, dalam hal ini, Jamal Khashoggi telah melakukan dua kesalahan fatal, baik disengaja atau tidak:

Pertama: MBS selaku "the Real King of KSA" tidak suka jalan tengah, ataupun sikap netral, MBS itu memiliki rumusan seperti Bush Jr. yang selalu mengatakan, "You're either with us, or against us". Rakyat Saudi siapapun dia tidak punya pilihan lain kalau mau hidup tenang kecuali “sam’an wa ta’atan” kepada Raja.

Kedua: Pergi ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul, itu sama saja dengan menyerahkan diri, kan dia tahu dirinya oposisi, tapi tetap pergi kesana, ya bagi Saudi “pucuk dicinta, ulama pun tiba”, kan begitu. Padahal tidak penting-penting banget sih ke Konsulat, hanya untuk melegalisasi surat cerainya untuk menikah lagi dengan tunangan WN Turki.

Bagaimanapun, kejadian ini merupakan penghinaan atas Turki. Mengingat presiden Recep Tayyip Erdogan memiliki hubungan yang baik dengan Khashoggi dan IM, atau bisa saja MBS sengaja melakukan itu untuk menyampaikan message kepada seluruh oposisi Arab Saudi bahwa “dimanapun kalian berada, bersama siapapun kalian berlindung, kalian tidak akan selamat!”. Dan tentunya intelijen serta keamanan Turki kembali dipertanyakan kualitasnya kalau memang ada orang bisa suddenly disappear begitu.

Penculikan ataupun pencidukan Jamal Khashoggi di dalam Konsulat Saudi di Istanbul sangat disayangkan, pada saat Arab Saudi berbicara tentang HAM di Suriah, justru pemerintahnya melakukan tindakan pencidukan “berjamaah” atas kelompok oposisi. Saat ini Arab Saudi sedang dihadapkan kepada pelanggaran HAM akibat perangnya di Yaman yang menyebabkan jatuhnya ribuan korban sipil dan jutaan lainnya menderita kelaparan.

Namun demikian, MBS sudah menegaskan bahwa pihaknya tidak keberatan kalau Turki "menggrebek" Konsulat Saudi di Istanbul untuk memastikan bahwa Khashoggi tidak ada di dalam Konsulat.

Khashogi suddenly disappear sejak Selasa lalu, kejadian ini mengingatkan kita kembali kepada insiden "raibnya" PM. Lebanon, Sa'ad Hariri dalam kunjungannya ke Riyadh beberapa bulan yang lalu. Kalau Perdana Menteri negara lain saja bisa hilang, apalagi cuma warga negara biasa.

Kemana sebenarnya Jamal Khashoggi menghilang? Apakah masih hidup dan mendekam di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul, atau sudah diekstradiksi ke Arab Saudi oleh Jack Ryan dan Jason Bourne ataupun sudah berpulang ke Rahmatullah, biarlah waktu yang menjawab :)




Keterangan : Judul hanya penambahan dari admin, konten dan gambar diambil dari akun fb penulisnya. Sumber FB

Artikel Terkait