Friday, February 8, 2019

Memaknai Toleransi dalam Perbedaan

Oleh Alfiz Rahdian


Secara alamiah, manusia diciptakan oleh Tuhan memiliki naluri untuk bersama atau dalam kata lain bersosial. Tidak dapat dielakan bahwa manusia dalam mempertahankan kehidupannya tanpa membutuhkan orang lain, hal ini jelas bahwa manusia membutuhkan orang lain.
(sumber : wncwoman)

Kehidupan sosial sendiri jika ditinjau secara nyata atau realitas kehidupan sosial dapat ditemukan berbagai permasalahan yang dihadapi, dari individu dengan individu maupun kelompok dan sebaliknya. Masalah yang dihadapi bervariasi, namun yang akan dibahas kali ini ialah masalah perbedaan. Masalah perbedaan seringkali menjadi bahan bakar yang menciptakan api yang sangat besar.



Perbedaan agama, ras, suku dan bangsa biasanya menjadi suatu alasan tertentu dalam timbulnya permasalahan, terutama dalam menagih ‘hak-hak’ individu maupun kelompoknya dan suatu klaim sepihak atas ‘hak-hak’ untuk mereka yang belum terpenuhi bahkan menyalahkan kelompok lain sebagai sebuah kambing hitam bagi mereka.

Hal tersebut jelas mengganggu stabilitas kehidupan sosial, alangkah baiknya sebuah masyarakat menciptakan kehidupan sosial yang dapat mengakomodir perbedaan di antara manusia, salah satunya ialah toleransi terhadap perbedaan.

Toleransi merupakan sebuah keniscayaan dalam membangun stabilitas kehidupan sosial, secara umum toleransi merepresentasikan sikap keterbukaan, menghargai, menghormati keragaman budaya, kebebasan berekspresi dan karakter manusia .

Sikap keterbukaan terhadap suatu perbedaan merupakan hal yang diharapkan dari toleransi. Keterbukaan terhadap perbedaan bermakna bahwa masyarakat dapat menerima secara sukarela suatu hal yang berbeda dari dalam tubuh masyarakat tersebut, tidak menolak secara sepihak dan menganggap bahwa perbedaan merupakan ancaman bagi eksistensi masyarakat tersebut. Justru kekhawatiran pada suatu masyarakat terhadap masyarakat lain timbul karena masing-masing masyarakat menutup diri dan menolak perbedaan. Pendekatan antar masyarakat perlu dilakukan dalam memaknai sikap keterbukaan dalam membangun sebuah stabilitas sosial diantara perbedaan.
Disamping itu, diperlukannya sikap menghargai suatu perbedaan. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, dari ras, suku, bangsa dan bahasa, bahkan DNA. Perbedaan tersebut merupakan fitrah dari-Nya serta patutlah disyukuri sebagai anugrah dan karunia-Nya. Namun pada realitas kehidupan sosial, terkadang sulit untuk dapat menghargai suatu perbedaan, bahkan perbedaan tersebut membangun sebuah stereotipe masyarakat. Enggan untuk berbaur antara suatu masyarakat pada masyarakat lainnya karena suatu perbedaan, bahkan terjadi jarak dan permusuhan yang berujung kepada konflik. Dalam memaknai sikap menghargai suatu perbedaan diperlukannya berpikir positif, pengenalan dan pembauran, paling tidak membuat kenyamanan dalam masyarakat untuk menghindari suatu ancaman yang membuat tatanan kehidupan sosial menjadi rusak.

Artikel Terkait