Friday, March 29, 2019

Pelajaran Demokrasi Dari Negeri Ottoman. (Analisis Akhir Pilkada Serentak Turki 31 maret 2019)

Oleh Tengku Zulkifli Usman

2 hari lagi turki akan melaksanakan pilkada serentak di 81 wilayah turki, 31 maret 2019.

Partai partai politik bersaing sangat ketat, tentu dalam hal ini calon calon kepala daerahnya jadi ujung tombak.

Perkiraannya, Koalisi AKP(Cumhur Ittifaki) masih akan memenangkan pilkada besok dengan perolehan suara 35-38%. Mengalahkan Koalisi CHP bersama 3partai lain(Millet Ittifaki).

Bisa dikatakan, pilkada besok adalah pilkada paling panas dalam sejarah demokrasi turki modern.

Panas karena memang sudah langganan, setiap mau pemilu, turki selalu diganggu asing, terutama setelah AKP naik ke puncak kekuasaan 2002.

Berbagai goncangan politik dilakukan lawan lawan AKP secara kasar dan terang terangan, baik dari militer, liberal, partai oposisi sampai pemberontak kurdi.

Baik intervensi barat, eropa, amerika, israel sampai ulama pemberontak yang menetap di pensylvania, Fathullah Gulen.

Goncangan besar terakhir terjadi tahun lalu, saat turki ingin melaksanakan pilpres pertama dalam sistem konstitusi baru presidensial setelah menang dalam referendum konstitusi yang ketat april 2017 lalu.

Pilpres yang seharusnya dilaksanakan tahun ini, terpaksa dimajukan menjadi tahun lalu karena ada indikasi musuh turki akan melakukan kekacauan. Erdogan memajukan pilpres menjadi juni tahun lalu.

Pilpres turki tahun lalu sebenarnya dipantau oleh dunia internasional, erdogan sengaja mengundang mereka untuk memantau pemilu.

Meskipun pilpres berjalan lancar, aman dan demokratis, namun dunia internasional secara mengejutkan mengumumkan bahwa pilpres turki curang, sudah biasa. Mereka menuduh curang karena pilpres masih dimenangkan erdogan, "musuh" mereka.

Menghadapi pilkada 31 maret besok, berbagai upaya melengserkan dominasi AKP terus dilakukan lawan lawan politik secara terang terangan.

Persaingan sangat ketat misalkan terjadi di istanbul, faktor utama panasnya pilkada istanbul adalah lembaga survei yang sangat memihak calon oposisi CHP.

Padahal secara fair dan ril, istanbul adalah basis AKP yang belum pernah bergeser sejak AKP naik panggung, istanbul adalah kampung halamannya Erdogan.

Persaingan ketat lain terjadi di ankara, motifnya sama, ada upaya penggiringan opini publik bahwa calon walikota dari AKP kalah jauh dari calon oposisi, mirip dengan manupulasi survei di pilpres indonesia. Padahal ril nya, selisih antara calon walikota ankara dari CHP dan AKP hanya 0,1%. Ingat ya 0,1 bukan 1%. Tapi dalam berbagai survei diberitakan selisih angkanya mencapai 8-10%.

Turki yang demokratis ditangan erdogan tidak membredel media dan membredel lembaga survei padahal AKP adalah partai penguasa yang terus menerus dipojokkan oleh mereka. AKP bukan partai oposan.

Beberapa wilayah lain dimana AKP menang telak seperti Bursa, Balikesir, Kayseri, Kahraman Maras, Kastamanu, Osmaniye, Van, Kars, Karaman, Gaziantep, Batman, Bolu, Koaceli. Tapi oleh media dipelintir dan dibuat imbang dengan oposisi.

Selain ankara, AKP dan MHP hampir menyapu bersih semua kota besar, AKP hanya kalah di kota kota kecil yang tidak terlalu berpengaruh secara nasional untuk 2023 kedepan.

Kalau 31 maret besok AKP memenangkan kembali pilkada dengan angka meyakinkan, maka Erdogan harus berterima kasih kepada ketum partai MHP, tanpa berkoalisi dengan MHP, kali ini erdogan dan AKP akan sangat kedodoran.

Bergabungnya MHP bersama AKP bukan berarti AKP lemah, tapi MHP lah yang merasa sangat cocok dengan Erdogan daripada dengan tokoh toko lain, terutama setelah ketum MHP Devlet Bahceli mengatakan berkoalisi permanen dengan AKP sejak beberapa tahun belakangan.

Bahceli dan Erdogan tentu dua sosok yang berbeda, Bahceli dulu adalah pengkritik erdogan di awal awal erdogan menguasai pangung politik turki. Bahceli adalah mantan PM Turki pas sebelum erdogan.

Itulah bedanya Bahceli, semua orang jujur yang punya niat baik terhadap turki cepat atau lambat akan merapat ke erdogan, ini beda dengan tokoh oposisi lain yang sampai saat ini tidak mau mengakui prestasi erdogan. Sebut saja Ketum CHP Kemal Kilichdaroglu, Mantan Ketum CHP Deniz Baykal, Ketum IYI parti Meral Aksener sampai Ketum Saadet Parti Tamel Karamullahoglu.

Erdogan berpolitik dengan ilmu dan integritas tingkat dewa, inilah penyebab utama kenapa erdogan sangat sulit disingkirkan, semua warga turki mengakui integritas erdogan, yang bersih, profesional dan sangat bersahaja. Soal mau memilih atau tidak itu urusab ego dan urusan muyul politik yang memang berbeda.

Kedua, Erdogan adalah tipikal pekerja keras, bahkan sangat keras. Dalam pilkada kali ini contohnya, erdogan keliling turki mengajak calon walikota naik panggung bersama dalam kampanye, erdogan seolah ingin memastikan semua"anak buah" nya harus menang.

Kerja nyata, tanpa citra, tanpa banyak bicara, banyak debat, banyak polemik, profesional. Itulah gaya khas erdogan dalam berpolitik.

Partai Saadet yang merupakan partainya mantan Erdogan yang sampai saat ini tidak mau berkoalisi dengan AKP tidak membuat Erdogan panas hati. Erdogan rajin bersilaturrahim dengam mantan walaupun sering ditolak bahkan sejak Erbakan masih hidup.

Erdogan tidak baperan, tidak banyak menoleh kebelakang, tidak bercerita masa lalu, erdogan memang tokoh yang selalu lurus melihat kedepan, makanya ditangan erdogan, turki melangkah kedepan, menang 4x pemilu berturut turut.

Sebuah narasi politik, maka medan pembuktian nya adalah lapangan, apakah sebuah narasi itu eligible atau tidal, apakah lemah atau kuat, semua hanya waktu yang menjawab. Dan erdogan telah membuktikannya selama 17 tahun, kokoh bahkan sukses menyingkirkan 7 Jenderal sekuler yang memegang turki sebelum erdogan.

Erdogan dan AKP adalah contoh sebuah narasi politik yang berumur panjang, hanya pemimpin Rusia dan Cina yang setara dengan Erdogan saat ini. Sedangkan dengan pemimpin AS saja, Narasinya masih kalah jauh.

Tidak salah, kalau sampai rakyat turki memberikan kepercayaan kepada tokoh yang amanah sampai 2028. Itu karena masa jabatan erdogan dibatasi konstitusi, tapi sejatinya Erdogan telah melegenda dihati rakyat turki dan telah menjadi inspirasi bagi semua negara islam bahkan dunia.

Tengku Zulkifli Usman.
Analis Politik Dunia Islam Internasional.

Sumber : FB

Artikel Terkait