Friday, May 17, 2019

KETIKA SAFAR, LEBIH UTAMA PUASA ATAU BERBUKA ?

Oleh Abdullah Al-Jirani

Jumhur ulama (mayoritas ulama) dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah dan Syafi'iyyah berpendapat, bahwa seorang musafir asalnya lebih utama berpuasa selama hal itu tidak memberatkan atau menimbulkan mudarat terhadap dirinya. Jika memberatkan atau memudaratkan, maka lebih utama berbuka.
Dalilnya kisah seorang yang berpuasa ketika safar, lalu dia pingsan sampai dikerumuni oleh para sahabat. Maka saat melihat kejadian itu nabi -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :
ليس من البر الصوم في السفر
"Bukan termasuk kebaikan puasa ketika safar". [ HR. Al-Bukhari dan Muslim ].
Imam An-Nawawi -rahimahullah- berkata :
إنَّ الْأَحَادِيثَ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى أَفْضَلِيَّةِ الْفِطْرِ , مَحْمُولَةٌ عَلَى مَنْ يَتَضَرَّرُ بِالصَّوْمِ .... لِيَجْمَعَ بَيْنَ الْأَحَادِيثِ
"Sesunguhnya hadis-hadis yang menunjukkan akan keutamaan berbuka ketika safar, dibawa kepada kemungkinan bagi seorang yang termudaratkan dengan puasa...(hal ini dilakukan) untuk mengkompromikan di antara hadis-hadis yang ada."
Dalam nukilan yang lain disebutkan :
و أما أفضلهما فقال الشافعي و الأصحاب : إن تضرر بالصوم فالفطر أفضل و إلا فالصوم أفضل
"Adapun mana yang lebih utama diantara keduanya (maksudnya berbuka atau puasa bagi musafir), maka imam Asy-Syafi'i dan Al-Ashab (para ulama syafi'iyyah) berkata : Jika termudharatkan dengan puasa, maka berbuka lebih utama. Jika tidak, maka puasa lebih utama."
Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bi ash-shawab.
9 Ramadan 1440 H, Madinah Nabawiyyah-Saudi Arabia
Abdullah Al-Jirani
---------
Referensi :
1).Raddul Mukhtar (2/421-424),
2).Hasyiyah Ad-Dusuqi (1/515),
3).Mughni Muhtaj (1/529)
4).Al-Majmu Syarhul Muhadzab ( / )

SUmber tulisan dari akun Fb nya

Artikel Terkait