Wednesday, June 26, 2019

Turki Pasca Jatuhnya Istanbul (Bagian Pertama)

Oleh Tengku Zulkifli Usman

Pilpres Turki Juni tahun lalu, Perolehan Suara Erdogan masih di angka 52%.
Pilkada 31 maret lalu, suara AKP masih 47% sendiri, tambahan dari koalisi hanya 5%.

Kemenangan Oposisi di istanbul kemarin tidak terlalu signifikan, karena yang dikalahkan oleh Ekrem Imamoglu adalah Yildirim bukan Erdogan.
Itupun setelah 25 tahun partai oposisi tidak berhasil menang di istanbul, ankara. Selama ini dua kota ini selalu dimenangkan AKP.
Dua kali pilpres, calon oposisi CHP hanya memperoleh suara dibawah 30%. Mulai dari Ekmeleddin Ihsanoglu sampai Muharrem Ince.
16 tahun lebih AKP menang pemilu, baik itu pemilu presiden sampai pemilu lokal juga pilkada pilkada.
Suara AKP yang masih di angka 47%, Itu sama dengan suara gabungan 6 partai islam di indonesia.
Kemenangan oposisi di istanbul kemarin justru menunjukkan kebersihan dan fairplay erdogan sebagai penguasa, tidak mengintervensi dan mencurangi opososi, seperti di indonesia.
Bagi erdogan, kalah menang itu biasa dinamika politik, tapi melakukan kecurangan sama dengan merusak demokrasi yang sangat mahal harganya.
Kalau saja Erdogan mau curang, mustahil kota istanbul, ankara, izmir dan Antalya jatuh ke tangan oposisi, kekuatan erdogan saat ini masih sangat mampu untuk mencurangi siapapun.
Justru kenegarawanan erdogan yang memprioritaskan demokrasi bukan partai dan golongannya sendiri. Makanya pemilu berjalan jurdil tanpa arogansi kekuasaan erdogan sama sekali.
Orang orang yang menuduh erdogan diktator dari kalangan barat dan eropa saat ini terdiam melihat hasil pilkada istanbul kemarin, bukti nyata bahwa erdogan demokrat sejati bukan diktator.
Bahkan pemenang pilkada istanbul kemarin Ekrem Imamoglu langsung menyampaikan terima kasih kepada erdogan dan menyatakan siap bekerjasama dengan erdogan, ini juga sinyal bahwa partai oposisi CHP sedang terbelah.
Bersambung...

Artikel Terkait