Sunday, July 14, 2019

Menafi Naif Prabowo

Oleh Yusuf Maulana
Kita bela habis-habisan ketika Prabowo Subianto dicela oleh pendukung penguasa dalam bab shalat. Soal mengajarkan shalat sebenarnya mudah, terbukti Prabowo pun bisa berlekas belajar. Yang sukar diubah padanya sebenarnya apa yang pernah dinilai Gus Dur tentang putra Sumitro Djojohadikusumo ini, “Dia orang naif!”

Naif di sini bukan karena bodoh secara intelektual, melainkan sederhana berpikir pada orang lain yang justru punya lipatan hasrat mencelakainya. Dus, jadilah naif Prabowo itu takdir celaka yang mesti ditanggung.
Gus Dur tak silap meski dengan canda sekalipun. Prabowo sebagai negarawan rasanya tak perlu digugat keabsahannya—sebagaimana dalam soal prestasi di medan tempur kala mudanya. Tapi dalam soal siasat memenangi pertarungan dirinya sendiri di medan politik, ia semestinya bukan didorong belajar shalat. Sekali lagi, ini urusan sederhana sehingga rasanya ulama pun tak perlu sampai bahas khusus soal ini. Problem Prabowo dengan kapasitas yang dimilikinya tapi dinafikannya adalah ke soal kenaifannya itu.
Perlu sekian jam buat saya berpikir sampai berkesimpulan: sebelum anak-anak kita baligh, tidak ada kewajiban dan pemaksaan dalam shalat, namun tidak demikian halnya untuk membangun kepercayaan diri lewat membacakan kisah-kisah. Sejarah Islam jangan pernah diasingkan dari pikiran dan imajinasi anak-anak kita. Agar ketika dewasa, mereka punya ambisi dan bersiap menghadapi ragam aktor beserta muslihatnya. Karena di Sirah Nabawi dan para sahabat, ada pelajaran tentang zuhud di kekuasaan tapi juga berbarengan dengan meruahkan tekad menggulung kekuasaan lawan. Bahkan semasa jahiliah pun istri Abu Sufyan murka manakala orang-orang meramalkan bahwa putranya, Muawiyah, bakal jadi penguasa Arab. “Tidak, demi Allah dia bukan jadi penguasa Arab tapi penguasa dunia!”
Ambisi dalam kronik sejarah itulah yang luput (atau diluputkan) dalam masa kecil Prabowo. Sudahlah saudara-saudaranya beralih iman, imajinasi membela umat sekeyakinan pun tak memiliki teladan. Ya, andaikata para alim waktu itu memberikan kursus kilat sirah nabawi dan shahabat. Padahal, ini lebih prioritas buat mengisi kebutuhan yang cocok dengan kekurangan Prabowo. Sehingga, bocah berkopiah yang di foto ini tetap tegap memusungkan dada nantinya tak sebatas negarawan minus jabatan presiden semasa hayatnya. []

Sumber : FB

Artikel Terkait