Monday, July 15, 2019

Pembelian S-400, Akankah AS Memberikan Sanksi EKonomi Lebih Berat Ke Turki?*

Oleh Saief Alemdar

Dengan diterimanya sistem pertahanan S-400 Rusia oleh Turki, tampaknya Turki telah memutuskan “urat nadi” terakhir yang masih tersambung dalam hubungannya dengan AS dimana selama 70 tahun terakhir AS dan Turki merupakan sekutu strategis. Presiden Recep Tayyip Erdogan sudah mengambil keputusan akhirnya, tidak peduli kepada rayuan dan bahkan ancaman AS yang melarang Turki membeli S-400 dari Rusia.

Eropa atau NATO hanya melihat saja sambil diam ketika S-400 dipasang di Turki, mereka tidak banyak memberikan komentar, mereka hanya menyalahkan Donald Trump dan timnya sehingga Turki sampai “ngelonjak” seperti ini. Eropa khawatir kalau Turki menjauh dari Eropa dan mendekati Rusia. Itu saja kekhawatirannya untuk sementara.
Tanggapan malu-malu Eropa pada intinya tidak senang Turki membeli S-400 dari Rusia, hanya Perancis saja yang berani mengatakan bahwa transaksi S-400 antara Turki dengan Rusia adalah hak prerogative Turki, “suka-suka dia lah, uang juga uang dia!”, kira-kira begitu.
Perancis mengatakan begitu karena memang pihak yang paling sedikit dirugikan dalam hal ini, atau malah Perancis beruntung. Ketika AS tidak lagi mau menjual pesawat tempur F-35 ke Turki, bisa saja Turki membeli Dassault Rafale Perancis.
Untuk saat ini, sepertinya Eropa tidak mau membuat masalah lagi dengan salah satu negara Islam terkuat di dunia, cukup dulu fokus pada masalah dengan Iran karena isu kesepakatan nuklir. Kalau Eropa membuka front “kisruh” dengan Turki dan Iran pada saat yang sama, kelihatannya seperti mau mulai Perang Salib baru.
Terus terang, AS dan sekutunya tidak pernah percaya kepada negara Muslim, sepatuh apapun negara Muslim itu kepada dikte AS, tetap saja tidak dipercayai oleh AS. Apa yang berlaku bagi Iran, berlaku juga bagi Turki, Suriah, Irak dan Mesir, bahkan negara-negara Teluk. AS hanya percaya kepada satu negara saja di Kawasan, yaitu Israel.
AS tidak menerima Turki memiliki S-400 hanya demi menjaga keamanan Israel, AS ingin Israel tetap yang terkuat secara militer di Kawasan. Sampai saat ini, Israel satu-satunya negara di muka bumi yang memiliki pesawat tempur F-35 setelah AS. Apa yang ditakutkan coba? Wong hubungan Turki-Israel baik-baik saja, volume perdagangan bilateralnya saja mencapai lebih dari USD 10 miliar pertahun!
Kekhawatiran AS bukan hanya karena adanya deal pembelian S-400 dari Rusia, tetapi Rusia dan Turki juga memiliki deal untuk transfer teknologi untuk memproduksi S-400 di Turki.
Ketika Turki insist untuk membeli S-400, AS mencoba menawarkan rudal Patriot sebagai ganti S-400, tetapi Turki menolaknya. Legenda kehebatan Patriot mungkin mulai memudar di tangan militan Houthi Yaman yang berhasil menyerang airport-airport di dalam Arab Saudi, yang katanya langit Arab Saudi itu dilindungi oleh Patriot. Legenda itu juga memudar di tangan kelompok pejuang Palestina di Gaza yang berhasil menembus Iron Dome Israel dengan rudal-rudal buatan lokal.
Tentunya, keras kepala Turki ini akan memiliki efek domino untuk ke depannya, dan yang paling jelas mungkin AS akan mengimpose sanksi ekonomi lagi kepada Turki. Namun keberanian Turki melawan titah AS ini menunjukkan bahwa Turki sudah memiliki independensi dalam mengambil keputusan, dimana Turki menjadikan kepentingan dan keamanan nasional Turki di atas segalanya.
Untuk ke depannya, mungkin AS akan mengimpose sanksi ekonomi kepada Turki, dan juga mungkin akan mempersenjatai kelompok-kelompok separatis Kurdi sebagai proxy untuk menekan Turki. Dampak dari sanksi AS pernah dirasakan Turki beberapa waktu yang lalu, hingga nilai Lira Turki anjlok sampai pada titik 7 lira per 1 US dollar.
Untuk menghindari dampak negatif dari kemungkinan terburuk itu, apakah Turki akan kembali mengambil kebijakan klasik yang membuat Turki maju sejak AKP berkuasa tahun 2002, yaitu kebijakan zero enemy dengan negara tetangga? Untuk itu, Turki harus mulai memperbaiki hubungan dengan tetangganya semua, terutama negara-negara Arab, mulai dari Suriah sampai ke Mesir. Atau Turki akan tetap berspekulasi dengan berdiri sebelah kaki?
Kalau tidak, maka Turki akan sendirian menghadapi “permainan” AS dan banyak pengamat meyakini Erdogan akan berakhir.
Terakhir, kita tutup dengan komentar Israel, “In Missile Deal with Russia, Turkey shows There’s no need to fear the United States. If Washington doesn’t impose sanctions on Ankara, it will be seen as a paper tiger and Europe will receive further justification for avoiding sanctions on Iran!”. Intinya, kalau AS tidak berani tegas terhadap Turki, maka Eropa punya alasan untuk tidak mengimpose sanksi kepada Iran. Biarlah waktu yang menjawab….

sumber : FB

*judul hanya tambahan dari admin

Artikel Terkait