Wednesday, August 7, 2019

Hubungan antara Keimanan dan Rekonsiliasi

Oleh Indi Ghina Nafsiyya

Iman memiliki arti kata  “aman” maka mukmin itu berarti orang yang mendapatkan rasa aman dan dapat memberikan rasa aman pada orang lain. Islam diambil dari kata “salam” yang artinya selamat. Muslim itu berarti orang yang telah selamat, yaitu menyelamatkan dirinya dan menyelamatkan orang lain. Iman dan islam ini adalah 2 nikmat yang dapat menjadikan kita sebagai sosok yang bahagia, bahkan bisa membahagiakan orang lain disekitar kita.

Allah telah berpesan dalam firmanNya untuk kita orang yang beriman dalam Quran Surat Al-hujurat ayat 10         

(إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةࣱ فَأَصۡلِحُوا۟ بَیۡنَ أَخَوَیۡكُمۡۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ)
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.
[Surat Al-Hujurat 10]

Ayat ini menyatakan bahwa mukmin itu bersaudara dan perintah selanjutnya dalam ayat ini adalah ”فَأَصۡلِحُوا۟ بَیۡنَ أَخَوَیۡكُمۡۚ" yaitu maka segeralah lakukan ishlah antar saudara kalian. Dalam hadits Rasulullah shalallahu'alaihissalam ada syariat yang disebut dengan ‘اصلاح ذات البين' yaitu memperbaiki hubungan antar 2 orang atau lebih yang memiliki masalah dan konflik.  Ishlahul dzatil bayin ini adalah sebuah upaya yang sesuai dengan sabda Rasulullah shalallahu'alaihissalam, yaitu apabila upaya itu berhasil maka pahalanya lebih besar daripada sholat malam selama 1 tahun.

Setiap langkah dan upaya untuk terjadinya ishlahul dzatil bain  atau dalam bahasa sekarang sering disebut dengan istilah ‘rekonsiliasi’ atau ‘rekonsiliasi nasional’. Rekonsiliasi nasional artinya upaya memperbaiki kembali setiap keretakan- keretakan yang terjadi antar sesama sodara muslim atau sesama anak bangsa akibat terjadinya pergeseran atau sedikit perpecahan. Upaya-upaya untuk hadirnya sebuah kedamaian, kesatuan, persatuan, dan toleransi antar sesama mukmin bahkan antar sesama manusia adalah upaya yang dipuji oleh Allah SWT dan seluruh manusia sangat mengidamkannya.

Dalam ayat diatas Allah memerintahkan ishlah ini diawali dengan kalimat  "innamal mukminun"  dapat disimpulkan bahwa ishlah ini akan bisa dibentuk apabila ada landasan keimanan antar orang-orang yang akan  direkonsiliasi atau diperbaiki. Jika kita berbicara konsep bernegara maka sesungguhnya negara ini sangat menginginkan warganya memiliki iman seperti asas yang terkandung dalam pancasila. Maka sudah sangat baik negeri ini berlandaskan pancasila dan sila yang pertama adalah ketuhanan yang maha esa, artinya seluruh penduduk negeri ini harus beriman akan adanya tuhan dan adanya pembalasan Tuhan dikehidupan nanti diakhirat. Karena hanya orang-orang percaya pada balasan Tuhan lah yang bisa melakukan rekonsiliasi itu.

Jika berbicara tentang konsep islam, saat seseorang mempunyai keimanan maka karakter utamanya adalah kejujuran. Rasulullah shalallahu'alaihissalam  ditanyakan oleh para sahabat "apakah seorang mukmin mungkin mencuri?” rasul menjawab,“ya”. lalu  “apakah seorang mukmin mungkin marah?” rasul menjawab, “ya”. "Apakah seorang mukmin mungkin membunuh?" rasul menjawab "ya". Lalu yang terakhir  “apakah seorang mukmin mungkin berdusta?” rasul menjawab, “Tidak”. Rasulullah shalallahu'alaihissalam menjelaskan bahwa seorang mukmin tidak akan berdusta. Seorang mukmin itu akan jujur dan tidak akan curang.

Kejujuran dan keimanan adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan, karena dengan kejujuran dan keimanan inilah seseorang akan bisa melakukan ishlah atau perbaikan dari problema yang mereka hadapi. Jiwa-jiwa yang memiliki keimanan dan kejujuran akan memiliki rasa takut akan hukum Allah diakhirat nanti sehingga ia akan bersegera melakukan ishlah atau perbaikan ini di dunia, maka inilah yang akan membuat kedamaian dalam bermasyarakat, bernergara, dan berbangsa. Ishlah atau rekonsiliasi ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tapi juga harus terjadi dalam keluarga antar kakak dengan adik dan antar suami dan istri, yaitu untuk segera kembali kepada nilai-nilai iman dan nilai kejujuran.

Wallahu’alam bishoab

*penulis adalah Mahasiswi STEI SEBI

Artikel Terkait