Friday, August 30, 2019

ILMU, MENYATUKAN JALAN DI DUNIA MENUJU SURGA


Oleh : Nadiah Robbaniyah

Dunia dengan segala keindahan dan kesibukannya memang selalu melalaikan manusia dari kehidupan hakiki yaitu akhirat. Sibuk membangun rumah di dunia, sampai lupa membangun rumah di akhirat. Sibuk mencari uang untuk kehidupan di dunia, sampai lupa mengumpulkan bekal untuk akhirat. Seolah-olah dunia adalah kehidupan tersendiri dan kekal abadi, sedangkan akhirat hanya kehidupan lain yang tak pasti diyakini. Terpisah, jalannya tidak sama, sangat susah bahkan mustahil menggapai keduanya dengan cara yang sama. Bila fokus pada akhirat maka dunia tak didapat, bila dunia dikejar maka akhirat terlewat. Padahal bagi seorang muslim, jalan dunia dan akhirat adalah satu, jalannya sama dan tidak ada yang berbeda. Pada intinya, jika hanya dunia yang dikejar maka akhirat akan meninggalkan, dan bila akhirat yang menjadi tujuan, maka dunia akan mengikuti dengan sendirinya.

                Jika kita mempunyai pekerjaan, maka pekerjaan yang kita lakukan hari ini juga harus mempunyai keterikatan yang kuat dengan jalan di akhirat, Rosululloh SAW bersabda tentang orang yang keluar dari rumahnya : “jika ia keluar dari rumahnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan anaknya yang masih kecil, maka ia keluar dengan jalan Alloh. Jika ia keluar untuk mencukupi kebutuhan kedua orang tuanya yang sudah renta, makai a keluar dengan jalan Alloh, jika ia keluar untuk dirinya sendiri, menjaga kemuliaan dirinya (supaya tidak meminta-minta kepada manusia dan makan harta yang haram), maka ia berada di jalan Alloh. Namun bila ia keluar dengan riya’ dan ingin tampak lebih mulia dibandingkan manusia yang lain, maka ia berada di jalan setan.” (HR. Thabrani, dishahihkan albani)

                Contoh pekerjaan diatas bisa bernilai kebaikan/ibadah dan mendapatkan pahala disisi Alloh bila didasari ilmu dan niat yang benar,mengharap akhirat, dan ikhlas untuk Alloh.

                Para sahabat banyak mencontohkan kepada kita bagaimana cara mensinergikan antara dunia dan akhirat. Mereka radhiallohu’anhum juga membutuhkan makan dan minum, merka juga butuh menikah dan harus memenuhi kebutuhan keluarganya, mereka tentu akanbekerja keras, akan tetapi  pekerjaan dan perjalanan mereka di dunia ini sama sekali tidak membuat mereka lalai dan lupa akan jalan dan kehidupan menuju akhirat.

                Umar bin Khattab R.A pernah berkata :

                “aku dan tetanggaku Anshar berada di desa Banu Umayyah bin Zaid, sebuah desa dekat Madinah, kami sering bergantian mencari ilmu dari Rosululloh SAW, sehari aku menemui beliau Rasululloh SAW dan hari lain dia yang menemui Rosululloh SAW, jika giliranku tiba, aku menanyakan seputar wahyu yang turun pada hari itu dan perkara lainnya. Dan jika giliran tetanggaku tiba, ia pun menanyakan hal yang sama.” (HR. Bukhari)

                Bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari tidaklah menghalagi seseorang untuk bekerja. Justru seharusnya sebelum manusia-manusia turun ke dunia pekerjaan ia harus terlebih dahulu terjun di jalan-jalan ilmu, karena dengan urutan yang benar ini, ia akan mendapat keberkahan (di perjalanan dunianya) dan mempunyai bekal dan wawasan yang lebih dalam menjalankan pekerjaan yang ditekuninya nanti dan menemukan jalan yang satu serta menyambung dengan jalan akhirat.

                Dengan menuntut ilmu, kita akan mendapatkan banyak kemudahan serta kebaikan.
“barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalan ke surga baginya.” (HR Muslim). Yang apabila dipahami secara terbalik, maka siapa saja yang berjalan dan dalam perjalanannya itu bukan dalam rangka mencari ilmu, ia akan sulit dan sukar menemui jalan menuju surga.  Seseorang yang tidak mempunyai ilmu syar’i tetapi ia kaya raya, niscaya ia akan menjadi orang yang mencelakakan dirinya sendiri lantaran tidak menggunakan harta bendanya dengan baik serta bukan dalam jalan Alloh. Dan ada pula yang lebih parah lagi, dimana seseorang yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki harta akan tetapi ia kerap berandai-andai bila ia mempunyai harta ia akan menggunakannya sebagaimana pemilik harta yang tidak memiliki ilmu.

                Sesungguhnya, seluruh kebaikan dunia dan akhirat akan didapat dan digenggam oleh orang-orang yang berillmu, dan begitupun sebaliknya, keburukan akan didapat oleh orang yang tidak memahami ilmu. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkan ilmu adalah Thalabul ‘ilmi, mendatangi gurunya yang alim (berilmu dan mengamalkan ilmunya).

                Buah dan berkah dari ilmu yaitu ketika ia akan bekerja, ia akan mencari pekerjaan yang halal. Dan jika ia sudah mendapatkan hasil dari usahanya, ia akan tunaikan kewajibannya dan melakukan sunnah-sunnah nya. Inilah hasil dari menuntut ilmu tadi, bhawa ia yang telah tuntas menuntut ilmu akan sebisa mungkin menempatkan sesuatu pada tempatnya dan menjauhi segala larangan yang dapat menjauhkan ia dari segala kecelakaan dan kesusahan di dunia maupun di akhirat.

                Ia akan senantiasa mengamalkan ilmunya dimana pun berada. Mengambil segala keputusan yang berpijak pada syar’i atau hukum yang bersumber dari Alloh SWT. Dengan ilmu syar’i pun ia memahami remehnya nilai dunia dibanding nilai akhirat, sehingga apapun yang membuatnya mudah ataupun sulit tak pernah melalaikannya dari dzikir kepada Alloh SWT. Seperti dalam QS. An-Nur : 37.

                Bila ilmu yang didahulukan, maka kita akan selalu mencari kebahagiaan negeri akhirat tapi tentu saja tidak melupakan bagian halal dari kenikmatan duniawi. Memenukan jalan kebaikan di dunia, hingga bersambung dalam kenikmatan yang hakiki di akhirat nanti.

                “dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (kebagahiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Alloh telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesunggunya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qishas : 77)
Wallahu a’lam bishowab.

Artikel Terkait