Wednesday, August 14, 2019

Kita dan Cahaya Al-Qur’an


Oleh : Nur khofifah



Salah satu ciri manusia modern di akhir zaman ini adalah mudah kehilangan pegangan. Dia cepat galau dan gampang terjebak kabar hoax alias berita bohong. Anehnya fenomena itu bukan karena mereka kekurangan pengetahuan atau miskin wawasan. Bukan pula sebab orang itu tak paham kecanggihan teknologi. Justru semua itu dikuasai secara mumpuni.

Sayangnya ada satu hal yang terlupa. Mereka begitu pandai tentang urusan dunia yang sifatnya fana, tapi buta dan lalai terhadap perkara akhirat yang sudah pasti.
Sebagaimana firman Allah SWT :

“ Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum [30]:7).

            Akibatnya meski mereka punya Al-Qur’an sebagai panduan hidup, nyatanya umat islam tetap saja jadi terbelakang dan terpinggirkan. Bukan karena isi Al-Qur’an yang berubah atau kekuatannya diambang kadaluarsa, tetapi karena kaum Muslimin jauh dari ajaran Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an adalah sumber kekuatan. Al-Qur’an adalah jalan untuk menuju kemenangan. Itulah yang membuat generasi Islam terdahulu bisa berjaya.

 Oleh karena itu, mari kita kaji kembali kekuatan Al-Qur’an yang dahsyat itu. Sekaligus menelaah apa sebenarnya yang hilang dari umat Islam saat ini.

Dahsyatnya Al-Qur’an

            Di akhir zaman ini, manusia akan diliputi keresahan. Seolah berada dititik kulminasi, tepat dipuncak kegelisahan. Pada zaman dahulu, banyak ramalan-ramalan dan analisis kehidupan akhir zaman sudah muncul. Malapetaka dan musibah berulang kali terjadi didepan mata. belum lagi soal ledakan penduduk, kurangnya stok makanan, polusi udara, pemanasan global, pertikaian antar bangsa yang tiada henti, dan masih banyak masalah lainnya.

            Persoalan diatas semakin menegaskan tentang penting umat islam agar kembali kepada Al-Qur’an. Inilah pegangan hidup yang sebenar-benarnya, yang mampu menjawab semua tantangan zaman. Allah SWT sudah meletakkan kaidah-kaidah dasar untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan. Seberapa pun beratnya persoalan, semua pasti bisa diatasi dengan panduan Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman :

“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” (Al-Baqarah [2]:185).

            Namun mengapa al-Qur’an ini seolah tidak seindah dan tak semenarik sebagaimana mestinya? Mengapa kebanyakan manusia mengakui al-Qur’an sebagai pedoman hidup, tapi cenderung mengabaikannya?

Disadari atau tidak, terkadang manusia merasa punya kemampuan hebat pada dirinya. Ada rasa jumawa, seolah tidak butuh dengan petunjuk al-Qur’an. Akhibatnya, petunjuk, penjelasan, hingga kekuatan yang terkandung di balik al-Qur’an tak pernah benar-benar serius digali dan dipelajari oleh kaum Muslimin. Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Umat islam harus segera menyadari peran besar al-Qur’an untuk kebahagiaan dan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.

Dalam sejarah, kaum Muslimin sebenarnya telah kaya dengan pengalaman masa lalu. Bahwa kemelut serta keresahan yang melanda manusia tidak ada yang mampu diselesaikan secara tepat kecuali dengan al-Qur’an.

Bahkan sebelum satu kasus terjadi, jauh hari al-Qur’an telah menjelaskan semua peristiwa di alam semesta. Sehingga ketika itu terjadi, jawaban itu sudah ada dalam kitab yang mulia tersebut. Allah SWT yang menururnkan al-Qur’an memang sudah tahu persis setiap permasalahan manusia. Ini berlaku hingga akhir zaman. Jadi, sebenarnya manusia ini tak perlu bngung apalagi kehilangan keseimbangan hidup.

Al-Qur’an merupakan kebutuhan manusia secara mutlak, lebih dari sekedar isi dan kandungannya. Kalau Cuma isinya, al-Qur’an tak perlu diturunkan sebanyak 114 surah. Tidak perlu pula mengulang-ulang kisah yang sama seperti kisah Nabi Adam, Ibrahim, Musa, dan Nabi Muhammad sendiri. Al-Qur’an juga bukan sekedar pengertiannya yang dipentingkan. Meskipun membaca al-Qur’an tanpa memahami maknanya, jangan dikira tidak akan mendatangkan manfaat.

Apalagi jika dibaca dengan mengaktifkan seluruh instrumen diri dalam mentadabburi bacaan. Akan ada tali kecapi batin yang tersentuh. Ia bisa melahirkan kekuatan luar biasa, bahkan melampaui dimensi-dimensi yang selama ini dijangkau otak manusia yang terbatas.

Kemunduran umat islam saat ini tidak lain karena berkurangnya keyakinan bahwa ada kekuatan Maha Hebat yang dititipkan pada mukjizat al-Qur’an. Mereka tidak memerankan potensi yang dititip Allah SWT kaitannya dengan tugas kekhalifahan untuk berkarya dan mengelola dunia. Karena sesungguhnya al-Qur’an itu spektakuler sepanjang masa.

Solusi Dari al-Qur’an

          Jika kaum muslimin sudah lama mengetahui potensi ilahiah, potensi kekhalifahan, serta jalur menemukan potensi hebat tersebut, boleh jadi kita sudah lama melakukan hal-hal spektakuler. Uniknya, kebanyakan manusia menganggap sebagai sesuatu yang aneh. Padahal sebenarnya hal itu terlalu mudah jika Allah SWT menghendaki.

Allah SWT berfirman:

“Wahai bangsa jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Ar-Rahman [55]: 33).

            Masing-masing kita tentu punya pengalaman yang berbeda dengan lainnya. Misalnya setiap membaca al-Qur’an terasa ada hal baru yang diberikan Allah SWT.

            Acap kali ia mengulang membacanya, seolah ada sesuatu lagi yang Dia sampaikan dalam dialog tersebut. Selalu ada hijab yang tersingkap, ada jawaban yang terbentang, ada pemecahan masalah yang ditemukan setiap menyimak huruf-huruf dari al-Qur’an sebagai wahyu ilahi. Saat ini manusia modern begitu disibukkan dengan berbagai macam berita dan peristiwa yang dibaca melalui berbagai media cetak maupun elektronik. Karena konsumsi yang berlebihan, syaraf-syaraf diotak mereka menjadi tegang. Berbeda ketika membaca al-Qur’an rutin setiap hari. Bukan saja akan mendapatkan kesegaran otak dan ketenangan jiwa, tetapi juga memperoleh bayangan-bayangan dari peristiwa yang terjadi disekitarnya. Kedengaran aneh dan seperti tidak mungkin. Tapi kalau mau jujur, seringkali ada lintasan inspirasi dan ilham saat membaca atau usai menyimak bacaan al-Qur’an.

            Untuk itu sekali lagi, bacalah al-Qur’an secara rutin setiap hari. Selama keyakinan itu terpatri bahwa al-Qur’an adalah wahyu Ilahi dan mukjizat sepanjang zaman, niscaya bagaimanapun sulitnya otak memahami, namun kenyataan berkata, ada keajaiban yang terjadi.

            Diluar dugaan tiba-tiba seseorang memperoleh ketenangan disaat firman Allah SWT asyik dibaca dan ditadabburi. Bahkan terkadang ketegangan dan kegundahan yang begitu mengusik perasaan dan menjadi beban hidup, tiba-tiba lenyap seketika. Demikian itu sesungguhnya dampak dari penyakit al-wahn yang diderita oleh kebanyakan manusia. Merka begitu mencintai dunia dan disaat yang sama begitu takut terhadap urusan Akhirat. Setiap waktu urat syarafnya tegang karena menghadapi tekanan dari obsesi urusan duniawi yang tak pernah ada habisnya. Ia lupa bahwa dengan membaca al-Qur’an, bukan hanya memenangkan pikiran saja tetapi juga akan menentramkan hati, tapi juga akan memberikan solusi dari segala kesusahan dan segala keruwetan hidup.

Amalkan dan Rasakan Nikmatnya

          Al-Qur’an bukanlah bacaan apalagi nyanyian yang sekedar dibaca berulang-ulang tanpa makna. Al-Qur’an adalah pedoman dan sumber kekuatan untuk meraih kejayaan dan kemenangan.
Allah SWT berfirman:

“Wahai manusia (sungguh) telah datang kepadamu pelajaran (al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (Yunus [10]: 57).

            Dahulu, sering ada kisah soal keyakinan yang mengagumkan di kalangan para ulama atau orang-orang shalih. Orang-orang tua juga seringkali mengisahkan hal serupa.

            Cerita sederhananya, terkadang ada rasa merinding jika sedang berjalan sendirian ditengah hutan atau tempat yang gelap. Entah karena takut dengan binatang buas atau sesuatu yang lainnya. Maka cukup dengan membaca beberapa ayat saja, rasa takut itu seketika hilang.

            Contoh diatas bisa saja dianggap sugesti dalam diri saja. Tapi sebenarnya itu adalah bagian kayakinan terhadap alQur’an sebagai mukjizat. Makhluk-makhluk menakutkan itu bisa disingkirkan oleh getaran wahyu. Mereka juga makhluk dan ada Zat Maha Kuat yang mengendalikannya. Lebih dari itu, jiwa manusia bisa tenang dengan membaca ayat-ayat Allah SWT.

Demikian halnya saat lapar, lalu kita membaca al-Qur’an. Terkadang kalu sudah keasyikan membaca, rasa lapar itu tidak terasa lagi hingga ia menyelesaikan bacaan al-Qur’an. Diakui, keasyikan terhadap pekerjaan lain juga bisa menimbulkan hal yang sama. Lupa terhadap apa yang dirasakan sebelumnya. Tapi karena ini wahyu dan firma Allah SWT, maka tidak mustahil saat ayat-ayat itu dicerna, tiba-tiba ada sesuatu yang menyenangkan tanp melalui proses biasanya.

Jadi tak perlu diherankan lagi, kendatipun kelihatannya tidak ilmiah. Ini adalah kerja malaikat yang mesti diyakini orang beriman.

Setidaknya ayat diatas tadi bisa menjadi motivasi buat kita semua untuk mendorong agar kita terus membaca dan membersamai al-Qur’an, serta mempelajari dan mengamalkannya sebagai satu-satunya sumber yang tak pernah habis digali potensinya.  Beda dengan potensi alam sekitar kita, yang sudah hampir habis dikuras oleh manusia itu sendiri.sedangkan potensi diri  dan potensi al-Qur’an belum tergali sebagaimana yang telah Allah SWT perintahkan kepada kita (manusia).

Umat islam harus meyakini bahwa akan tiba masa dimana para pemikir, cendikiawan, ataupun ilmuwan, selama tidak berbasis dengan nilai al-Qur’an, akan kebingungan dengan ilmunya sendiri. Dan pada saat itu kita datang menawarkan dan meneguhkan al-Qur’an. Siapa yang mengamalkan ajaran al-Qur’an sebagaimana mestinya, niscaya akan betul-betul meraih ketenangan, kenikmatan, dan kemenangan dalam hidupnya. Semua permasalahan hidup yang menderanya selama ini akan terkikis dengan sendirinya.

Itulah keyakinan yang harus terpatri dalam diri orang beriman. Kendati secara kuantitas jumlah mereka sedikit, ilmu mereka sangat terbatas, dengan dukungan yang juga begitu pas-pasan, kalau tak ingin disebut kekurangan. Namun kelompok kecil tersebut tak boleh sampai berjiwa kerdil, sebab mereka sedang mengamalkan dan menghidupkan al-Qur’an, meski hanya sejumput dari isi dan kandungan al-Qur’an.

Allah SWT niscaya “turun tangan” mencurahkan petunjuk ilham, mengajari mereka gagasan-gagasan kreatif dan produktif. Dengan demikian, mereka akan mampu membuat langkah yang betul-betul dibutuhkan dan yang ditunggu-tunggu oleh umat sekarang ini.




Daftar Pustaka :
Majalah Suara Hidayatullah. Edisi 12. April 2019. “Cahaya Al-Qur’an”. Kota Surabaya. Penerbit PT Lentera Jaya Abadi.
Halaman refrensi : 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17.

Oleh : Nur khofifah
Mahasiswi : STEI SEBI, Depok.

Artikel Terkait