Wednesday, August 14, 2019

MENGUBAH CARA BERBICARA, MENGUBAH HIDUP


Oleh : Abizar Garibaldi



Siapa yang tidak kenal dengan Oprah Winfrey? Seorang wanita yang mampu membangun kerajaan media bernilai satu miliar dolar hanya dengan “mulut-nya”. Acara yang dibawakannya, Oprah Winfey Show tidak hanya mencapai 22 juta penonton di Amerika Serikat, tetapi juga ditayangkan di 14 negara di dunia. Oprah berasal dari daerah Harlem yang kumuh, tidak memiliki prestasi akademis, dan sebagai wanita pun, ia tidak tergolong menarik, satu-satunya alasan mengapa ia bisa mendunia adalah karena gaya berbicaranya yang sangat luar biasa, banyak orang menyebut kelebihannya terletak pada rasa simpatinya, ia mengganti kekurangannya dengan ucapan hangat yang mampu merangkul dan menghibur lawan bicara.

Kemampuannya dalam berbicara, telah merubah hidup Oprah Winfrey, berbicara atau berkomunikasi adalah hal yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan sehari-hari, berbicara seakan-akan menjadi hal utama yang harus kita kuasai. Dan kebanyakan konflik yang ada dalam kehidupan kita, sering terjadi karena kita belum bisa berbicara atau berkomunikasi dengan baik dengan lawan bicara kita.
Oh Su Hyang, seorang dosen dan pakar komunikasi terkenal di Korea Selatan mengatakan bahwa teknik terpenting dalam komunikasi adalah mendengar. Dalam bukunya yang berjudul “ Bicara Itu Ada Seninya” beliau memberikan rumus bagaimana cara kita untuk dapat berbicara dan berkomunikasi dengan baik, yaitu C = Q x P x R ( Communication = Question x Praise x Reaction).
‘C’ adalah communication atau komunikasi. Ada 3 hal yang diperlukan untuk memenuhinya, yaitu ‘Q’ atau question (pertanyaan), ‘P’ atau praise (pujian), ‘R’ atau reaction (reaksi). Dengan demikian, komunikasi akan berjalan dengan lancar dan baik,harus mengandung pertanyaan, pujian, dan reaksi.

Question (pertanyaan) adalah bentuk ketertarikan terhadap lawan bicara. Oleh karena itu pertanyaan dapat disebut sebagai dasar komunikasi. Komunikasi tidak akan terwujud jika tidak ada ketertarikan sama sekali terhadap lawan bicara. Berbicara tanpa ketertarikan sama saja seperti berbicara sendiri dengan tembok. Pertanyaan sederhana seperti “siapa nama anda?”, “anda tinggal dimana?” pertanyaan ini tidak akan muncul jika tidak ada ketertarikan terhadap lawan bicara, tanpa pertanyaan yang mengandung ketertarikan maka tidak akan mungkin akan berhasil.

Praise (pujian) sangat penting dalam membangun hubungan yang kokoh, lawan bicara akan menjadi sangat senang apabila kita memujinya, pujian sederhana seperti “anda terlihat lebih muda ya” atau “sepatu anda motifnya keren” itu akan langsung berdampak kepada lawan bicara kita. Mungkin anda berpikir bahwa siapa pun bisa memuji dengan mudah. Namun, banyak situasi dimana pujian tidak bisa keluar pada saat kita ingin memuji, hal seperti itu memang sering terjadi, oleh karena itu diperlukan “latihan memuji”. Kita perlu membiasakan diri untuk memuji agar bisa fleksibel seperti pegas dalam kondisi apa pun.

Reaction (reaksi) muncul jika kita mendengarkan lawan bicara. Reaksi yang paling umum adalah umpan balik verbal seperti “Oh ya?” siapa pun pasti ingin terus berbincang lebih lama dengan lawan bicara yang menunjukkan reaksi seperti ini, Larry King seorang legenda dunia bincang-bincang mengatakan bahwa aturan pertama dalam berdialog adalah mendengarkan. “Tunjukkanlah dengan sungguh-sungguh bahwa anda tertarik dengan apa yang sedang dikatakan oleh lawan bicara, sehingga dia pun akan berbuat demikian terhadap anda. Untuk menjadi pembicara yang hebat, anda harus terlebih dahulu menjadi pendengar yang hebat”. Dengan menerapkan rumus diatas, orang-orang akan senang berbicara dengan anda, dan itu akan merubah hidup anda.

Oleh : Abizar Garibaldi
Mahasiswa : STEI SEBI

Artikel Terkait