Wednesday, August 28, 2019

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Lingkungan Pesantren

Oleh Shofa Mardhiyya

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya untuk menciptakan suatu kondisi perorangan, keluarga, kelompok masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku guna membantu masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri sehingga masyarakat sadar, mau dan mampu mempraktekkan PHBS melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Sosial Support), dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Terdapat 5 tatanan PHBS yaitu PHBS rumah tangga, PHBS sekolah, PHBS tempat kerja, PHBS sarana kesehatan, PHBS tempat tempat umum. Sanitasi pesantren pada dasarnya adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada pengawasan terhadap struktur fisik, dimana orang menggunakannya sebagai tempat berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Sarana sanitasi tersebut antara lain ventilasi, suhu, kelembaban, kepadatan hunian, penerangan alami, konstruksi bangunan, sarana pembuangan sampah dan kotoran manusia, dan penyediaan air bersih. Kondisi sanitasi pada pesantren akan sangat berkaitan dengan angka kesakitan berbasis lingkungan yang menular.

            Beberapa masalah sanitasi sangat umum di pesantren antara lain keterbatasan sarana sanitasi dan perilaku santri yang belum ber PHBS. Masalah lain juga di temukan. Sanitasi yang kurang memadai, higiene santri untuk yang buruk, pengetahuan, sikap, dan perilaku para santri yang kurang mendukung pola hidup sehat. Beberapa komponen lainnya adalah sanitasi lingkungan pesantren yang terdiri dari lokasi dan konstruksi pesantren, penyediaan air bersih, ketersediaan jamban, pengelolaan sampah, sistem pembuangan air limbah, sanitasi dan kepadatan pemondokan, sanitasi ruang belajar santri, dan sanitasi masjid pesantren.

            Lingkungan dan bangunan pesantren harus selalu dalam keadaan bersih dan tersedia sarana sanitasi yang memadai. Selain itu lingkungan dan bangunan pesantren tidak memungkinkan sebagai tempat bersarang dan berkembang biaknya serangga dan binatang menganggu lainnya. Bangunan pesantren juga harus kuat, utuh, terpelihara, mudah di bersihkan dan dapat mencegah penularan penyakit dan kecelakaan.

            Fasilitas sanitasi mempunyai kriteria persyaratan ; Kualitas : tersedia air bersih yang memenuhi syarat kesehatan (fisik, kimia dan bakteriologis). Kuantitas : tersedia air bersih minimal 60 lt/tt/hr. Kontiutas : Air minum dan air bersih tersedia pada setiap tempat kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan. Sedangkan aspek kesehatan sanitasi toilet dan kamar mandi, selain harus selalu dalam keadaan bersih, juga lantai kamar mandi terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin, berwarna terang, dan mudah di bersihkan. Toilet dan kamar mandi harus di lengkapi dengan pembuangan air limbah dan penahan bau (water seal). Sedangkan letak toilet dan kamar mandi tidak boleh berhubungan langsung dengan tempat pengelolaan makanan (dapur, ruang makan). Toilet dan kamar mandi karyawan atau pengurus harus terpisah dengan toilet santri. Sedangkan perbandingan jumlah santri dengan jumlah jamban dan kamar mandi adalah 15 santri satu jamban dan kamar mandi, selanjutnya setiap penambahan 25 tempat tidur harus di tambah 1 jamban dan 1 kamar mandi.

            Tempat sampah hendaknya di lengkapi dengan penutup. Tempat sampah terbuat dari bahan yang kuat, tahan karat, permukaan bagian dalam rata atau licin. Tempat sampah di kosongkan setiap 1 x 24 jam atau apabila 2/3 bagian telah terisi penuh. Jumlah dan volume tempat sampah di sesuaikan dengan perkiraan volume sampah yang di hasilkan oleh kegiatan. Tempat sampah harus di sediakan minimal 1 buah untuk setiap radius 10 meter dan setiap jarak 20 meter dan pada ruang tunggu dan ruang terbuka. Tersedia tempat pembuangan sampah sementara yang mudah di kosongkan, tidak terbuat dari beton permanen, terletak di lokasi yang mudah di jangkau kendaraan pengangkut sampah dan harus di kosongkan sekurang kurangnya 3 x 24 jam.







                                                                                                            Shofa Mardhiyya
                                                                                                            Mahasiswa STEI SEBI

Artikel Terkait