Thursday, August 8, 2019

Seputar Jual Beli Kredit

Oleh Muhamad Fatur Rahman


I.                   Pendahuluan

Manusia tidak akan luput dari jual beli, karena jual beli adalah salah satu sarana manusia yang saling melengkapi antara satu sama lainnya. Di zaman yang serba canggih ini perkembangan sistem ekonomi sudah sangat pesat. Beragam sistem ditawarkan oleh para niagawan untuk bersaing menggaet hati para pelanggan, serta berbagai macam jual beli yang terlealisasikan saat ini, salah satunya jual beli kredit.

Seorang niagawan muslim yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan dunia sudah semestinya cerdik dan senantiasa menganalisa fenomena yang ada agar mengetahui bagaimana pandangan syariat terhadap transaksi ini. Dengan demikian tidak mudah terjerumus ke dalam larangan syariat islam. Pada dasarnya transaksi muamalah hukumnya adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkan.

II.                Pembahasan

    A.    Definisi Jual Beli Kredit

Jual beli kredit berasal dari  kata yaitu jual beli dan kredit. Secara etimologi, Jual beli dalam bahasa arab disebut ba’i[1], yang berarti mengambil sesuatu dan memberi sesuatu.[2]

Secara terminologi, jual beli menurut ulama Hanafi adalah tukar menukar  maal (barang atau harta) dengan maal (barang  atau harta) yang dilakukan dengan cara tertentu. Pengertian lain yakni tukar-menukar barang yang bernilai dengan semacamnya dengan cara yang sah dan khusus yaitu ijab-qabul atau tanpa ijab-qabul.[3]

Jual beli menurut ulama Syafi’iyah adalah tukar menukar harta atau materi dengan harta atau materi lain dan sejenisnya dengan pemindahan kepemilikan.

Secara etimologi kredit adalah pembagian dan pembelahan sesuatu menjadi beberapa bagian secara terpisah.[4]

Kredit dalam bahasa arab[5] adalah ((تقسيط, kata qisth sama dengan iqsaath, yakni bagian atau jatah. Maka kata taqsieth atau kredit artinya adalah pembagi-bagian.[6]

Jadi dapat disimpulkan, jual beli kredit adalah transaksi jual beli, dimana barang diterima pada waktu transaksi dengan pembayaran tidak tunai dengan harga yang lebih mahal daripada harga tunai. Serta pembeli melunasi kewajibannya dengan cara angsuran tertentu dalam jangka waktu tertentu.[7]

   B.     Hukum Jual Beli Kredit

Para ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum jual beli kredit yang ada pada zaman ini menjadi dua pendapat, yaitu :

    1.      Boleh, adapun dalil-dalinya :
      a.     Allah ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوه[8]
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”.[9]

Ibnu Abbas menjelaskan, ayat ini diturunkan khusus berkaitan dengan jual beli As Salam[10] saja. Imam Al Qurtubhi menjelaskan, artinya kebiasaan masyarakat madinah melakukan jual beli as salam adalah penyebab turunnya ayat ini. Kemudian ayat ini berlaku untuk segala bentuk pinjam meminjam berdasarkan ijma’ ulama.[11]

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُم[12]
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.”

Jual beli kredit termasuk jenis perdagangan yang dilakukan suka sama suka sehingga diperbolehkan.[13]

    b.      Rosulullah sallaullahu ‘alaihi wasalam bersabda :
اشترى رسول الله صلى الله عليه و سلم من يهودي طعاما بنسيئة –أي بالأجل- ورهنه درعا له من حديد
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran yang ditangguhkan  dan beliau juga menggadaikan baju besi kepadanya.” (HR. Bukhari:2096 dan Muslim: 1603)[14]

Diriwayatkan dari Amru bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Nabi menyiapkan unta-unta zakat untuk tunggangan pasukan berjihad, ternyata jumlah unta tidak mencukupi, maka nabi memerintahkanku untuk membeli unta dengan cara tidak tunai dan dibayar nanti bila datang unta zakat, maka aku beli seekor unta dengan dua/tiga ekor unta yang lebih muda yang dibayar setelah unta zakat datang maka nabi membayarnya. (H.R Ahmad. Sanad hadits ini dinyatakan shahih oleh Ar Nauth).[15]

    c.       Menurut pandangan para fuquha’ :

Menurut ulama Hanafiyah, penjualan kontan dengan kredit tak bisa disamakan.[16] (Badai’ush Shanai, V/142). Kemudian menurut ulama penundaan salah satu alat tukar dapat menyebabkan  pertambahan kompensasi. (Al Muwafiqaat, IV/41). Syaikh islam Ibnu Taimiyyah menandaskan putaran waktu memang memiliki jatah harga, (Majmu’ Al Fatawa, 29/449).[17]

     2.      Haram, adapun dalilnya :
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أنه نهى عن بيعتين في بيعة

Dari Abu Huroiroh dari Rosululloh bahwasannya beliau melarang dua transaksi jual beli dalam satu transaksi jual beli.”   (H.R. Tirmidzi)

Diantara penafsiran bentuk dua jual beli dalam satu jual beli, yaitu: penjual berkata, “Saya jual barang ini kredit dengan harga sekian dan tunai dengan harga sekian”. Maka jual beli kredit termasuk larangan dalam hadits ini karena harganya dua, kredit sekian dan tunai sekian.[18]

Imam Khatabi mengatakan, jika harga yang ditawarkan majhul (tidak jelas), maka transaksinya batal, dan adapun jika ditentukan salah satu dari dua harga yang ditawarkan dan masih dalam majlis maka hukumnya sah.[19]

   C.    Syarat-Syarat dalam Jual Beli Kredit

   1.      Status barang dalam wewenang dan kekuasaan penjual saat akad, maka tidak boleh keduanya melangsungkan kesepakatan atas harga, penentuan waktu pembayaran dan angsuran, kemudian sesudah itu penjual baru membelinya dan menyerahkannya kepada pembeli.[20] Maka tidak boleh pihak jasa kredit melangsungkan akad jual beli motor dengan konsumennyasebelum barang yang telah dibelinya dari dealer motor diterimanya.[21] Ini diharamkan karena Nabi sallaullahu ‘alaihi wasalam bersabda
لا تبع ما ليس عندك
        “janganlah menjual sesuatu yang tidak ada padamu[22], (yakni tidak berada pada kepemilikanmu saat akad[23]).

    2.      Barang yang dijual bukan merupakan emas, perak atau mata uang. Maka tidak boleh menjual emas dengan cara kredit karena ini termasuk riba bai’.[24]

Sebagaimana sabda Nabi sallaullahu ‘alaihi wasalam yang diriwayatkan dari Ubadah bin As Shamit,
الذهب بالذهب ، والفضة بالفضة ، والبر  بالبر ، والشعير بالشعير ، والتمر بالتمر ، والملح بالملح مثلا  بمثل سواء بسواء يداً بيد ، فإذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يداً بيد
“emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jerawut dengan jerawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam, (harus dilakukan dengan) takaran yang sama, dari tangan ketangan. Jika jenisnya berbeda maka silahkan lakukan transaksi sesuai dengan kehendak kalian.”[25]

   3.      Barang yang dijual secara kredit harus diterima pembeli tunai saat akad berlangsung.[26] Dan Penjual tidak berhak menguasai hak kepemilikan barang sesudah akad, namun, dia boleh menetapkan syarat atas pembeli agar menggadaikkan barang padanya untuk menjamin haknya dalam pembayaran cicilan yang telah disepakati.[27]

   4.      .Pada saat transaksi dibuat, harga harus satu dan jelas serta besarnya angsuran dan jangka waktunya harus jelas.[28] Sebagaimana sabda Nabi sallaullahu ‘alaihi wasalam yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas,
من سَلَّفَ فِي تَمْرٍ فَلْيُسْلِفْ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ
“barang siapa yang meminjamkan sesuatu maka ia meminjamkannya dalam takaran yang jelas dan dalam timbangan yang jelas.”[29]

  5.      Tidak boleh mengharuskan pembeli -saat akad atau sesudah itu- untuk membayar uang lebih atas apa yang sudah disepakati pada saat akad manakala pembeli terlambat membayar cicilan (yakni membayar uang punishment), karena itu adalah riba yang haram.

   6.      Haram atas pembeli yang mampu (yakni punya uang untuk membayar) untuk mengulur-ulur pembayaran cicilan dari waktunya.[30]

   7.      Akad jual beli harus tegas, maka tidak boleh akad dibuat dengan cara beli sewa[31] (leasing).
   8.      Akad ini tidak dimaksudkan untuk melegalkan riba, sehingga tidak boleh jual beli inah,[32] dan tidak boleh akad jual beli kredit dipisah antara harga tunai dan bunga yang diikat dengan waktu. Contohnya: penjual dan pembeli membuat akad, harga motor ini 10 juta rupiah dan bunganya sebesar 1 juta rupiah sebagai imbalan waktu pelunasan selama 1 tahun. Karena kedua hal tersebut menyerupai riba.[33]

III.             Penutup

Kesimpulan

Jual beli kredit adalah transaksi jual beli, dimana barang diterima pada waktu transaksi dengan pembayaran tidak tunai dengan harga yang lebih mahal daripada harga tunai. Serta pembeli melunasi kewajibannya dengan cara angsuran tertentu dalam jangka waktu tertentu.

Maka jual beli kredit tidak menjadi riba jika memenuhi beberapa pesyaratan. Jadi, jika tidak memenuhi pesyaratan yang ada, maka jual beli kredit tidak sah. Demikian juga jual beli kredit yang terealisasikan pada masyarakat saat ini, jika tidak memenuhi persyaratan tersebut maka jual beli yang terjadi tidak sah, begitu juga sebaliknya.    Wallahu ‘alam bishawwab....

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”

Alhamdulillah semoga bermanfaat bagi kita semua….

Daftar Pustaka
1.      Ahmad Warson Munawwir, 1997, Al-Munawwir, Surabaya, Pustaka Progressif.
2.      Syaikh Shalih bin Abdul Aziz, 2015, Fikih Muyassar, Jakarta, Darul Haq.
3.      Wahbah Az Zuhaili, Al Wajiz Fie Fiqih Islami, Darul Fikri
4.      Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Jual Beli Secara Kredit, Solo, At Tibyan
5.      Majiddudin Muhammad bin Ya’qub Al Fayruz Abadi, 2015, Kamus Almuhith, Al Qohiroh, Darul Ibnu Al Jauzi.
6.      Erwandi Tarmizi, 2013, Harta Haram Muamalat Kontemporer, Bogor, PT. Bekat Mulia Insani.
7.      Abu Malik Kamal bin Sayid Salim, 2003, Shohih fiqih Sunnah, Jakarta, Pustaka At Tazkia
8.      Al Hafidz Abi Al Ula Muhammad Abdurrahman Ibnu Abdurrohim Al Mubarokfuri, 2001, Tuhfatul Ahwadzi, Al Qohiroh, Darul Hadits. 
9.      Kumpulan Ulama (Utsaimin, Abdurrahman As Sa’dy, Syaikh bin Baz, Shalih Fauzan), 2011, Tanya Jawab Lengkap Permasalahan Jual Beli, Jakarta : As Sunnah.


[1] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997, hal. 124.
[2] Syaikh Shalih bin Abdul Aziz, Fikih Muyassar, Jakarta : Darul Haq, 2015, hal : 345
[3] Wahbah Az Zuhaili, Al Wajiz Fie Fiqih Islami, Darul Fikri, jilid : 2, hal : 16.
[4] Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Jual Beli Secara Kredit, Solo : Pustaka At Thibyan, hal : 34-36
[5] Dalam kamus Al Munawir, hal 10, Al Ajl (الأجل) yang berarti tempo, tunda, batas waktu atau kredit.
[6] Majiduddin Muhammad bin Ya’qub Al Fairuz Abadi, Kamus Almuhith, Al Qohiroh : Darul Ibnu Al Jauzi, hal:544
[7] Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer, Bogor: PT. Bekat Mulia Insani, 2013, hal. 372.
[8] Q.S : Al Baqarah : 282
[9] Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer, Bogor: PT. Bekat Mulia Insani, 2013, hal. 375.
[10] Jual beli as salam adalah jual beli pesanan ( menjual barang secara inden dengan spesifikasi ciri-ciri yang telah dijelaskan didalam tanggungan penjual dengan harga kontan yang dibayarkan didepan. (lihat, fiqih Muyassar, hal 368)
[11] Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Jual Beli Secara Kredit, hal : 42
[12] Q.S : An Nisa’ : 29
[13] Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Jual Beli Secara Kredit, Solo : Pustaka At Thibyan hal : 43
[14] Syaikh Shalih bin Abdul Aziz, Fikih Muyassar, Jakarta : Darul Haq, 2015 hal : 357
[15] Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer, Bogor: PT. Bekat Mulia Insani, 2013, hal. 375.
[16] Yakni harga bisa dinaikkan karena penundaan dalam pembayaran. (Tabyienul Haqaa-iq, IV/78)
[17] Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Jual Beli Secara Kredit, Solo : Pustaka At Thibyan hal :58
[18] Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer, Bogor: PT. Bekat Mulia Insani, 2013, hal. 377.
[19] Kumpulan Ulama (Utsaimin, Abdurrahman As Sa’dy, Syaikh bin Baz, Shalih Fauzan), Tanya Jawab Lengkap Permasalahan Jual Beli, Jakarta : As Sunnah, 2011), hal ; 274.
[20] Syaikh Shalih bin Abdul Aziz, Fikih Muyassar, Jakarta : Darul Haq, 2015 hal : 359
[21] Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer, Bogor: PT. Bekat Mulia Insani, 2013, hal. 379.
[22] Ketentuan ini berlaku pada jual beli a’yan (yaitu dzatnya barang), bukan pada jual beli sifat (dengan menyebutkan kriterianya.
[23] Seperti, jual beli hamba yang kabur, menjual barang sebelum memegang dan menerimanya, menjual barang lain tanpa seizinnya, ini menurut pendapat As Syafi’i, dan sejumlah ulama malik, para murid Abu Hanifah, dan malik. (tuhfatul Ahwadzi, Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarokfuru, 4/360)
[24] Wahbah Az Zuhaili, Al wajiz Fie Fiqih Islami, Darul Fikri, jilid:2, hal:51
[25] Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Jual Beli Secara Kredit, Solo : Pustaka At Thibyan hal : 51
[26] Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer, Bogor: PT. Bekat Mulia Insani, 2013, hal. 379.
[27] Syaikh Shalih bin Abdul Aziz, Fikih Muyassar, Jakarta : Darul Haq, 2015, hal : 358
[28] Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer, Bogor: PT. Bekat Mulia Insani, 2013, hal. 379
[29] Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Jual Beli Secara Kredit, Solo : Pustaka At Thibyan, hal : 50
[30] Syaikh Shalih bin Abdul Aziz, Fikih Muyassar, Jakarta : Darul Haq, 2015 hal : 358
[31] Yakni dengan terjadinya antara kedua belah pihak untuk saling melakukan jual beli terhadap barang tertentu dengan harga yang disepakati, hanya saja sistem bisnis seperti ini tidak memberikan pengaruh secara langsung, dalam arti tidak terjadi pepindahan kepemilikansecara langsung dari penjual kepembeli. (lihat Jual Beli Secara Kredit, Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, hal : 122)
[32] Jual beli ‘inah adalah membeli barang dengan cara kredit kemudian barang tersebut dijual kembali kepada penjual tadi secara tunai dengan harga dibawah harga jual pertama. Dan hukum dari jual beli ini para ulama sepakat bahwa hukumnya haram, dan madzhab syafi’i memperbolehkannya, akan tetapi dalilnya tidak kuat. (lihat dalam kitab, harta haram kontemporer, Erwandi Tirmizi, hal: 383,  dan Al Wajiz fie Fiqih Islami, Wahbah Az Zuhaili, 2/48, dan shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal bin Sayid Salim, 5/447)
[33] Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer, Bogor: PT. Bekat Mulia Insani, 2013, hal. 379


Artikel Terkait