Friday, August 9, 2019

Still Available


Oleh    : Erna Nurliza

Satu titik embun belahan jiwaku, memanggil dengan pandangan yang sudah tak mampu untuk mengatakan, antara ada dan tiada aku masih berharap, sejak israel meratakan tempat berteduh kami, merenggut nyawa, sungguh kejam aku katakan, hatiku perih walaupun hanya separuh darahku dialiri darah palestina, tapi hatiku, jiwaku, pengorbananku seutuhnya bersama pembebebasan palestinaku.

Aku berada di tanah palestina. Tanah yang penuh konflik. Tanah yang menjadi rebutan, tanah yang katanya di peruntukkan untuk israel, tapi sekali lagi tidak aku katakan.

Suara jerit dan tangis adalah alunan nada yang senantiasa mengiringi perjalan hidup ditanah palestina. Sedangkan cahaya yang berasal dari ledakan bom dan misil adalah penerangan yang cukup untuk menerangi gelapnya malam, angin dingin menusuk tulang. Membekukan Gaza dengan segela kegelisahan dan ketakutan.

Kupandangi sosok wajah yang tengah lelah dari balik jendela yang tengah hampir rusak. Ia tampak lusuh, wajahnya berdebu, compang camping dan terkena percikan darah disana sini.
Abi..umii

Dan saat itu tentara israel kembali, terdengar suara keriuhan, suara senapan, pistol. Dentuman. Suara ledakan. Gemuruh, teriakan..

“Tembak”

“Bunuh”

Semua berlari.

Dan pada saat itu abi tertembak oleh tentara israel, aku yang tiada daya bisa menyelamatkan abi.

Ratapan, tangisan, jeritan semakin memerihkan malam. Darah muncrat, mengalir.

Abiiiii engkau jangan pergi, perjuangan belum selesai, bantu aku abi.

Bantu aku untuk jihad dijalan –Nya.

Wahai buah hatiku. Engkau harus tumbuh dewasa dan mengikuti jejak ayahmu.

Abi telah syahid!

Tidak umi aku tidak menunggu tumbuh dewasa untuk mengikuti jejak abi, mereka membutuhkan ku.

Umii..negeri ini selalu tampak bercahaya, dari jauh cahaya itu tampak indah, berwarna warni menghias angkasa. Namun siapa sangka, ternyata cahaya itu datang meminta ribuan nyawa, salah satunya abi.

Rasanya tidak rela sekali melihat abi terguyur darah dan terhampar dengan sadis atas pengkhianatan kemanusiaan. Mereka datang menelusup, menjalar, bahkan telah mendarah daging dalam diri mereka, hingga sebuah nyawa kaumnya tidak lebih berharga dari seekor hewan yang harus dimusnahkan.

Ah mereka sungguh kejam!

Umi boleh saja menganggapku bocah kecil, namun jiwa ku tidak akan pernah kalah oleh todongan senapan.

Ingat satu hal nak, abi sudah syahid. Jika suatu nanti umi juga syahid seperti abi, engkau jangan pernah pergi meninggalkan tanah palestina.

Tidak ada yang membuatku takut berada di palestina, aku tidak akan gentar menghadapi zionis, bahkan maut sekalipun, kecuali perpisahan dengan umi.

Menjelang suara azan berkumandang. Seketika tentara israel kembali, sebuah peluru mendarat, suara teriakan, tangisan.

Tembaaak..

Semua berlari...

Allaaaahuuakbar..

Aku mendengar suara jeritan yang meminta pertolongan.

Entah itu siapa, tetapi hatiku begitu bergetar dan merasa ia sangat membutuhkanku.

Astagaa aku menengok kebelakang, umi sudah tak lagi ada disampingku, umii..

Aku berteriak dan berlari compang camping, aku tidak takut terhadap tentara israel yang tengah menembak, aku takut kehilangan umi.

Peluru-peluru seperti hendak menghancurkan warga palestina.

Umiiii dimana, umi dimana.

Seketika rasanya aku tak berdaya saat umi tidak membersamaiku.

Aku menapaki jalan yang begitu suram, walau hanya diterangi bulan pucat penghujung malam.

Lantas aku bingung apa yang harus aku lakukan, abi telah syahid, dan umi entah dimana aku tak tahu.

Seribu satu kekuatan, semangat membara, melihat ribuan nyawa melayang karena itu ribuan mentalpun semakin membara dan aku harus ada serta tergolong didalamnya.

Tentara israel terus menembak dan meluluh lantakan tanpa rasa kemanusiaan sedikitpun.

Aku memberanikan diri ikut berjihad atas nama palestina tercinta dengan menggunakan batu dan melempar ke tentara zionis.

Allahuakbar..

Seakan kota ini sudah tak layak lagi untuk dihuni.

Malam itu semakin mencekam, bom bom berjatuhan, peluru peluru berhamburan, nyawa nyawa melayang, raga raga berjatuhan.

Malam itu, tepat depan mata aku melihat umi tertembak tepat didada, darah muncrat dan mengalir dari dalam tubuh umi, tubuhnya terjatuh dan tak berdaya.

Umii rasanya aku tidak rela bila engkau pergi meninggalkan ku sendiri di kota ini, suara ledakan
Tentara zionis yang amat kejam itu mengepung dan kemudian menyeretku, sungguh kejam kau, kau sepertinya tidak mempunyai hati dan tidak pantas disebut sebagai manusia.

 Aku menyerang dengan senjata seadanya.
Allahuakbar ...

Tentara israel menyeretku seperti hewan, aku berkata aku jihad dijalan_Mu ya Rabb maka bantulah aku.

Allahuakbar..

Kupandangi wajah-wajah tentara zionis yang hedak menembak ku, atas kuasa allah tentara zionis melepaskan ku.

Hiruk pikuk semua berlari, ratapan tangisan jeritan semakin memerihkan malam,  api berkobar, orang-orang terkapar terlempar dari air kehidupan.

Aku melihat semua tangan-tangan jahannam itu meyeret bergantian tanpa henti.

Dimana HAM?

Aku berteriak..

Kini milikkku hanya Allah dan kota ini. Aku harus berjihad demi kebenaran.

Hening. Aku hanya separuh dilangit bintang tiada, harapanku akan ku jadikan impian dan ku wujudkan dengan sebuah perjuangan.

Terdengar teriakan, hentikaannn...

Cukup sudah. Teriakan semakin terdengar jelas, teriak pasukan tentara zionis.

Tangkap dia hidup-hidup, dia wanita aku tidak ingin dia mati dengan mudah.

Pasukan kita sudah banyak yang tewas.

Para tentara zionis itu tertawa. Ha.Hahaha. Ha  Ha..

Perkosa saja sampai dia tewas..

Jahannam!!!

ketika itu aku ada, hei kau biadab! Kau layaknya hewan yang tak patut dianggap manusia.

Tentara zionis keheranan melihatku mengatakan itu, lancang sekali kau berbicara, bunuuh.

Jangan kasih ampun. Tembak.

Allahu Akbar!!

“Aaaaaaaaaa”

Bakar..

Tembak..

Tubuhku terkapar, dilempar, jiwaku bagai megelupas. Jantungku terdengar berkejaran, aku berteriak sekuat tenaga menyebut asma allah.

Allahu akbar!!!
Atas izin allah aku masih bertahan dan selamat dalam penyerangan tentara zionis.
Malam yang gelap aku selamat. Allah maha kuasa.
Aku hanya separuh diujung malam penantian dengan sebuah harapan.
Kujumpai kepedihan Gaza.
Aku masih ada untukmu palestina ku...

Oleh    : Erna Nurliza
Status  : Mahasiswi
Alamat : Jln.pondok rangga, RT/RW : 01/01


Artikel Terkait