Saturday, September 14, 2019

Ketika Islamophobia Dimulai dari Kementerian Agama

Oleh Ahmad Dzakirin
Islamophobia dari kalangan umat lahir dari mental apologetik karena beranggapan bahwa sebagian nilai-nilai agama menjadi beban kemanusiaan.
Dalam sudut pandang itu, terminologi Islam seperti Jihad, khilafah, amar ma'ruf nahi Munkar atau bahkan solidaritas Islam (Ukhuwwah Islamiyyah) bertentangan dengan nilai-nilai modernitas (baca: liberalisme)
Oleh karena itu, nilai-nilai yang dianggap berbahaya itu harus dihapus, tidak hanya secara substansi, namun juga istilah.
Sebagian orang yang lemah berpikir berkesimpulan bahwa pengetahuan umat, misalnya, tentang perang akan melahirkan intoleransi dan radikalisme.

Sementara Barat yang modern sejak awal memahami konteks perdamaian dalam kesiap-siagaan mereka untuk berperang.
"Si vis pacem para bellum" (Jika ingin damai, anda harus bersiap perang), demikian kredo mereka. Kredo yang sebenarnya jamak dipahami oleh setiap orang yang ingin menciptakan perdamaian.
Karena konsep ini pula, bujet militer di beberapa negara maju sangat besar dan bahkan melampaui bujet pendidikan dan kesejahteraan sosial mereka.
Pertanyaannya, apakah kesadaran mereka tentang perang beserta praktik kewaspadaannya melahirkan radikalisme dan intoleransi?
Jawabannya ya, ada dalam otak para pejabat kementerian agama. Rupanya, tanpa sadar, mereka mempersepsikan Islam menjadi 'tertuduh' atas perang dan kekacauan dunia.
Coba kita urai dengan akal sehat.
Singapura, negeri red dot "nokhtah merah" yang berpenduduk 6 juta, mewajibkan seluruh warganya mengikuti wajib militer selama 2 tahun.
Selain itu, negeri singa itu memiliki sistem alutsista yang jauh lebih besar dari posturnya sebagai negara kota.
Apakah rakyat Singapura menjadi radikal, intoleran dan ingin berperang?
Tidak. Rakyat Singapura cinta damai dan sangat tidak mungkin memprovokasi dirinya untuk berperang dengan negara tetangganya, sebesar Indonesia.
Karena dalam sistem internasional yang cenderung anarkis (anarchic system), maka kondisi lingkungan di sekitarnya sulit ditebak (volatile region). Itulah mengapa mereka bersiap-siaga. "Ponder the improbable".
Dengan doktrin itu, pelbagai upaya di atas dapat menciptakan efek deteran (pencegah) sehingga kemungkinan perang menjadi tidak ada atau semakin melemah.
Walhasil, Singapura menikmati masa-masa damai itu dengan perdagangan dan investasi yang sangat tinggi dengan Indonesia.
Dalam teori neo liberal, perdagangan dua negara bahkan untuk kondisi yang tidak seimbang sekalipun dapat menciptakan perdamaian dan mengurangi resiko perang (likehood of war).
Karena doktrin itu pula, dunia menikmati masa damai, tidak adanya perang besar lebih dari 7 dekade sejak bom nuklir dijatuhkan di dua kota di Jepang.
Karena, negara-negara pemilik nuklir memahami benar konsekuensi membinasakan perang modern. Dan kepemilikan nuklir dalam praktiknya, seperti dikatakan Joan Stanley, mata-mata Uni Soviet dalam film "Red Joan" berarti "levelling the playing field in the postwar", yakni menciptakan keseimbangan dan konsekuensinya, hadirnya perdamaian pasca perang.
Seberapapun bencinya AS atas Korea Utara, tidak akan berani menginvasi negara miskin Korea Utara karena nuklir yang dimilikinya.
Dalam konteks ini, kita memahami betapa lemah argumen para pejabat itu ketika menghapus "fakta (adanya) perang" dalam sejarah Islam.
Bagaimana mereka menjelaskan potret Islam di awal pertumbuhannya, ketika momen-momen kritis perkembangan agama, justru ada dalam perang Badar, Uhud dan Khandaq.
Ketimbang 'menyembunyikan' sejarah perang, kenapa para pejabat itu tidak menjelaskan bahwa perang-perang Nabi adalah perang yang memiliki landasan moral dan kemanusiaan (Jihad fi sabilillah), sebagaimana pula, sebagian perang yang dilakukan sebagian umat manusia tidak bermoral dan menghancurkan umat manusia (Un-holly war).
Ada dua tesis saya untuk para pejabat Kemenag yang lemah akal ini.
Pertama, sebagian besar mereka dihinggapi sikap apologetik, yakni adanya anggapan problematis terhadap sebagian nilai-nilai Islam sehingga harus direvisi atau dihilangkan.
Pandangan mereka jika dilacak lebih jauh lahir dari mental rendah diri (inferiority complex), sisa-sisa mental bangsa jajahan. Merek unggul, kita lemah, mereka baik, kita brengsek.
Kedua, sulit untuk ditutupi, adanya agenda titipan kalangan liberal dan para pemilik modal. Siapa lagi mereka. Mereka tidak dapat menoleransi perang dan kekerasan karena alasan agama dan kemanusiaan, namun menyediakan ruang kekerasan baik oral maupun verbal karena rasisme dan kepentingan rakus para pemilik modal. Dan hadirnya, disertasi keabsahan hubungan seksual non marital sebagai momentum pertamanya.
Payah...

sumber : FB

Artikel Terkait