Thursday, October 31, 2019

Jadi Social Entrepreneur? Siapa Takut!


Oleh : Sajidah Istiqomah

Social entrepreneur  melihat masalah sebagai peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat sekitar. Hasil yang ingin dicapai bukan keuntungan materi atau kepuasan pelanggan, melainkan bagaimana gagasan yang diajukan dapat memberikan dampak baik bagi masyarakat Mereka seperti seseorang yang sedang menabung dalam jangka panjang karena usaha mereka memerlukan waktu dan proses yang lama untuk dapat terlihat hasilnya. Seperti yang dilakukan oleh Pak Sugeng salah satu pegiat kewirausaan social yang sudah merintis usaha sosialnya dari tahun 2003 sejak itu Pak Sugeng masih berstatus mahasiswa tingkat akhir dan ditahun yang sama beliau mendapatkan beasiswa dari BAZNAZ dimana para penerima beasiwa tersebut dibina untuk mengelola dana zakat menjadi pemberdayaan masyarakat dan bantuan berupa materil pada masyarakat yang masuk dalam delapan asnab zakat.
(sumber : /tbmceria.blogspot.com/)

            Modal utama untuk menjadi social entrepreneur hanya satu yaitu idealisme. Idealisme bahwasannya bisnis yang dijalankan bukan untuk profit pribadi semata tapi untuk pemberdayaan masyarakat. Menjadi social entrepreneur memang terbilang membutuh proses panjang dalam menjalankannya.

            Ada dua kunci utama untuk menjaga semangat menjadi social entrepreneur versi Pak Sugeng yaitu inovasi dan networking. Inovasi adalah kunci pertama untuk langkah awal dalam memikirkan model bisnis apa yang tepat agar kehadiran bisnis tersebut kehadirannya menjadi penyelesaian social yang ada disekitar. Kenapa harus selalu berinovasi dalam pengembangan social entrepreneur? Karena ketika sudah terjun dalam pasar tidak dapat dipungkiri bahwa pesaing itu pasti lumrah ada. Oleh karena itu inovasi dalam model bisnis, segi pemasaran, segi produksi dan segi pengelolaan operasional sangat diperlukan agar selalu terjaga nya stabilitas profit yang nantinya bermanfaat untuk kegiatan social. Networking atau jaringan atau relasi. Networking juga penting kita selalu bangun dalam proses pengembangan social entrepreneur, karena kita memiliki kemampuan yang terbatas seperti; ingin menerapkan program daur ulang kotoran hewan menjadi sesuatu yang bernilai. Hal tersenut tidak dapat di handle seorang diri dengan Pak Sugeng karena Pak Sugeng memiliki keahlian di bidang lain. Oleh karena itu disini lah peran networking atau relasi deperlukan, mencari relasi yang memiliki keahlian di bidang peternakan dan daur ulang untuk bekerja sama dengan memiliki visi yang sama.

Artikel Terkait