Tuesday, October 15, 2019

Klimaks Tebing Merah


"Susun kapal, besar atau kecil, dalam barisan 30-50 kapal. Ikat jadi satu haluan dan buritan. Letakkan papan-papan pelintas antar dek di sebelahnya!"

Saran Pang Tong di atas akhirnya menuntaskan gamang jenderal Wei, Cao Cao. Wei dari Utara, tidak terbiasa bertempur dan melalui perairan Sungai Yangtze. Tak hanya daya fisik prajurit melemah akibat mabuk laut. Pang Tong bukan orang sembarangan, ia ahli strategi militer saingan Zhuge Liang yang berada di kubu lawan: kerajaan Shu.

Shu dan Wu berkolaborasi menghadang Wei yang armadanya 10 kali lipat lebih megah. Selain Zhuge Liang, ada nama andal di seteru Wei; Jenderal Zhou Yu. Zhou Yu inilah yang paham kekuatan armada air Wei tak mungkin dihancurkan bila posisinya normal (Ilustrasi 1). Tapi strategi Pang Tong di pihak lawan malah memberinya ilham.
Kekuatan kapal, personal dan persenjataan Wei di bawah Cao Cao tinggal menggilas Shu-Wu. Saran ahli militer Pang Tong mengatasi keterbatasan yang ada di barisan prajurit plus cobaan alam kala ada gelombang, angin dan arus di Sungai Yangtze. Cao Cao tak mau meremehkan soal ini. Dan kini ia bisa lega masalah teratasi.
"Bahkan kura-kura pun akan dapat berjalan di atas kapal dengan aman!" Seru Pang Tong soal strategi mengikat kapal.
Cao Cao tersenyum. Tapi senyuman atas kuatnya pertahanan ini malah membuka tabir kelemahan mendasar.
Ribuan kapal Wei yang bersiap dalam jarak teratur jelas tak bisa dihancurkan dengan strategi tabrakan. Armada mereka tak seimbang. Kalah banyak. Buntu atas gagasan untuk menghancurkan benteng pertahanan lawan, Zhou Yu membuat siasat "ku rou ji": melukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh.
Seorang perwira terbaik Wu, Huang Gai, dihukum Zhou Yu akibat mengkritik pendapatnya. Sang perwira dicambuk 100 kali! Dicegah para perwira senior, Zhou Yu bergeming dan terus mendera. Barulah ketika para perwira itu ngotot, dera dihentikan sampai 50 kali.
Perlakuan sang atasan jelas melukai Huang Gai. Diam-diam ia menuliskan keluhan perlakuan sang atasan. Dan tulisan di kertas itu dibawa ajudannya yang menyelinap menyeberangi Yangtze bertemu Cao Cao. Ajudan Huang Gai melaporkan bahwa atasannya kecewa berat pada Zhou Yu. Huang Gai ingin berpaling posisi akibat sakit hati kritiknya dibalas campuk di hadapan banyak anak buahnya.
Percaya begitu sajakah Cao Cao? Jelas tidak. Tapi di situlah hebatnya Zhou Yu memainkan siasat. Sejatinya ia tega melukai dan mempermalukan perwira terbaiknya karena satu asa: mencari tahu titik benteng kapal Cao Cao. Zhou Yu rela dianggap lemah dan keterlaluan asalkan misi sebenarnya tercapai. Dan memang Huang Gai itu cerdas. Sementara koleganya tak suka dengan tindakan Zhou Yu, diam-diam ia malah membaca arah kemauan sang atasan. Dan ia pun rela dipermalukan bahkan disakiti.
Drama Huang Gai sebenarnya tak berarti apa-apa kalau formasi pertahanan Wei seperti sedia kala. Kapal-kapal berada dalam radius tertentu. Tidak diikat seperti saran Pang Tong. Di sini Cao Cao lebih fokus pada masalahnya demi menuntaskan segera ambisinya menyatukan tiga kerajaan di bawah daulat Wei. Ia tak sadar kekuatan formasi gerendel kapal ala Pang Tong justru menginspirasi Zhou Yu.
Berbeda dengan Huang Gai yang berpura-pura, Pang Tong sedianya memang memberikan saran solutif. Bahwa ada marabahaya di sebalik idenya, itu murni kepintaran lawan. Kekuatan ide Pang Tong, mengikat kapal jadi satu, merupakan momen emas bagi Shu dan Wu. Taktik "lian huan ji", mengikat kapal jadi satu yang awalnya kekuatan terbaik lawan malah berbalik jadi kelemahan. Dan ini dibaca Zhou Yu. Bertepatan pula dengan penyamaran Huang Gai.
Huang Gai yang dijadwalkan bakal desersi ke kubu Cao Cao tanpa diduga membawa skuadron kapal berapi yang siap merusak formasi gerendel terkunci Wei. Dan hasilnya bukan saja mereka dikejutkan oleh kedatangan Huang Gai yang malah menyerang, namun juga skala serangan Shu-Wu ternyata sudah membaca apa kelemahan formasi lian huan ji ala Pangi Tong. Hasilnya: di Tebing Merah pasukan Wei yang berkekuatan berkali-kali lipat malah harus kehilangan banyak korban dan kerugian. Mereka ditundukkan secara telak oleh kegemilangan memutar otak para perancang taktik kolaborasi Shu-Wu. Kekuatan yang begitu solid malah titik terbaik menghancurkan.
Kisah Tiga Kerajaan, dan ulasan pelajaran di baliknya oleh Gao Yun di atas menyeruak di pikiran saya manakala banyak kenalan dan kawan kecewa berat pada langkah dan silap politik Prabowo Subianto. Prabowo, alih-alih menepati ucapannya untuk bersama pendukungnya, belakangan rajin bertandang ke barusan rivalnya.
Manuver Prabowo akhir-akhir ini pun melahirkan kekecewaan berat para pendukungnya dalam Pilpres 2019. Seakan ia tak berharga dan menghargai jerih payah pendukung loyalnya. Ekspresi protes dan kecaman pun bertubi-tubi diarahkan pada Prabowo. Prabowo seperti tak ingat apa-apa atas janji dan komitmennya semasa kampanye pilpres. Lebih jauh lagi, ia dianggap tak menghormati demokrasi lantaran lebih kedepankan distribusi kekuasaan bagi partainya ketimbang terus menyuarakan sikap kritis selaku oposisi.
Atas kecewa itu wajar adanya. Lantas apalah kisah klimaks pertempuran di Sungai Yangtze tadi bakal terjadi dalam skala tertentu di kehidupan politik tanah air, dengan aktor utama salah satunya adalah Prabowo? Apakah Prabowo rela menurunkan level kehebatan dirinya, kekesatriaan pribadinya, semata ingin lakoni Zhou Yu ataupun Huang Gai? Seberapa kokoh pula Prabowo melakoni itu semua, alih-alih hanya tengah mengincar kesempatan meraih kekuasaan? Apakah ia sengaja lawan politiknya yang berkuasa menguatkan formasi kapal di perairan tapi di balik itu akan dihancurkan dengan kapal berapi tanpa ampun? Artinya, benarkah Prabowo "membentuk" lawan-lawannya kuat dalam barisan terikat, namun kemudian ia bakal menyerang dari arah tak terduga?
Akankah siasat ku rou ji dan lian huan ji bakal terjadi berupa pertarungan politik baru di dalam "benteng" pemerintahan kuat? Bila ya, berarti Prabowo sukses lakukan jia chi bu dian: pura-pura bodoh padahal cerdik. Rela ditinggalkan dan dicaci eks pendukung militannya hanya karena menanti saat tepat "membakar" negara api membuat formasi kapal (baca: koalisi) terikat.
Mungkinkah keadaan yang disebut terakhir tadi sesungguhnya yang tengah dipikirkan dan dimainkan Prabowo? []
Samben Library, ditulis saat Rocky Gerung ajak pendukung Prabowo membentuk barisan oposisi, sementara Prabowo didesuskan kalangan media bakal jadi menteri pertahanan.
Ilustrasi: (1) cgw(dot)com; (2) Pinterest

sumber : FB

Artikel Terkait