Monday, October 28, 2019

Pemuda, dan Klaimnya


“Teruntuk para pemuda yang saya bayangkan dalam imajinasi saya, datang dan memperbaharui agama ini seperti semula. Mereka berjuang di jalan Allah, membunuh atau terbunuh, dengan iman yang tertanam dalam lubuk sanubari mereka...”
Indah dan sejuk membulir deras salah satu kalimat persembahan di buku _al-’Adalah al-Ijtima’iyyah al-Islam_ (Ingris: _Social Justice in Islam_) karya Sayyid Quthb terbitan April 1949 itu. Sebuah untaian kata yang seolah-olah ditulis untuk menyapa para aktivis Ikhwanul Muslimin Mesir. Para pemuda Ikhwan khususnya, tengah ‘dibakar’: didera bui oleh pemerintah negerinya hanya karena organisasi mereka melawan penjajahan Israel di tanah Palestina. Alih-alih menyokong, Partai Sa’adi yang berkuasa di Mesir rupanya tidak suka sepak terjang Ikhwan di Palestina.
Dalam perihnya siksa penjara itulah, para pemuda Ikhwan seperti mendapatkan oase dari tulisan Sayyid. Tulisan dari seorang sastrawan yang dikenal luas di negerinya lewat karya-karya tajamnya, baik seputar kritik sastra maupun esai sosial. Bahkan khusus buku tersebut, sang pendiri Ikhwan, Hasan al-Banna, memberikan pujian sembari berkata jujur, “Ini pemikiran kita yang seharusnya ditulis oleh kalangan internal kita juga.”
Tidak salah bila kemudian muncul pandangan, bahkan lebih jauh sebentuk perasaan romantis, bahwa Sayyid Quthb adalah bagian dari Ikhwan. Dan persembahan di atas pun dianggap tertuju bagi para pejuang Ikhwan.
Benarkah anggapan para aktivis Ikhwan Mesir tersebut? Duduk soalnya di benak Sayyid ternyata bukan begitu. Buku itu terbit tatkala Sayyid berada di Amerika Serikat untuk studi banding pendidikan. Adiknyalah, Muhammad Quthb, yang mengurus penerbitan buku tersebut. Kala itu, terlepas dari kesamaan yang dirasakan aktivis Ikhwan, Sayyid masih terbilang “orang luar”. Paling dekat, ia hanya bersimpati pada Ikhwan.
Kelak ketika Sayyid resmi bergabung ke Ikhwan, yakni pada 1953, ia merevisi kalimat persembahan di buku yang sama menjadi:
“Teruntuk para pemuda yang tadinya hanya ada dalam bayangan saya akan datang, tapi ternyata betul-betul ada di dunia nyata.... Mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan nyawa, dengan meyakini di dalam sanubari bahwa kemuliaan itu adalah milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukim. Teruntuk para pemuda yang tadinya hanya ada dalam mimpi dan khayalan, ternyata mereka benar-benar ada. Kenyataan lebih besar daripada bayangan. Kenyataan lebih besar daripada mimpi.....”
Demikian antara lain sisi penting yang diungkap dalam buku Shalah al-Khalidiy yang dialihbahasakan Misran dengan judul _Biografi Sayyid Quthb: “Sang Syahid” yang Melegenda_ (2015). Ya, dalam _al-’Adalah_ terbitan 1954 tersebut, Sayyid jelas sudah menuju pihak yang dimaksud; pihak yang semula hanya terlintas dalam imajinasi atau bayangannya belaka. Ini fase ketika Sayyid mematangkan jiwa pergerakan Islam bersama Ikhwan. Kelak, ketika bersama Ikhwan, ada banyak hal yang diperjuangkan oleh Sayyid, terutama saat masa tribulasi yang dilakukan rezim Mesir Gamal Abdel Nasser.
Satu pelajaran dari cerita di atas adalah tentang bermain rasa kader Ikhwan, khususnya kalangan muda. Sesuatu yang sama terhubung segera sebagian bagian dari ‘kita’ atau ‘kami’. Meskipun sesuatu yang disangka sangkut itu belum tentu ada koneksi. Dalam hal ini, perasaan sebagai kumpulan orang (belajar) beriman meniscayakan cepatnya perasaan menyamakan. Lebih-lebih ketika itu bertaut dengan agenda dakwah.
Tapi, di sisi lain, perasaan semacam itu kadang rentan lahirkan apologi dan sikap subjektif. Siapa yang pantas dimasukkan sebagai ‘kita’ dan siapa yang tetap ‘mereka’ kadang jadi tersamar. Karena ada kepentingan politik. Atau kadang biasa sebagai ekspresi fanatisme berhimpun dalam gerakan dakwah. Dan di tanah air kita fenomena semacam ini acap terjadi. Mengklaim suara luar sebagai milik ‘kita’. Mendaku sosok lain sebagai bagian dari ‘kita’. Dan ini pun sampai terbawa-bawa pada peranti atau sarana dakwah semisal masjid dan media. Seringnya melibatkan suara lain sebagai ‘kita’ seketika hadirkan emosi meruah. Berikutnya, kedekatan emosi ini terkadang berujung pada fanatisme.
Melibatkan orang lain yang belum teridentifikasi sebagai bagian ‘kita’ semestinya dengan satu adab. Bahwa Muslim yang satu dengan yang lain bersaudara dan saling menjaga kehormatan. Memandang orang lain, dan baru pula, sebagai bagian ‘kita’ atas dasar kesamaan simbol dan gagasan permukaan, amatlah manusiawi. Manusia saling terikat dengan kecenderungan pada kemiripan. Ini juga berlaku dalam soal kebaikan menilai para islamis. Menganggap mereka sebagai ‘kita’ malah sebuah penghormatan yang baik bila dilihat dari keengganan untuk menilai buruk tanpa bukti.
Memandang sama pihak luar dari kesamaan simbol hendaknya tidak sampai mengalihkan perhatian dari sikap adil. Dalam tajamnya firasat, kesamaan yang diikuti segera dengan kenyamanan hati untuk menilai sebagai bagian dari ‘kita’, berhati-hatilah dengan jebakan. Jebakan yang mengaburkan tajamnya firasat bahwa selalu ada celah untuk mendalam menilai fakta yang ada di depan mata. Kesamaan identitas luaran memang membujuk kuat agar kita segera memasukkan sebagai ‘kita’. Ditambah informasi begitu terbatas, yang ada pun dibenarkan untuk menyangka positif belaka.
Menilai orang lain sebagai ‘kita’ mestilah dengan kesungguhan ber rasat. Menilai dengan niat menjadikan mereka sebagai kawan menggapai hikmah. Dengan demikian, menilai tidak hanya dengan emosi dan tendensi subjektif perasaan. Ada penambat di luar kecenderungan pribadi yang mudah terikat dengan kesamaan hal-hal lahiriah. Sebab, sekali terikat, akan sukar untuk memandang jernih persoalan. Mereka yang kita pandang bagian ‘kita’ selalu dilihat dalam kedudukan positif. Tidak memberi ruang toleransi adanya sisi negatif yang mesti dibenahi.
Mari kita toleh lagi kalimat apresiasi Hasan al-Banna pada karya Sayyid. Kalimat yang terucap di hadapan dan teruntuk kader-kader Ikhwan, “Ini pemikiran kita yang seharusnya ditulis oleh kalangan internal kita juga.” Tak sedikit pun al-Banna mengklaim Sayyid adalah ‘kita’. Alih-alih mengaitkan Sayyid sebagai bagian organisasi yang didirikannya, al-Banna justru memuji pihak luar (Sayyid) sekaligus mengkritik samar anggota Ikhwan. Mengapa bukan anggota sendiri yang menulis, melainkan justru orang luar? Bukan menyayangkan, melainkan sanjungan sekaligus memotivasi kader Ikhwan. Sekaligus pula kalimat al-Banna menyimpan sebuah doa. Doa akan hadirnya orang-orang luar yang membela dakwah entah bersama atau tanpa bergabung di Ikhwan.
Begitulah kebijakan bestari seorang al-Banna. Dan ini bisa jadi sebuah inspirasi buat para aktivis gerakan di sini, atau kita yang muda tengah mereguk oase berhijrah. Kematangan gerakan dakwah ataupun sekadar belajar Islam semestinya menyelesaikan cara berpikir untuk begitu mudah mengaitkan kesamaan satu iman dan gerak pihak lain sebagai “politik klaim”. Demikian pula ketika ada kader-kader gerakan ataupun sesama Muslim yang mendadak hadirkan kejutan negatif, jangan sampai ‘membuang’ mereka secepat kilat dengan klaim simpel: dia bukan kader kita. Betapa banyak potensi sumber daya pejuang dakwah yang hilang karena mereka kadung dilabeli tidak sesuai kenyataan. Firasat kita tidak menempatkannya dalam kedudukan penting, malahan justru sebagai bakal terbuang. []

Sumber : FB

Artikel Terkait