Wednesday, December 4, 2019

GPII Dorong Semangat dan Kiprah Pemuda Jawa Barat untuk Indonesia

CIREBON - Kiprah pemuda Jawa Barat untuk Indonesia mejadi bahasan diskusi dan ngopi bareng Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) di Cafe Kampus Duble C Kota Cirebon, Selasa (3/12). GPII menyinggung semangat gerakan pemuda di Jawa Barat pascareformasi yang dinilai kendor.

Konteks Jawa Barat, masih sedikit tokoh yang tampil di level nasional. Bahkan konteks kepemimpinan nasional, belum muncul presiden dari Jawa Barat. 


Karena itu, GPII berikhtiar untuk mendorong potensi besar yang dimiliki para pemuda di Jawa Barat untuk diangkat di tingkat nasional.
 GPII ingin membangkitkan kembali semangat para pemuda Jawa Barat untuk bisa ikut menyumbangkan ide dan gagasan dalam pembangunan nasional. 

"Saya katakan bahwa di Jabar sudah terjadi krisis kepemimpinan. Kita harus sembuhkan krisis itu, bisa dimulai dengan kembali menanamkan jiwa organisasi kepada para pemuda," kata Ketua GPII Jawa Barat, Irwan Sholeh Amir, salah satu narasumber diskusi.

Irwan sedikit mengulas kiprah GPII sebagai organisasi yang sudah lahir dua bulan setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya 20 Oktober 1945. Sehingga kontribusi GPII dalam pembangunan nasional sudah tidak perlu diragukan lagi. 

"Pada 2 Oktober 2019 kemarin, GPII genap berusia ke-74 tahun. Jadi ini bukan organisasi baru, ada perjalanan sejarah yang panjang. Dan, saya ingin mengenalkan kembali bahwa sejarah panjang ini harus dilanjutkan," ungkap Irwan.


Dalam sejarahnya, lanjut Irwan, perjuangan pemuda mengalami pasang surut. Akan tetapi menurutnya, para pemuda harus memiliki kesadaran sejarah. Sehingga semangat perjuangan bisa terus berkobar.


Bahkan, kata Irwan, perjalanan pemuda dalam memperjuangkan bangsa Indonesia sudah sangat luar biasa, dimulai jauh sebelum kemerdekaan. Di mana bibit-bibitnya dimulai saat merumuskan Sumpah Pemuda.
 "Semangat itu yang coba kita tumbuhkan kepada pemuda dewasa ini," lanjut Irwan.


Irwan juga menyinggung soal laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang menyebutkan bahwa indek pembangunan Pemuda (IPP) Jawa Barat berada di 5 provinsi terendah di Indonesia. Terutama dalam indeks partisipasi pemuda dalam berorganisasi, kepemimpinan dan wirausaha muda. 

Irwan mengungkapkan bahwa perjuangan para pemuda masih sangat dibutuhkan bangsa ini. Namun formula perjuangan harus bisa menyesuaikan dengan kemajuan zaman yang sangat cepat. "Adanya stafsus presiden dari kalangan milenial
 ini sangat positif," ujarnya.

GPII sendiri meluncurkan program Jabarpreneurship for Milenial (Japrem) untuk mengenalkan organisasi. Saat program Japrem diluncurkan di Bandung, animo milenial sangat besar untuk aktif berpartisipasi.

Irwan menyebutkan, kuncinya dalam menghadapi era revolusi industri 4.0, pemuda harus memiliki mental entrepreunership. "Mental entrepreunership bukan berati untuk menjadi pengusaha. Tapi menjadi apa pun, terpenting bagaimana bisa menggali potensi diri kita untuk menjadi modal yang bernilai jual," urainya.

Kunci lainnya adalah kreativitas dan jaringan. Karena di era industri 4.0, kreativitas dan jaringan sangat penting.

"Generasi muda harus kreatif. Jangan menunggu tua untuk sukses. Generasi muda juga tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Karena itu GPII siap berkolaborasi dengan para pemuda mengawal pembangunan," tuturnya.

Selain masalah sumber daya manusia (SDM), Indonesia memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang luar biasa. Di antaranya potensi minyak dan gas (migas). Namun, dalam pengelolaannya seringkali bocor karena banyak mafia migas.

"Perhatian presiden pada sektor migas melalui narasinya akan melakukan pembersihan mafia migas, GPII turut mengawal," tegasnya. 

GPII juga sebagai organisasi kepemudaan, mengawal transparansi anggaran pemerintah dari mulai pusat hingga daerah. "Karena dari anggaran pemerintah, ada hak untuk pengembangan potensi pemuda. Sehingga transparani anggaran pemerintah harus dikawal," tuturnya.   

Sementara narasumber lainnya, Rahmat J Kardi menyinggung gerakan mahasiswa yang mestinya bisa melakukan perubahan besar. Seperti gerakan Reformasi 98, mahasiswa berhasil menumbangkan rezim Orde Baru.

"Seorang jenderal selama 32 tahun menguasai semua sektor, tumbang oleh gerakan mahasiswa. Lantas apa agenda pascareformasi? 21 tahun pascareformasi nyatanya tidak mengalami perubahan terhadap kesejahteraan rakyat. Kita masih impor beras. Semestinya dengan segala potensi SDA yang dimiliki, Indonesia menjadi salah satu negara swasembada pangan dunia," tuturnya.   

Sehingga menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah bagi generasi muda untuk perubahan Indonesia di masa mendatang. "Bagaimana positioning pemuda? Dengan aktif bergerak melakukan perubahan-perubahan nyata," katanya.

*Caption : Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Jawa Barat menggelar diskusi dan ngopi bareng terkait kiprah pemuda untuk Indonesia di Cafe Kampus Duble C Kota Cirebon, Selasa (3/12).

Artikel Terkait