Wednesday, January 15, 2020

Asal – Usul Uang dan Bentuk Uang diberbagai Bangsa

Oleh Khonsa Nafi'ah

Pada mulanya, setiap manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Mereka mencarai kebutuhan hidup nya masing-masing. Pada masa ini dikenal dengan prabarter yaitu, zaman dimana manusia Belum mengenal Uang dan transaksi jual beli. Seiring dengan perkembangan pada masa itu, mereka saling menyadari bahwa apa yang mereka hasilkan tidak cukup dan memerlukan apa yang dihasilkan oleh orang lain. Dari sinilah muncul kegiatan saling tukar satu sama lain antar dua orang yang saling membutuhkan. Kegiatan ini adalah apa yang sekarang kita sebut dengan barter atau in nature. Sistem ini bertahan selama beberapa waktu, hingga muncul ketidakpuasan karena sulit untuk menentukan bahwa apakah barang yang akan ditukar bernilai sama. Selain itu, sulit juga untuk menemukan orang yang memiliki barang yang dibutuhkan dan bersedia menukarkannya. Karna itulah di butuhkan uanh sebagai alat tukar yang dapat digunakan Oleh semua kalangan. Uang pertama kali muncul di abad ke-6 sebelum masehi oleh bangsa Lydia. (ini, 2017) Mereka mencampurkan emas dan perak dan membentuknya menjadi seperti kacang polong. Perbandingan komposisi antara emas dan perak nya adalah 2:3.

Sekitar tahun 546-560 sebelum masehi, Croesus membuat uang logam untuk Bangsa Yunani. Konon bangsa ini adalah bangsa pertama yang membuat uang logam dengan desain berbagai gambar yang unik. Nilai uang pun di lihat dari komposisi yang digunakan selama pembuatan uang tersebut. Karna uang logam mengalami kesulktan pada pasokan logam muliah (emas dan perak) sebagai bahan baku utama pembuatan logam, maka di ciptakan lah uang kertas. Uang kertas pertama kali di ciptakan oleh orang tiongkok pada abad pertama maseh oleh Dinasti Tang yang berkuasa saat itu. (uang, n.d.) Dalam pembuatan uang kertas ini tidak lah mufah. Berapa kali mereka mengalami kegagalan dikarenakan mereka mencari bahan yang cocok untuk pembuatan uang kertas. Barulah oada masa Dinasti Tang ini uang kertas berhasil di ciptakan oleh Ts’ai Lun yang menggunakan kulit kayu murbel (uang, n.d.)

Sebelum dikeluarkannya Undang-undang Nomor 13 Tahun 1968, kegiatan pencetakan uang dilakukan oleh pemerintah. Namun setelah terbitnya undang-undang tersebut, hak pemerintah dalam pencetakan uang dicabut (pasal 26 ayat 1). Maka dibentuklah bank sentral sebagai satu-satunya lembaga yang berhak mencetak dan menerbitkan serta mengedarkan uang (hak oktroi) di Indonesia yaitu Bank Indonesia. (uang, n.d.)
SEJARAH UANG DI INDONESIA
Awal bulan oktober 1945, indonesia masih belum memiliki mata uang sendri. Indonesia pada saat itu masih menggunakan mata uang Hindia Belanda dan Jepang. Namun, sejarang uang di indonesia megalami hyper inflasi yang mengakibatkan turunnya nilai mata uang. Mata uang yang turun pada saat itu adalah mata uang jepang. Karna mata uang jepang adalah mata uang yang paling bnyak beredar. Sejarah mengatakan, uang pertama kali di cetak di indonesia oleh ORI (Oeang Republik Indonesia) (ini, 2017). Mata uang ini di terbitkan untuk menghindari berkembangnya mata uang NICA yang dapan meresahkan bnyak pihak, terutama rakyat kecil. Keadaan saat itu di perparah dengan turun nya kebijakan dari panglima AFNEI yang pada tahun 1946 menduduki indonesia (ini, 2017).yang menyatakan bahwa mata uang yang berlaku adalah mata uang NICA. Sedangkan mata uang NICA itu sendri di anggap akan mengacaukan stabilitas perekonomian di indonesia. Akhirnya, pemerintah indonesia memprotes kebijakan tersebut, dam mengambil keputusan untuk menerbitkan ORI. Adanya ORI ini dirasakan manfaat nya di dunia perbankan. Seperti berdiri nya Bank Negara Indonesia (BNI) dan juga Bank Rakyat Indonesia (BRI).
UANG DI BERBAGAI BANGSA
1. Uang pada Bangsa Lydia

Bangsa Lydia adalah orang-orang yang pertama kali mengenal uang. (sari, 2016) Uang pertama kali muncul di tangan para pedagang ketika mereka menemuakan banyak kekurangan daripada sistem barter. lalu mereka membuat uang, pada tahun 570-546 SM, Pertama kalinya masa ini terkenal denganmata uang emas dan perak yang halus dan akurat.
2. Uang pada Bangsa Yunani

Bangsa Yunani yang membuat “uang komoditas” sebagai utensil money dan koin-koin dari perunggu. Kemudian mereka membuat ems dan perak yang pada awalnya beredar di antara mereka dalam bentuk batangan, sampai masa dimulainya percetakan uang pada tahun 406 SM. (sari, 2016) Mereka mengukir di uang mereka bentuk berhala, gambar-gambar pemimpin, dan mengukir nama negeri dimana uang dicetak. Mata uang utama mereka adalah Drachma yang terbuat dari perak.

3. Uang pada bangsa Romawi

Bangsa Romawi pada masa sebelum abad ke-3 SM menggunakan mata uang yang terbuat dari perunggu yangb disebut Aes (Aes Signatum Aes Rude). Mereka juga menggunakan mata uang koin yang terbuat dari tembaga. Orang yang pertama kali mencetak uang adalah Servius Tullius, yang dicetak pada tahun 269 SM. Kemudian pada tahun 268 SM, mereka mencetak Denarious dari emas yang kemudian menjadi mata uang utama Imperium Romawi. Di atas uang itu itu mereka cetak ukiran bnetukbentuk Dewa dan pahlawan-pahlawan mereka, hingga masa Julius Caesar yang kemudian mencetak gambarnya di atas uang tersebut.
4. Uang pada masa Persia

Bangsa Persia mengadopsi percetakan uang dari bangsa Lydia setelah penyerangan mereka pada tahun 546 SM. (sari, 2016)Uang dicetak dari emas adan perak dengan perbandingan 1: 13,5. Suatu hal yang membuat naiknya emas dan perak. Mata uangnya adalah dirham perak, betul-betul murni. Ketika sistem kenegaraan mengalami kemunduran, mata uang mereka pun ikut serta mundur.

5. Uang dalam pemerintahan Islam

Uang pada Masa Kenabian

Bangsa Arab di Hijaz pada masa Jahiliyyah tidak memiliki mata uang tersendiri. Mereka menggunakan mata uang yang mereka peroleh berupa dinar dan dirham emas Hercules, Byzantium dan dirham perak dinasti sasanid dari Iraq, dan sebagian mata uang bangsa Himyar, dan Yaman. Penduduk mekkah tidak memperjualbelikan barang kecuali dengan emas yang tidak ditempa dan tidak menerimanya kecuali dengan ukuran timbangan. Mereka tidak menerima dalam jumlah bilangan. Hal ini disebabkan beragamnya bentuk dirham dan ukurannya, serta munculnya penipuan pada mata uang mereka misalnya nilai yang tertera melebihi dari nilai sebenarnya. Nabi menyuruh penduduk Madinah untuk mengikuti ukuran timbangan penduduk Mekkah ketika melakukan interaksi ekonomi, dengan menggunakan dirham dalam jumlah bilangan bukan ukjaran timbangan.16

Uang pada Masa Khulafaurrasyidin

Ketika abu bakar di bai’at menjadi khaliafah, beliau tidak melakukan perubahan terhadap mata uang yang beredar, bahkan menetapkan apa yang sudah berjaan dari masa Nabi saw. Begitu jiga ketika Umar Bin Khathab di bai’at sebagia khalifah., karena beliau sibuk melakukan penyebaran Islam ke berbagai Negara, beliau menetapakan persoalan uang sebagaimana uang sudah berlaku

Uang pada masa Dinasti Muawiyah

Percetakan uang pada masa dinasti Muawiyah, masih meneruskan model Sasanid dengan menambahkan beberapa kalimat tauhid, seperti pada masa Khulafaturrasyidin. Pada masa Abdul Malik Bin Marwan, pada tahun 78 H, beliau membuat mata uang Islam yang memiliki model tersendiri. (DRS.Muhammad, 2002)Dengan adanya percetakan mata uang Islam, mapu merealisasikan stabilitas politik dan ekonomi, mengurangi pemalsuan dan manipulasi terhadap mata uang.

Uang pada masa Dinasti Abbasiyah dan sesudahnya

Pada masa ini percetakan masih melanjutkan cara dinasti Muawiyah. Pada masa ini ada dua fase, dalam percetakan uang yaitu :Fase pertama, terjadi pengurangan terhadap ukuran dirham kemudian dinar. Fase kedua, ketika pemerintahan melemah dan para pembantu dari orang-orang Turki campur tangan dalam urusan Negara. Pembiayaan semakin besar, orang-orang mulai dibuai kemewahan sehingga uang tidak lagi mencukupi kebutuhan. (DRS.Muhammad, 2002) Pada masa pemerintahan Mamalik, percetakan uang tembaga (fulus), menjadi mata uang utama, sedangkan percetakan dirham dihentikan karean beberapa sebab: penjualan perak ke Negara-Negara Eropa, impor tembaga darai negara-negara Eropa semakin bertambah, akibat dari peningkatan produksi pertambangan di sebagian besar wilayah Eropa. Meningkatnya konsumsi perak untuk pembuatan pelana dan bejana.


Artikel Terkait