Wednesday, January 15, 2020

Fikih Realitas Politik, Antara Ghanoucci & Erdogan

Oleh Tengku Zulkifli Usman

Dalam sebuah wawancara di Al Jazera Tv bulan september 2015.
Ketua Partai An Nahdhah Tunisia Rached Ghanoucci mengatakan bahwa deal seorang politisi itu dengan realitas bukan idealitas.
Sebagus apapun idealisme kita, kalau bertolak belakang dengan realitas yang ada, maka ujungnya akan mentok.
Ghanoucci adalah seorang politisi senior Tunisia, yang pernah hidup di dua alam, alam perdebatan antara sekuler-islam yang pernah bergumul di Tunisia selama 50 tahun lebih.
Ghanoucci lalu berpindah alam, alam dimana perdebatan itu diakhiri karena tidak membawa maslahat bagi Tunisia dan kebaikan rakyatnya.
Ghanoucci mengakhiri perdebatan sekuler-islam dalam politik yang telah menjerumuskan Tunisia kepada jurang keterpurukan dan ketertinggalan yang amat parah kala itu.
Ghanoucci memimpin gerakan an Nahdhah lalu berubah menjadi partai politik haluan baru, partai an Nahdhah. Saat ini partai an nahdhah adalah pemenang pemilu di tunisia sejak 2011.
Ghanoucci adalah seorang post-Islamist. Dimana pemikirannya lebih banyak bertumpu pada titik tekan memahami politik dengan pendekatan Maqoshid syariah secara tepat.
Ghanoucci saat ini adalah ketua parlemen tunisia setelah partainya memenangkan pemilu tahun lalu.
Sebagai seorang post-islamist tulen. Ghanoucci dan Partai an Nahdhah mengusung ide keterbukaan, kolaborasi, merangkul semua kalangan dengan tetap berpegang pada prinsip prinsip islam yang luwes dan terbuka sejak muktamar partai ke 10 tahun 2012 lalu.
Dibawah Ghanoucci, sekarang tunisia bisa dikatakan lebih maju dan lebih dekat dengan aspirasi rakyat yang telah berhasil menumbangkan diktator Ben Ali 2011 lalu.
Ghanoucci berhasil menerjemahkan makna post islamis dengan baik, Ghanoucci di Tunisia sangat dekat dengan gaya ijtihad politik Erdogan di Turki dengan partai AKP nya yang sudah masuk tahun ke 18 berkuasa.
Pada dasarnya semua negara islam pasca arab spring di timur tengah mengalami banyak perubahan, banyak terjadi pergeseran paradigma, dari haluan fundamentalis dimasa lalu menuju post-islamist(post modernis) dimasa sekarang.
Namun dalam prakteknya tidak semua berhasil, mesir dan beberapa negara lain masih stagnan, Maroko bisa dibilang setengah berhasil mengadopsi hal ini mengingat Maroko masih sistem kerajaan.
Ghanoucci adalah sosok yang tepat untuk tema"hijrah" ideologi dan tema lomapatan pemikiran, iya. Karena sekali lagi, deal kita bukan dengan idealitas tapi dengan realitas.
Menurut saya, idealisme itu penting saat kita sudah berkuasa, tapi kalau belum berkuasa, idealisme yang saklek dan kaku sangat tidak layak diimani dengan kaku sebagai bahasa pamungkas.
Idealisme kita akan berguna kalau kursi kekuasaan sudah ada di tangan, idealisme yang tinggi dengan posisi legitimasi yang rendah justru akan melahirkan stigma radikalisme.
Setelah berkuasa, idealisme ini baru bisa kita terapkan, jadi rebut dulu kursi presiden dan banyak kursi parlemen, setelah itu idealisme kita baru dipraktekkan.
Partai an Nahdhah di Tunisia dan partai AKP di Turki tidak pernah menyebut dirinya partai Islam, partai dakwah. Tapi pada kenyataannya, setelah dua partai ini berkuasa, yang paling menikmati hasilnya adalah semua rakyat terutama muslim.
Erdogan dan Ghanoucci tidak pernah mengatakan partainya adalah partai islam, tapi pada prakteknya, idealisme post-islamist di kepala kedua tokoh ini begitu terasa bagi kemaslahatan rakyat dan negara mereka setelah mereka berkuasa.
Tanpa kekuasaan, apa artinya sebuah idealisme? Tanpa kursi yang banyak dan posisi strategis, apa gunanya idealisme? Ini akan sama dengan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Teori tanpa tau persis medan lapangan.
Sebuah idealisme dalam sebuah pemikiran, hanya akan bisa diprkatekkan dalam medan politik untuk kebaikan negara pasca kita berkuasa.
Idealisme kita adalah realitas, deal kita adalah realitas, cara berjuang kita harus mengikuti realitas, karena sebagus apapun teori diatas kertas, tanpa bisa dipraktekkan apa gunanya?
Pemikir Iran Ali Syariati pernah berkata, saya tidak suka banyak teori, teori dibutuhkan di universitas universitas bukan di lapangan revolusi. Padahal kita tau, Ali Syariati adalah lulusan doktor universitas Sorbonne, Prancis.
Idealisme kita harus selalu sejalan dengan fikih realitas yang kita hadapi, makanya ulama besar abad pertengahan Imam al Ghazali membagi ilmu dalam 3 bagian.
Pengetahuan Teori (Ma'rifah Nadhoriyah), Pengetahuan Praktek(Ma'rifah Fi'liyah),dan pengetahuan Pasca Eksperimen Praxis (Ma'rifah Tajribiyah). Yang terakhir adalah tingkatan paling tinggi.
Deal seorang politisi harus dengan realitas, jangan menyimpang dari sunnatullah, kalau orang lain berkuda maka kita hanya bisa mengejar mereka juga dengan berkuda.
Kalau orang lain berlari memakai kendaraan Ferrari, kita juga wajib mengejar mereka dengan Ferrari bukan memakai Bajaj dengan alasan tawadhu dan zuhud. Ini salah kaprah.
Beda kendaraan boleh, tapi cukup beda merek dan emblem saja, bukan beda besar cc mobil, beda fitur, apalagi beda kecepatan. Ini sama dengan bunuh diri karena tidak adaptatif.
Pertarungan politik pada dasarnya sama dengan pertarungan lain di dunia ini, semua mengikuti sunnatullah. Ikuti permainan dengan cantik, rebut dulu kekuasaan sebesar besarnya, setelah itu idealisme kita terasa akan lebih berguna.
Kita harus memadukan semua yang baik baik yang ada di dunia ini, baik itu berasal dari belahan bumi timur maupun dunia barat, untuk kita racik kembali agar match dan cocok untuk kita besarkan indonesia.
Tengku Zulkifli Usman.
Partai Gelora Indonesia.
Sumber : FB

Artikel Terkait