Wednesday, February 12, 2020

Sisi Lain Kepala BPIP yang Nyebut "Agama jadi Musuh Terbesar Pancasila"

Prof. Yudian Wahyudi sebagai kepala BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) baru-baru ini menuai kecaman luas dari publik. Gara-gara menyebutkan 'musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan'

"Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan,papar Yudian seperti dilansir dari laman detik.com



Mengenai Yudian sebagai Kepala BPIP yang baru, mungkin perlu cermati dari tulisan Yusuf Maulana (penggiat intelektual di Jogja). Berikut admin kutip tulisannya dari akun FBnya.

Yudian
"Rektor seperti curhat ketika pidato, Pak, begitu Megawati batal datang ke kampus." Tutur seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada saya.
Ketika itu kami barusan selesai acara diskusi. Semester kedua tahun lalu. Hendak ke pelataran masjid ada spanduk mencolok berupa foto rektor UIN Yogyakarta dan ucapan selamat datang pada Megawati.
Mahasiswa yang bercerita pada saya itu tentu saya pastikan lagi kata-katanya. Apa memang benar rektor "sampai segitunya" hanya karena ada pejabat tak jadi datang ke kampus.
Getun penuh sesal Prof. K.H. Yudian Wahyudi, Ph.D., berasa ganjil untuk seorang akademisi mumpuni dalam tema studi Islam yang menekankan arti kebebasan berpikir dan menjauhi kebergantungan.
Sampai kemudian namanya melambung naik. Tapi tak ada kaitan dengan sesalnya atas absen Megawati. Maret 2018 ia hardik mahasiswi bercadar di kampusnya. Hardikan berupa larangan bercadar di kampus UIN Yogyakarta.
Bila soal cadar Yudian memilih keras, lain ketika ia jadi tim penguji disertasi seorang promovendus soal gagasan "milk al-yamin" pemikir Syahrur: tentang legalitas seks di luar pernikahan. Kontroversi yang terjadi Agustus 2019 dan beberapa pekan berikutnya, ditanggapi berani oleh Yudian. Tentu dia merasa memiliki kapasitas untuk menjawab banyak pertanyaan publik.
Cadar dan disertasi legalitas zina, keduanya sebenarnya, tanpa banyak disadari publik, modal memadai menaikkan namanya ke pentas nasional. Kontroversial memang. Tapi, ini ia iringi dengan sikap atau mungkin wataknya yang dingin mencari perhatian penguasa. Curhat di depan civitas kampus di atas tak ragu dia sembunyikan. Sikap ini sejatinya ironi bahkan paradoks klaim independensi tipikal sarjana studi Islam jebolan Barat.
* * * * *
Kendati begitu, kepintarannya memadai. Tak perlu disangsikan.
Istrinya dari keluarga Kauman, salah satu kerabat ketua umum Muhamamdiyah kala itu, Bapak K.H. A.R. Fachruddin. Bahkan, sang ketua umum ormas ini pula yang menikahkan ia. Pernikahan dua keluarga dari ormas berbeda. Pak A.R. kagum pada Yudian muda, sang pengantin pria, yang ketika ijab-qabul memilih untuk memakai penuh bahasa Arab. Latarnya sebagai santri memang kuat, tak heran lidahnya begitu fasih. Pak A.R. pun sampai mengakui dirinya kalah fasih dibandingkan sosok yang hendak dinikahkannya itu.
Yudian, sekali lagu, memang sosok santri cerdas, tak salah bila ia jadi profesor pertama kampus keislaman di Indonesia yang kali pertama berkantor di Harvard sekaligus anggota American Association of University Profesors, Harvard University.
Dalam kecerdasan ia di studi Islam, lelaki yang pernah menyebut H.M. Rasjidi, menteri agama RI, sebagai “orang IAIN yang lemah metodologi”, ada potensi untuk berpaling dari orang yang memberikan kebajikan. Alam berpikirnya, entah mengapa, seperti diliputi kekakuan menilai berdasar analisis yang menurutnya metodologis, ilmiah, bahkan mungkin paling islamis. Jangan terkaget bagaimana membaca ulasannya mengotak-kotakkan organisasi Islam dalam jangkar wahabi. Tak terkecuali ormas Pak A.R. dan istrinya. Pun jangan tanya bagaimana ia selaku anak santri Krapyak berbangga dengan simbol kearaban dengan berfasih dalam bahasa di depan naib.
Sayang, awal Maret 2018 ia tak lagi “konsisten” ramah pada simbol Arab. Cadar disebutnya “simbol ideologi dan kepentingan politik tertentu”. Sebuah ungkapan yang bisa dirujuk pada kefasihannya mendakwa wahabi kepada sesiapa yang berbeda dengan haluan ormasnya; metodologi yang sejatinya bisa dipertanyakan dan didialogkan ketimbang bergegas menilai.
Ironi ataukah paradoks pada Yudian dalam modus operandi mencari perhatian kekuasaan bukan kala era partai Megawati berkuasa dalam dua periode terakhir ini. Era Susilo Bambang Yudhoyono, Yudian juga menyeruak jadi penahbis klan sang Presiden yang terhubung pada nama besar alim era Pangeran Dipanegara. Ya, pada 2012 sebuah karya "penelitian" Yudian berjudul "Perang Diponegoro: Tremas, SBY dan Ploso" terbit. Tidak begitu jadi perbincangan memang. Dan imbas atas keterlibatan Yudian atas terbitnya buku itu, yang waktu itu ditulis sebelum ia duduk sebagai rektor, juga tak begitu diketahui khalayak.
"Dia memang pintar. Hanya saja lemah dalam interpersonal," seorang kawan pernah menyebutkan ucapan senior pergerakan cum akademisi yang mengenal baik Yudian. Kawan Yudian ini sudah mafhum bila urusan intelektual, dia tak perlu diragukan. Tidak demikian untuk urusan pergaulan.
Tampaknya Yudian ada "problem" dalam sisi ini. Intelektual yang belum paripurna bukan dari sisi kapasitas mencerna analisis kajian studi Islam yang dikuasainya. Seturut ucapan dia pada Pak Rasjidi, seperti itulah ringkih adab padanya. Dan ini rawan ketika masuk dan berobsesi pada kekuasaan. Maka, kalau dia sewaktu-waktu bicara agama diposisikan sebagai ancaman terbesar Pancasila, tak begitu asing.
Muasalnya memang Yudian perlu dan masih ingin diperhatikan. Hatta ketika jabatan ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sudah direngkuhnya. Ia masih perlu kontroversi; sebuah cara menutupi keterbatasan diri tapi di benaknya sebagai pesona pancaran aktivitas akademis nan ilmiah.

Artikel Terkait