Wednesday, May 6, 2020

IMAN DAN PRILAKU EKONOMI ISLAM

Oleh : Lilis Kamilatun Nisa


Pada dasarnnya elemen yang sangat penting dalam Islam sebagai sistem hidup adalah akidah. Dan akidah menjadi inspirasi atau pedoman utama aktivitas kehidupan manusia melalui kepercayaan, keyakinan atau yang biasa kita kenal dengan iman. Iman dimaknakan sebagai sesuatu yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diaplikasikan dengan amal. Jadi iman menentukan bentuk final dari sebuah keyakinan dalam hati yaitu amal, perbuatan, tindakan atau prilaku. Dalam ekonomi keimanan Islam kemudian membuat tindakan ekonomi manusia muslim akan sangat mencerminkan keyakinan, misalnya keyakinan pada perintah Tuhan bahwa khamar (minuman yang memabukan) haram maka tindakan konsumsi, produksi dan distribusi manusia tentu akan menjauhi produk khamar tersebut.


Dengan demikian iman dari seorang manusia pada Tuhan dengan segala konsekwensinya, merupakan factor penentu dari eksistensi kemanfaatan Islam sebagai sistem hidup ditengah-tengah manusia. Sehingga pada tingkatan praktis, prilaku ekonomi (economic behavior) baik motifasi tindakan maupun bentuk tindakan itu sendiri, sangat ditentukan oleh tingkat keyakinan atau keimanan seseorang atau sekelompok orang. Lebih spesifik keimanan pada akhirnya akan membentuk kecenderungan prilaku konsumsi, produksi dan distribusi manusia baik individu maupun berkelompok (kolektif) dalam perekonomian.


Jadi dapat disimpulkan ada tiga karakteristik prilaku ekonomi dengan menggunakan tingkat keimanan sebagai asumsi.


      1.      Ketika keimanan ada pada tingkat yang cukup baik, maka motif berkonsumsi atau berproduksi akan didominasi oleh tiga motif utama tadi : mashlahah, kebutuhan dan kewajiban.

     2.      Ketika keimanan ada pada tingkat yang kurang baik, maka motifnya tidak didominasi hanya oleh tiga hal tadi tapi juga kemudian akan dipengaruhi secara signifikan oleh ego, rasionalisme (materialisme) dan keinginan-keinginan yang bersifat individualistis.

     3.  Ketika keimanan ada pada tingkat yang buruk, maka motif berekonomi tentu saja akan didominasi oleh nilai-nilai individualistis : ego, keinginan, dan rasionalisme.


Dari asumsi diatas, diketahui iman kemudian menjadi factor yang cukup signifikan dalam membedakan corak prilaku ekonomi Islam dengan prilaku ekonomi konvensional. Jadi jika dilihat dari awal, factor Tuhan kemudian mempengaruhi corak aktivitas ekonomi melalui prilaku manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, Islam begitu menaruh perhatian yang sangat besar pada pembentukan manusia dalam rangka memperoleh bentuk sistem perekonomian yang lebih baik yaitu sistem ekonomi Islam. Setelah pembentukan manusia dan interaksi antar manusia, baru kemudian Islam memberikan panduan pelaksanaan, tatacara perekonomian, ketentuan syariat, kebijakan dan institusi ekonomi dalam rangka aplikasi perekonomian. Sehingga betul-betul akan terlihat bahwa Islam begitu komprehensif mengatur sistem perekonomian.


            Berikutnya akan kita lihat perbedaan ekonomi Islam dan konvensional dalam hal penyikapan harta ini dengan lebih spesifik pada prilaku konsumsi dan produksi. Jadi dalam teori ekonomi Islam, diakui bahwa nilai diluar diri manusia dapat membentuk prilaku, dalam hal ini nilai moral yang bersumber dari agama atau idiologi yang dianut pelaku ekonomi Islam (muslim).


            Berbeda dengan klaim konvensional yang mengaku bahwa ekonomi merupakan ilmu yang bebas nilai, karena memang betul-betul berdasarkan pada nilai yang dibawa secara alamiah yang ada dalam diri manusia. Sehingga siapapun manusianya sumber motifnya sama yaitu nilai alamiah yang ada didirinya. Jadi karena tak bergantung pada idiologi yang dianut tersebut, maka konvensional mengklaim bahwa ekonomi tersebut (sepatutnya) bebas nilai. Padahal kini mulai diakui bahwa nilai alamiah dalam diri manusia itulah yang kemudian membentuk perekonomian konvensional menjadi bangunan yang begitu rapuh dan bermasalah, bukan hanya secara fisik tapi juga pondasi sistemnya. Nilai alamiah seperti ego, rasionalitas dan materi membentuk perekonomian konvensional menjadi sangat individualistik, materialistic dan konsumenristik.

 Hal ini yang kemudian membuat ekonomi konvensional bukan hanya berkutat dengan masalah fenomena fisik ekonomi tapi juga permasalahan sosial yang lebih bersumber dari pelaku-pelaku ekonomi secara pribadi, seperti motif-motif individualistic. [1]

 



[1] Ali Sakti , M.Ec , Ekonomi Islam : Jawaban Atas Kekacauan Ekonomi Modern, Maret 2007.

 


Artikel Terkait