Friday, November 20, 2020

Aswadi-Fahrul, Energi Baru Masyarakat Buton Utara

Oleh : Rizkia Milida

(Pegiat sosial dan Motivator anak muda Buton Utara)


Bulan Juli 2019, bersama dua orang teman saya pernah bertemu dengan Aswadi Adam. Pertemuan ini jauh sebelum Aswadi melakukan manuver politik dengan para politisi di Buton Utara. Malam itu saya datang mendengarkan impian dan cita-cita seorang pemuda yang berniat tulus membangun Butur. Bagi saya, dia pemuda yang visioner. Menatap Butur dengan penuh optimisme. 


Sayang sekali, malam itu kami berpisah tanpa kesepakatan apapun. Sebab kami berbeda pandangan soal komunikasi politik. Jika Aswadi berpikir melakukan kerja lapangan terlebih dahulu lalu melakukan komunikasi politik, maka saya berpikir sebaliknya : Komunikasi politik terlebih dahulu, lalu melakukan kerja-kerja lapangan.



Sebab bagi saya Idealisme tidak laku di Butur. Anda bekerja sekeras apapun tetap akan menghasilkan cibiran jika tidak di awali dengan komunikasi yang baik.


Tak butuh waktu yang lama untuk membuktikan ucapan saya. Pembangunan madrasah, pembangunan jalan, bahkan bantuan padi impari Aswadi Adam banyak mendapat cibiran dan ejekan. Golkar pun lepas dari Aswadi akibat komunikasi politik yang terlambat dan tidak tuntas.


Namun terlepas dari hal tersebut, dibanding kandidat yang lain dimata saya Aswadi - Fahrul adalah sosok yang paling tepat memimpin Buton Utara 5 tahun ke depan.


Mengapa?


1. Tidak ada alasan historis, hukum dan alasan moral untuk tidak memilih Aswadi-Fahrul.


Cukup sederhana sebenarnya mengamati pilkada Buton Utara. Dua calon yang lain sudah pernah memimpin Butur. Tentu saja dengan bekal ini kita sudah bisa melihat sejauh mana kapasitas mereka dalam menjadi seorang pemimpin. 13 tahun Buton Utara berdiri, harusnya saat ini sudah memasuki fase kebangkitan perekonomian, pariwisata dan lini yang lain. Tapi berkali-kali ganti Bupati, pembangunan masih saja stagnan, diam di tempat.


Jika anda hanya ingin sekedar menumpang hidup dan cari makan di Butur, maka sudah tepat anda memilih pemimpin yang lama. Tapi jika anda ingin Butur bergerak dua kali lebih cepat, Maka sudah saatnya kita memilih energi yang baru : Aswadi Adam - Fahrul Muhammad !


2. Aswadi-Fahrul tidak tersandera kepentingan politik golongan manapun.


Dari awal kemunculannya, Aswadi-Fahrul memang sudah berbeda. Mereka menggelorakan semangat perjuangan bersama kalangan menengah ke bawah. Jauh dari doktrin-doktrin kaum elitis. Mereka duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan masyarakat. Inilah yang membuat saluran partisipasi dan aspirasi ASRUL tidak tersumbat. Jika kandidat lain pola komunikasinya di pagari oleh para pejabat, maka ASRUL bersedia menjadi pendengar yang baik tanpa diwakilkan siapapun.


Aswadi-Fahrul menolak segala bentuk ekslusisme baik atas dasar primordialisme maupun kepentingan sempit lainnya.


3. Aswadi-Fahrul lebih paham peta pembangunan Butur.


Dalam setiap kampanyenya ASRUL selalu mewanti-wanti empat hal yang menjadi ciri gagalnya sebuah pemerintahan daerah :


- Terjadinya ketidakstabilan politik dan keamanan.


ASRUL berkomitmen menjaga agar tidak terjadi miss komunikasi dan adanya gesekan antar para pejabat daerah dan para pendukung mereka ketika terpilih nanti. Sebab hal inilah menyebabkan timbulnya bentrok horizontal di tengah masyarakat pada periode-periode sebelumnya.


- Tidak terpenuhinya kebutuhan masyarakat dan susahnya mendapatkan pekerjaan.


Banyaknya anak muda yang melakukan migrasi ke Morowali dan membludaknya para honorer serta tenaga magang di lingkup birokrasi, merupakan salah satu bukti bahwa pemimpin Butur terdahulu gagal merangkul, menciptakan dan memutar roda perekonomian masyarakatnya dengan baik. Aswadi Fahrul bahkan jauh sebelum keliling berkampanye sudah mulai memberdayakan masyarakat salah satunya dibidang pertanian dengan membagikan bibit padi impari.


- Korupsi Birokrasi.


Salah satu ciri terjadinya korupsi di tengah-tengah pusaran kekuasaan adalah sering berganti-gantinya para pejabat daerah.

Lantik...Ganti...Lantik...Ganti, adalah pemandangan yang lumrah selama ini dan hal ini akan diminimalisir oleh ASRUL ketika memimpin nanti. ASRUL ingin para pejabat daerah fokus bekerja tanpa harus takut ancaman mutasi.


- Hilangnya kepercayaan di tengah masyarakat. 


Dukungan masyarakat merupakan modal utama ASRUL dalam membangun daerah. Selain itu penunjang fisik berupa birokrasi yang kuat dan keberpihakan partai politik juga sangatlah penting. Aswadi-Fahrul memiliki landasan gagasan yang bersifat pragmatik dan terumuskan dengan baik juga bertekad mengikutsertakan masyarakat di setiap pembangunannya.


*


Ada beberapa isu yang sering dimainkan pihak lain untuk menyerang Aswadi-Fahrul 


1. Survey Aswadi-Fahrul rendah ?


Sebagai seseorang yang beberapa kali bergelut di pusaran pemilukada beberapa daerah, saya mempertanyakan keabsahan dari hasil Lembaga survei yang diturunkan ke Buton Utara beberapa waktu lalu. Sampelnya siapa? Tingkat akurasinya bagaimana ? Fakta ini tidak di buka secara gamblang. Kenyataannya di lapangan banyak lembaga survey bayaran yang digunakan hanya untuk mendongkrak elektabilitas dan meyakinkan para donatur. Itu lagu lama yang sudah harus di aransemen ulang.


2. Isu beli kucing dalam karung ?


Jika pola pikir ini yang terus-menerus dipakai, maka selamanya tidak akan pernah lahir pemimpin visioner di Butur. Sama halnya tidak akan ada Jokowi di Solo, tidak ada Risma di Surabaya, tidak ada Ridwan Kamil di Bandung dan tidak ada Anis Baswedan di Jakarta. Jangan menghasut masyarakat dengan pesimisme. 


Cara pikir dan mental yang kekanak-kanakan seperti ini hanya akan di lakukan oleh tim sukses yang kandidatnya tengah putus asa. Di depan menyuarakan keadilan, tapi dibalik akun palsu ramai-ramai meneriakkan politik identitas dan menyerang personal. Jangan jadi kelompok masyarakat perusak yang tak henti-hentinya mengecam, menghujat secara vokal, agresif, dan sistematis serta berlindung dari liputan luas media massa.


*


Masyarakat Butur harus bersatu dan membuat dirinya berharga. Jangan mau jadi rupa dari segala lupa. Jangan mau dianggap bagian yang tak pernah ada. Jangan mau jadi sepotong lilin kecil yang hanya diingat ketika remang. Jangan mau dijadikan filosofi yg dibuat hanya untuk ditinggal pergi.

Artikel Terkait