Saturday, November 21, 2020

Menaikkan Nilai Keuntungan Dagangan Ala Rasulullah

WartaNusa - Pada saat ini tren bisnis semakin berkembang, kini semakin banyak orang-orang yang tertarik dalam dunia bisnis terlebih dalam masa pandemi ini menuntut orang-orang untuk lebih kreatif dalam menambah penghasilan. Sukses dalam berbisnis tentu merupakan impian semua orang.  Dalam berbisnis kita dapat menemukan role model seperti Rasulullah saw. bagaimana cara teknik rasulullah dalam berbisnis.


Selama ini banyak yang memahami bisnis adalah bisnis yang tujuan utamanya ialah meraih keuntungan yang sebanyak-banyaknya.  hukum ekonomi klasik modal kecil untung sebanyak banyaknya menjadikan pelaku bisnis melakukan segala cara demi merealisasian teori tersebut. dari mulai memalsuan kualitas barang, suap menyuap, penimbunan, pengurangan bahan baku, dan segala jenis bentuk kecurangan lainnya.



Sebagian besar orang-orang berpikir bahwa modal utama berbisnis adalah uang, akan tetapi sejatinya kesuksesan dalam berbisnis modal utamanya adalah moral. Kejujuran, amanah, dan profesional akan mendapatkan kepercayaan yang sangat besar dari konsumen. Dengan adanya kepercayaan dari konsumen maka bisnis yang dilakukan akan berkembang dengan pesat. Hal demikian terbukti dari suksesnya bisnis rasulullah saw pada usia muda.


Perjalanan bisnis rasulullah dimulai sejak sekitar usia 12 tahun, beliau telah pergi bersama pamannya, Abu Thalib, membawa barang dagangan dari Mekah ke negeri Syam (Suriah). Kegiatannya masuk keluar pasar hampir tidak pernah berhenti sepanjang hidupnya.


Pada usia 17 tahun, beliau tercatat sebagai saudagar mandiri yang bermitra dengan Khadijah, wanita pemilik modal (shahibul mal), tetapi kemudian pada usia 25 beliau memutuskan untuk mempersunting Khadijah sebagai istrinya. Aktivitas bisnis Muhammad sebagai saudagar sukses berlangsung hampir sepanjang hidupnya. Dalam catatan Afzalurrahman dalam bukunya “Muhammad as a Trader”, disebutkan bahwa Muhammad Saw sebagai saudagar telah dikenal luas namanya di berbagai negara, seperti Yaman, Suriah, Yordania, Bahrain, dan Irak. (Rokan, 2013)


Kesuksesan beliau sebagai saudagar ditopang oleh etika yang dewasa ini disebut sebagai key success factor (faktor kunci kesuksesan); yaitu al-shiddiq (benar, jujur), al-amanah (terpercaya, kredibel), at- tabligh (komunikatif, transparan) dan al- fathanah (cerdas, profesional).


Adapun strategi dagang ala Rasulullah SAW ialah sebagai berikut :


Pertama, Membidik Pasar. 


Sebelum memulai usaha perdagangannya, Rasulullah memulai perlawatannya ke Bahrain, kunjungan tersebut menjadikan Rasulullah memiliki pengetahuan yang rinci tentang kebiasaan setempat, cara hidup penduduk Bahrain. 


Nabi Muhammad SAW memiliki pengetahuan yang cermat dan teliti, beliau dapat melihat segmen pasar dengan cara yang kreatif dan dari berbagai sudut pandang yang berbeda dibandingkan dengan para pengusaha pada masa itu. Namun, yang perlu diperhatikan dalam hal ini, sebelum Nabi Muhammad SAW melakukan segmentasi, ia terlebih dahulu melakukan pengenalan market, sehingga mendapatkan detail konsumen yang diperlukan untuk melakukan proses segmentasi.


Setelah mengetahui market, beliau melakukan segmentasi pasar secara individu (segment of one) atau yang sekarang dikenal dengan istilah identifikasi market (identifying).


Kedua, Memilih Target.


Targeting adalah Proses pemilihan target dan mencocokan reaksi pasar dengan kebutuhan dasar, kemampuan daya beli dan keterbatasan yang dimiliki. Kejelian pemilihan target market yang tepat akan mempermudah masuknya sebuah produk baru. 


Rasulullah memiliki perencanaan yang sempurna. Dapat dilihat dari Pemilihan Madinah sebagai tempat pindahnya (hijrah) yang merupakan Targeting yang telah diperhitungkan dengan sangat baik. Letak geografis Madinah merupakan pertahanan militer alam yang sangat baik. Selain itu, Madinah yang terletak di Jazirah Arabia merupakan tempat yang sangat kondusif untuk melakukan berbagai kegiatan termasuk perdagangan. (Thariq Gunara, 2007)


Ketiga, Positioning.


Positioning adalah bagaimana menempatkan produk Anda ke dalam benak customer secara luas, sehingga akan tertanam dalam benak pasar bahwa perusahaan Anda adalah definisi dari kategori produk yang Anda jual. Di kalangan para pedagang dan pengusaha saat itu sosok seorang Muhammad sangat disegani dan dihormati karena kejujuran dan keadilannya. Betapa pun kecilnya urusan dagang yang pernah ia lakukan selama remaja, ia tidak pernah memberikan kesempatan pada para pelanggannya untuk mengeluh. Tidak ada tawar menawar dan pertengkaran antara Muhammad dan para pelanggannya sebagaimana sering terjadi pada waktu itu di pasar-pasar. Reputasi Muhammad sebagai pedagang yang jujur dan terpercaya telah terbina dengan baik sejak usia muda baik di kalangan pengusaha saat itu sampai ke kalangan investor yang merupakan orang-orang kaya di kota Mekkah.


Positioning itulah yang secara terus menerus ditanamkan oleh Muhammad sehingga mengakar dengan baik dalam benak para pengusaha. Menjadikan bisnis yang dilakukan oleh rasullah berkembang pesat.


Keempat, Promosi.


Dalam promosi Muhammad  tidak pernah melakukan sumpah untuk melariskan dagangannya. Kalau pun ada yang bersumpah, Muhammad menyarankan orang itu untuk tidak melakukan sumpah tersebut secara berlebihan.


Sumpah yang berlebihan dalam promosi sejak dahulu telah dianjurkan untuk dijauhi. Mengapa? Karena sumpah yang berlebihan, yang dilakukan hanya untuk mendapatkan penjualan yang lebih, tidak akan menumbuhkan kepercayaan (trust) pelanggan. Mungkin pada saat kita melakukan sumpah yang berlebihan kita mendapatkan penjualan yang di atas rata-rata. Namun saat konsumen menyadari bahwa sumpah yang kita ucapkan hanya sebuah kebohongan maka konsumen tersebut tidak akan membeli lagi dari kita. Bukan itu saja, ia akan dengan sangat senang hati memberi tahu siapa pun untuk tidak membeli barang yang akan kita jual. 


Kelima, Membangun Network


Silaturahmi pada dasarnya adalah formula untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.


Silaturahmi pada dasarnya adalah formula untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, lingkungan, makhluk hidup yang lain, dan tentu saja dengan luhan. Dengan silaturahmi, kita melakukan suatu hubungan atas dasar kasih sayang. Silaturahmi adalah kunci dalam melakukan usaha sebagai sarana untuk menuju sumber daya yang tidak terbatas (unlimited resources). Karena dengan silaturahmi, Kita akan mampu membentuk komunikasi dua arah dan pada akhirnya akan mampu mengetahui dan memahami apa-apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan pelanggan.


Jadi, pada saat itu tepatnya pada abad ke-1, Muhammad sudah menekankan pada pentingnya silaturahmi dalam rangka mengetahui costumer insight dengan menggunakan silaturahmi sebagai salah satu seni dalam berdagang yang tentu saja secara tidak langsung akan menaikkan omzet perdagangan.


Dengan silaturahmi kita dapat membangun jaringan kerja (networking) yang tidak terbatas. Silaturahmi memiliki arti dan pengertian yang jauh lebih dalam daripada hanya sebatas hubungan bisnis. Sllaturahmi, sebuah sikap dalam menjalin.


Dengan teknik bisnis ala rasulullah tersebut. Maka setiap pengusaha akan mendapatkan keuntungan yang berkah dan melimpah pada sektor bisnis yang dilakukan


Oleh Lutfiah Fajrianti

Mahasiswi STEI SEBI Depok


Daftar Pustaka


Rokan, M. K. (2013). Bisnis Ala Nabi. Sleman: Bintang Pustaka.

Thariq Gunara, U. H. (2007). Marketing Muhammad, Strategi Andal dan jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad SAW. Bandung: Madania Prima.



Artikel Terkait