Monday, January 11, 2021

Tiba Di Madinah, Rosulullah Singgah di Rumah Abu Ayyub Al-Anshari

[wartanusantara.id] Setelah shalat Jum'at di tempat Bani Salim, Rosulullah Saw bersama pengiringnya melanjutkan perjalanan. Setiap melewati rumah orang-orang Anshar, para penghuninya meminta beliau untuk berkenan singgah di rumahnya dan tinggal bersama mereka. Mereka berebutan memegang tali kendali kendaraan beliau untuk dituntun ke rumah. Namun, Rosulullah Saw bersabda, "Biarkan ia (untanya) karena sesungguhnya ia mendapatkan perintah (dari Allah).



Baca juga Rosulullah tiba di Madinah, Disambut Gembira oleh Penduduk Madinah


Rosulullah terus berjalan hingga tiba di halaman tempat Bani Adi bin An-Najar (merupakan paman-paman Rosul dari pihak Ibu). Tiba-tiba, unta milik beliau berhenti dan menderum di halaman perkarangan milik mereka, tepatnya di depan rumahnya Abu Ayyub Al-Anshari yang nama aslinya Khalid bin Zaid. Kemudian di tempat itu dibangun Masjid Nabawi, kemudian Rosulullah bersabda, "Di sinilah rumahku, insyaAllah."


Abu Ayyub Al-Anshari membawa perbekalan Rosulullah dan menaruh di rumahnya. Beliau memilih tinggal di bagian bawah rumah milik Abu Ayyub supaya memudahkan orang-orang jika hendak mengunjungi beliau.


Abu Ayyub tidak rela kalau Rosul tinggal di bawahnya. Karena ia menghormati beliau. Khawatirnya beliau akan terkena abu yang ditimbulkannya oleh kaki orang-orang yang berjalan di atasnya atau akan terkena air dari atas.


Tak disangka, pada suatu malam gentong tempat air istri Abu Ayyub pecah, kemudian Abu Ayyub dan istrinya membersihkan pecahannya seraya mengelap air yang tertuang karena mereka takut akan mengenai Rosulullah Saw. Oleh karena itu, Abu Ayyub terus membujuk Rosulullah agar berkenan tinggal di bagian atas. Lama-kelamaan Rosulullah mau menerima permintaannya.


Kiriman hidangan selalu datang di tempat tinggal Rosulullah dari para sahabat Anshar yang mampu seperti Sa'ad bin Ubadah, As'ad bin Zurarah, dan ibu sahabat Zaid bin Tsabit. Setiap malam, di depan pintu Rosulullah selalu terdapat tiga atau empat tempat makanan.


Sumber : Buku Nurul Yaqin karya Muhammad Al-Khudhari Bek

Artikel Terkait