Sabtu, 20 Februari 2021

SBY, MEGAWATI & OBAMA

[wartanusantara.idKetika Presiden Obama datang ke Indonesia pada November 2010, oleh Presiden SBY saya dengan Pak Sudi diperintahkan khusus untuk menyambut kedatangan Bu Mega dan Pak Taufiq Kiemas yang saat itu menjabat sebagai Ketua MPR. Itu adalah pertemuan spesial yang dibuat khusus untuk membuat Bu Mega happy. Saat itu Pak SBY sengaja mengatur agar yang menyambut keduanya adalah Sesneg dan Seskab. Kalau saya melihat kembali foto-foto acara itu, terlihat jika Bu Mega banyak tersenyum lebar.



Tugas saya dan Pak Sudi pada saat itu memang untuk memuat Bu Mega senang, dan memposisikan dirinya sebagai tamu yang amat terhormat. Menariknya, saat itu ketika Obama ketemu dengan Bu Mega, dengan santun Obama mendatangi sendiri Bu Mega dan menyalaminya dengan posisi menunduk.
Tugas khusus dari Presiden SBY kepada Sesneg dan Seskab menunjukkan jika SBY bukan tanpa upaya untuk membangun hubungan baik. Dan ini salah satu upaya SBY dari beberapa upaya lainnya yang telah ia lakukan. Upaya lainnya adalah ketika mengangkat Duta Besar dari PDIP dan juga memberi pengakuan ketika peresmian jembatan Suramadu, bahwa proyek jembatan itu telah diinisiasi sejak masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, dan kemudian dilanjutkan serta diselesaikan di masa SBY. Sehingga, proyek itu adalah hasil dari kerja simultan beberapa pemerintahan.
Mestinya, apa yang dicontohkan oleh Presiden SBY itu juga dicontoh oleh para pemimpin lainnya, termasuk oleh presiden sesudahnya. Jangan sampai seorang pemimpin mengambil semua kredit pembangunan atas namanya sendiri, sehingga publik tidak mendapatkan informasi yang akurat. Padahal, sejauh pengalaman saya bekerja di pemerintahan, proyek-proyek pembangunan, apalagi yang skalanya cukup besar, selalu dikerjakan multi years, di mana sejak tahap perencanaan, pengerjaan hingga selesainya, dibutuhkan waktu yang cukup panjang.
Selain itu, ketika menjabat presiden, Pak SBY paham betul mana pekerjaan presiden, mana pekerjaan gubernur, dan mana pekerjaan bupati. Setiap pemimpin dituntut harus mengetahui porsi dan tanggung jawabnya. Hal ini selalu ditekankan Presiden ketika sedang berhadapan dengan jajaran pemerintahan atau lembaga di bawahnya. Sehingga, kegiatan-kegiatan yang mestinya cukup dikerjakan oleh bawahannya, pasti tidak akan dihadiri oleh Pak SBY. Perhatian Presiden memang harus diarahkan pada urusan-urusan strategis, mendasar, dan berskala khusus saja.
Contohnya adalah kegiatan-kegiatan peresmian. Peresmian pembangkit listrik di bawah 10 MW, misalnya, pada masa SBY cukup diresmikan oleh kepala kantor PLN, atau paling tinggi cukup oleh Direktur PLN saja. Tapi, saat ini proyek-proyek kecil seringkali diresmikan oleh presiden langsung, seolah dengan melakukan peresmian-peresmian itu pemerintah pusat ingin terlihat melakukan banyak pembangunan. Sangat disayangkan. Sebab, agenda seorang pemimpin nasional seharusnya terfokus pada soal-soal strategis dan mendasar.
*) Dipetik dari buku biografi Dipo Alam, "Dalam Pusaran Adab Dipimpin dan Memimpin" (2021)

Sumber FB

SBY, MEGAWATI & OBAMA Ketika Presiden Obama datang ke Indonesia pada November 2010, oleh Presiden SBY saya dengan Pak...

Dikirim oleh Tarli Nugroho pada Kamis, 18 Februari 2021

Artikel Terkait