Senin, 05 April 2021

Peredaran Masker Medis Palsu, Netty: Pemerintah Jangan Membiarkan Bencana COVID-19 Dijadikan Lahan Bisnis

[wartanusantara.idJakarta-  Peredaran masker medis palsu terungkap berawal dari adanya  donasi masker respirator N95 merek 3M kepada Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) dari masyarakat. Setelah diteliti, masker berstandar Amerika Serikat tersebut ternyata palsu. 



Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah agar  melakukan penindakan tegas karena masker palsu tidak aman digunakan saat berhadapan dengan pasien COVID-19.   "Masker adalah alat utama pelindung diri yang digunakan tenaga kesehatan. Jika  yang digunakan adalah masker palsu maka ini akan membahayakan nyawa mereka saat  berhadapan langsung dengan pasien COVID-19," kata Netty dalam keterangan medianya, Senin (05/04/2021). 

Hal yang  disampaikan  Ketua Tim COVID-19 Fraksi PKS ini  dikonfirmasi kebenaranya  oleh Satgas COVID-19.
Bidang Perlindungan Tenaga Kesehatan Satgas Penanganan COVID-19, Mariya Mubarika, yang  menyatakan bahwa peredaran masker medis palsu menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan banyak tenaga kesehatan di Indonesia terpapar COVID-19. 

"Saya meminta pemerintah dan pihak berwenang untuk  membongkar peredaran masker palsu ini sampai ke akar-akarnya, jangan hanya di tingkat penjual eceran.  Saya menduga ada jaringan yang mengedarkan masker medis palsu secara masif, bahkan dapat diperoleh dengan mudah melalui pasar online," katanya. 

Temuan ini, kata Netty, menambah panjang  daftar masalah penanganan COVID-19 dan membuat nasib tenaga kesehatan kian dipertaruhkan. "Kita sedang berperang melawan pandemi dan  para nakes yang berada di zona merah seharusnya mendapat perlindungan penuh dari pemerintah. Nyatanya, beragam persoalan membelit mereka, mulai dari soal insentif yang tertunda, jam kerja yang panjang hingga harus membeli sendiri alat pelindung diri seperti masker. Ditambah lagi sekarang dengan fakta beredarnya masker medis palsu di pasaran. Kita kok seperti maju berperang dengan modal nekat, ya? Dimana jaminan perlindungan negara terhadap nakes?," tanya Netty prihatin.  

Netty mengingatkan pemerintah agar memprioritaskan penggunaan  anggaran COVID-19 yang amat besar itu guna memastikan  perlindungan terhadap tenaga kesehatan. "Gunakan anggaran COVID-19 yang besar tersebut dengan skala prioritas. Perlindungan pada nakes adalah prioritas, lengkapi dan sediakan APD mereka dengan baik. Pastikan insentif dibayarkan sesuai waktunya. Beri kesempatan istirahat yang cukup dengan dukungan tenaga kesehatan cadangan atau relawan," ujar Netty. 

Terakhir Netty mengingatkan pemerintah agar memastikan  tidak ada pihak atau oknum yang  menjadikan COVID-19 sebagai lahan bisnis guna mencari keuntungan pribadi atau kelompok, apalagi melalui cara - cara  yang melawan hukum. 

"Saya mengingatkan kepada pemerintah agar menjaga situasi kondusif dengan tidak membiarkan  siapapun  menjadikan bencana non-alam seperti COVID-19 sebagai lahan mengeruk keuntungan. Ini  adalah bencana bagi kita semua, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan. Apalagi seperti menjual masker palsu yang dapat membahayakan nyawa manusia," tandasnya.

Artikel Terkait