Senin, 05 Agustus 2019

Sejarah Akuntansi Syariah

Oleh Aida Nur Tsalsabila


Penerapan syariat islam diberbagai bidang terus-menerus mengalami perkembangan. Dalam bidang keuangan sudah banyak lembaga keuangan yang menerapkan syariat islam,baik lembaga keuangan bank maupun non bank. Berbicara tentang lembaga keuangan, akuntansi merupakan hal yang tidak lepas dari persoalan lembaga keuangan. Dalam sebuah Lembaga keungan baik bank maupun non bank memerlukan akuntansi untuk pencatatan laporan serta pengambilan sebuah keputusan. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai akuntansi syariah melalui bebrapa poin berikut ini.


Sejarah Perkembangan Akuntansi Syariah

Dari sisi keilmuan akuntansi merupakan ilmu yang mencoba mengubah bukti dan data menjadi informasi dengan cara melakukan pengukuran atas berbagai transaksi dan dikelompokkan dalam account, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, pendapatan, beban. Dalam konsep syariah islam, akuntasi dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang permanen, yang disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam dan digunakan sebagai aturan oleh seorang akuntan dalam pekerjaannya.

Dalam penyusunannya akuntansi syariah dan akuntansi konvensioanal memiliki kesamaan khususnya dalam teknik dan operasionalnya. Seperti dalam bentuk pemakaian buku besar, sistem pencatatan, proses penyusunan bisa sama. Namun perbedaan akan kembali ketika membahas subtansi dari isi laporannya, karena berbedanya filosofi.

Sejarah lahirnya ilmu akuntansi syariah tidak lepas dari perkembangan islam, kewajiban mencatat transaksi non tunai sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 282 mendorong umat islam untuk peduli terhadap pencatatan dan menimbulkan tradisi pencatatan dikalangan umat, dan hal tersebut merupakan salah satu faktor yang mendorong kerjasama pada zaman itu.

Sejarah membuktikan bahwa ilmu akuntansi telah lama dipraktekkan  dalam dunia islam, seperti istilah jurnal, telah lebih dulu digunakan ketika masa khalifah islam dengan isltilah “jaridah” untuk buku catatan keuangan. Begitu juga dengan double entry yang ditulis oleh Luca Pacioli. Dengan begitu kita tau bahwa Islam lebih dahulu mengenal sistem akuntansi karena Al-Qur’an telah turun pada tahun 610 M, yakni 800 tahun lebih dahulu dari Luca Pacioli yang menerbitkan bukunya pada tahun 1494.

Pada abad ke 7 Rasulullah SAW mendirikan Baitul Maal. Fungsinya sebagai penyimpanan ketika adanya pembayaran wajib zakat dan usur (pajak pertanian dari muslim) dan adanya perluasan wilayah atau jizia yaitu pajak perlindungan dari non muslim, dan juga adanya kharaj yaitu pajak pertanian dari non muslim.


Perkembangan Akuntansi Syariah pada Zaman Khalifah

   a.       Abu Bakar Ash-Shiddiq

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, pengelolaan Baitul Maal masih sangat sederhana, dimana penerimaan dan pengeluaran dilakukan secara seimbang, sehingga hampir tidak pernah ada sisa.

    b.      Umar bin Khattab

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sudah dikenalkan dengan istilah “Diwan” yaitu tempat dimana pelaksana duduk, bekerja dan dimana akuntansi dicatat dan disimpan yang berfungsi untuk mengurusi pembayaran gaji. Khalifah Umar menunjukkan bahwa akuntansi berkembang dari suatu lokasi ke lokasi lain sebagai akibat dari hubungan antar masyarakat.

    c.       Utsman bin Affan

Ketika zaman khalifah Utsman,terdapat istilah khittabat al-rasull wa sirr yaitu memelihara pencatatan rahasia.

   d.      Ali bin Abi Thalib

Pada masa pemerintahan sistem administrasi Baitul Maal difokuskan pada pusat dan lokal yang berjalan baik, surplus pada Baitul Maal dibagikan secara profesional sesuai dengan ketentuan Rasulallah SAW. Adanya surplus ini menunjukkan bahwa proses pencatatan dan pelaporan berlangsung dengan baik. Khalifah Ali memilki konsep tentang pemerintahan, administrasi umum dan masalah-masalah yang berkaitan dengannya secara jelas.

Hubungan Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syariah

Perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk sistem pencatatan sudah ada sejak zaman daulah abbasiyah, dalam waktu yang sama, Benua Eropa berada dalam periode The Dark Ages (Masa Kegelapan). Dengan begitu kita dapat melihat hubungan antara Luca Pacioli dan Akuntansi Syariah. Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa perdagangan arab memengaruhi Italia. Hal tersebut didukung dengan pernyataan luca pacioli, bahwa setiap transaksi harus dicatat dua kali di sisi sebelah kredit dan di sisi sebelah debit, atau diawali dengan menulis kredit terlebih dahulu kemubian debit. Hal ini memunculkan dugaan bahwa Pacioli menerjemahkan hal tersebut dari bangsa Arab yang menulis dari sisi kanan.

 Kemajuan dalam Akuntansi Syariah

Akuntansi Syariah mengalami beberapa kemajuan, dalam bidang pembukuan para inisiator akuntansi Islam kontemporer sangat memperhatikan usaha pembukuan konsep ini. Hal ini dilakukan agar orang-orang yang tertarik pada akuntansi dapat mengetahui kandungan konsep Islam dan pokok-pokok pikiran ilmiah yang sangat berharga, sehingga kita tidak lagi memerlukan ide-ide dari luar atau mengikuti konsep barat. Selain itu, Konsep akuntansi Islam mulai masuk kesekolah-sekolah dan perguruan tinggi sejak tahun 1976, yaitu fakultas perdagangan Universitas Al Azhar untuk program pasca sarjana, dalam mata kuliah Akuntansi perpajakan dan Evaluasi Akuntansi. Situasi ini terus berlanjut, hingga tahun 1978 dibuka beberapa jurusan dalam cabang-cabang ilmu akuntansi Islam di berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah. Dan hal ini berlanjut sampai sekarang diberbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.Kebangkitan akuntansi Islam dalam aspek implementasi. Implementasi akuntansi Islam mulai dilakukan sejak mulai berdirinya lembaga-lembaga keuangan yang berbasiskan syariah.

Hal ini menyebabkan lembaga keuangan syariah tersebut harus menggunakan sistem akuntansi yang juga sesuai syariah. Puncaknya saat organisasi akuntansi Islam dunia yang bernama Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) menerbitkan sebuah standard akuntansi untuk lembaga keuangan syariah yang disebut Accounting, Auditing, and Governance Standard for Islamic Institution.

Perkembangan Akuntansi Syariah di Indonesia

Perkembangan akuntansi syariah di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari proses pendirian Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang merupakan landasan awal diterapkannya ajaran Islam menjadi pedoman bermuamalah. Bank Muamalat merupakan bank syariah pertama di Indonesia yang lahir karena keinginan masyarakat para pemikir islam yang ingin melakukan proses muamalah sesuai dengan ajaran islam.

Setelah didirikannya bank syariah, terdapat keganjilan ketika membuat laporan keuangan. Pada waktu itu proses akuntansi belum mengacu pada akuntansi yang sesuai dengan syariat islam. Akuntansi yang sesuai dengan syariat islam mulai diterapkan setelah adanya standar akuntansi perbankan syariah, setelah terbentuknya pemahaman yang lebih konkrit tentang apa dan bagaimana akuntansi syariah, dan terbentuknya lembaga-lembaga yang berkonsentrasi pada akuntansi syariah. Jadi secara historis, sejak tahun 2002 barulah muncul ide pemikiran dan keberadaan akuntansi syariah, baik secara pengetahuan umum maupun secara teknis. Sebagai catatan, IAI baru membentuk Komite Akuntansi Syariah di Indonesia.








Artikel Terkait