Oleh Ayril Annisa
Mahasiswa IAI SEBI
Wartanusantara.id - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) merupakan bencana tahunan yang terus menghantui wilayah Kalimantan, khususnya saat musim kemarau tiba. Fenomena ini bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan krisis yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan, ekonomi, pendidikan, hingga tatanan sosial. Artikel ini mengulas bagaimana Karhutla memberikan dampak nyata bagi warga Kalimantan dan mengapa persoalan ini memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Dampak terhadap Kesehatan Masyarakat
Salah satu dampak paling langsung dari Karhutla adalah kabut asap yang menyelimuti wilayah Kalimantan dalam waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan pada tahun-tahun dengan tingkat kebakaran tinggi. Kabut asap ini mengandung partikel halus (PM2.5) yang sangat berbahaya bagi sistem pernapasan.
Beberapa gangguan kesehatan yang umum dialami masyarakat akibat paparan asap Karhutla antara lain:
- Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang jumlah kasusnya melonjak tajam saat kabut asap pekat.
- Iritasi mata dan kulit akibat paparan langsung terhadap partikel asap.
- Memburuknya kondisi penderita asma dan penyakit paru kronis.
- Risiko jangka panjang bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia, termasuk potensi gangguan tumbuh kembang pada anak-anak yang terpapar sejak dalam kandungan.
Di banyak daerah, sekolah terpaksa diliburkan dan aktivitas luar ruangan dibatasi demi melindungi warga, terutama anak-anak, dari paparan udara yang tidak sehat.
Dampak terhadap Perekonomian Lokal
Karhutla juga memukul sektor ekonomi masyarakat Kalimantan secara signifikan. Sebagian besar penduduk di wilayah ini menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang justru menjadi area paling terdampak.
Beberapa kerugian ekonomi yang kerap terjadi meliputi:
- Gagal panen pada lahan pertanian dan perkebunan yang terbakar atau terkena dampak asap.
- Terganggunya aktivitas perdagangan karena jarak pandang yang rendah menghambat transportasi darat, sungai, dan udara.
- Penutupan sementara bandara akibat kabut asap yang mengganggu jadwal penerbangan dan distribusi logistik.
- Menurunnya produktivitas kerja karena banyak pekerja yang sakit atau tidak dapat beraktivitas normal di luar ruangan.
- Biaya pemulihan yang harus dikeluarkan pemerintah daerah maupun swadaya masyarakat untuk penanganan bencana dan pemulihan lahan.
Bagi masyarakat adat dan petani skala kecil, dampak ini terasa berlipat karena keterbatasan akses terhadap bantuan dan alternatif mata pencaharian.
Dampak terhadap Pendidikan
Kabut asap yang pekat memaksa banyak sekolah di Kalimantan meliburkan siswa demi alasan keselamatan. Meski kebijakan ini penting untuk melindungi kesehatan anak, dampaknya adalah hilangnya waktu belajar yang cukup panjang dalam satu tahun ajaran. Proses belajar-mengajar yang terganggu berulang kali setiap tahun turut memengaruhi kualitas pendidikan anak-anak di wilayah terdampak, terutama di daerah pedesaan yang minim fasilitas belajar alternatif.
Dampak Sosial dan Psikologis
Selain dampak fisik, Karhutla juga memberi tekanan sosial dan psikologis bagi masyarakat. Ketidakpastian mengenai kapan kabut asap akan berakhir, kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga, serta kerugian ekonomi yang berulang setiap tahun menimbulkan kecemasan kolektif di tengah masyarakat.
Di beberapa wilayah, konflik sosial juga dapat muncul akibat sengketa lahan antara masyarakat, perusahaan perkebunan, dan pihak lain yang dituding sebagai penyebab kebakaran, sehingga menambah kompleksitas persoalan yang dihadapi warga.
Dampak terhadap Lingkungan dan Keberlanjutan Hidup
Karhutla turut merusak ekosistem hutan Kalimantan yang menjadi salah satu paru-paru dunia dan rumah bagi keanekaragaman hayati, termasuk spesies dilindungi seperti orangutan. Kerusakan lahan gambut akibat kebakaran juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar, memperparah perubahan iklim, serta membutuhkan waktu pemulihan yang sangat lama karena karakteristik gambut yang sulit diregenerasi.
Kerusakan lingkungan ini pada akhirnya kembali berdampak pada masyarakat, terutama yang menggantungkan hidup dari hasil hutan dan sungai yang kualitasnya ikut menurun akibat pencemaran.
Upaya yang Diperlukan
Mengingat kompleksitas dampaknya, penanganan Karhutla memerlukan pendekatan yang menyeluruh, di antaranya:
- Pencegahan dini melalui pengawasan ketat terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar.
- Restorasi lahan gambut agar tidak mudah terbakar saat musim kemarau.
- Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan, baik individu maupun korporasi.
- Edukasi masyarakat mengenai metode pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) yang ramah lingkungan.
- Penguatan sistem tanggap darurat, termasuk penyediaan masker, fasilitas kesehatan, dan ruang bebas asap bagi masyarakat terdampak.
Penutup
Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan semata, tetapi juga krisis kemanusiaan yang memengaruhi kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat Kalimantan secara luas. Diperlukan komitmen bersama antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk mencegah dan menangani Karhutla secara berkelanjutan, demi menjaga kualitas hidup generasi saat ini maupun yang akan datang.
