Oleh Adibah
Al Khoeriyah
Kegiatan bisnis dalam bingkai ajaran Islam bukan hanya
aktivitas pemenuhan kebutuhan ekonomi semata. Namun kegiatan bisnis sekaligus
kegiatan ibadah yang akan mendapatkan pahala berlimpah dari Allah SWT. Islam
menganjurkan umatnya untuk bekerja dan bekerja, meraih rezeki
sebanyak-banyaknya tetapi harus melalui cara yang halal.[1]
Belajar kepada Nabi Muhammad SAW,
yang memiliki visi hidup menjadi rahmat bagi seluruh alam, maka agar perusahaan menjadi besar. Visi yang
paling tinggi bagi seorang muslim adalah bermanfaat untuk orang lain sebagai
bentuk amal shaleh kepada Allah. Orientasi yang paling tinggi bagi seorang
muslim dalam berbisnis adalah berbisnis karena Allah, bukan sekedar selembar
uang. Karena berbisnis yang halal termasuk amal shaleh, dan perbuatan yang
disukai Allah. Inilah yang disebut sebagai Tauhid Perusahaan.[2]
Bekerja dengan niat ibadah merupakan
salah satu visi besar seorang pengusaha muslim. Dalam Islam berusaha bukanlah
sekedar mencari untung (provit) semata, akan tetapi berusaha merupakan salah
satu ibadah, karenanya setiap pelaku usaha dalam Islam dianjurkan untuk
senantiasa berniat melakukan pekerjaannya dalam rangka melaksakan sunnatullah.
Seperti dijelaskan di dalam surat At-taubah ayat 105:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ
وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah
dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu
akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’’
Oleh karena itu dapat ditambahkan
bahwa seorang pengusaha muslim tidak akan pernah meninggalkan Allah dalam
setiap pekerjaannya, sebab apapun yang kita lakukan tanpa keridhaan (izin)
Allah, tidak akan pernah kita mendapatkan hasil yang membahagiakan. Karenanya
pengusaha muslim bila mendapat keberhasilan (untung) dia tidak akan dihinggapi
sifat arogan (sombong), sebab ia yakin bahwa keberhasilan yang diraihnya
merupakan Rahmat dan izin dari Allah. Sebaliknya bila seseorang ditimpa
kegagalan (rugi) tidak akan frustrasi, sebab ia yakin Allah belum
mengizinkannya untuk sukses, sehinga kegagalan yang menimpanya tidak membuatnya
terpuruk dan malas, tetapi akan bangkit terus demi untuk meraih kejayaan.
Dengan demikian karekteristik
seorang pengusaha muslim harus memiliki keyakinan bahwa manusia hanya
berkewajiban melakukan usaha semaksimal yang mampu dilakukan, sementara hasil
dari usaha tersebut diserahkannya kepada kekuasaan Allah. Hal inilah yang
digambarkan oleh Allah dalam Surat Ali-Imran ayat 159:
فَإِذَا عَزَمْتَ
فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ…
Artinya:
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadanya.”
Ayat di atas memberi gambaran bahwa
tawakkal harus ditempatkan setelah kita melakukan ikhtiar (usaha) yang terbaik,
semaksimal kemampuan yang kita miliki. Menurut Kamaluddin dalam bukunya yang
berjudul ‘’Kewirausahaan Dalam Pandangan Islam’’ alam Islam kehidupan dunia dan
akhirat ibarat dua mata sisi uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu
dengan lainnya. Karenanya dalam menjalani kehidupan ini, harus ada keseimbangan
antara kehidupan dunia dengan akhirat. Artinya seseorang yang ingin mencapai
kebahagian akhirat bukan berarti harus meninggalkan kesenangan hidup di dunia,
demikian sebaliknya, untuk meraih kebahagiaan dunia, seseorang harus
meninggalkan kepentingan akhirat. Tetapi keduanya seiring sejalan, “Bekerjalah
untuk kepentingan duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya, dan beramallah
kamu seolah-olah kamu mati esok hari”. Rasulullah diutus Allah, disamping
sebagai teladan bagi umat, juga membawa ajaran yang dapat memberi pedoman
disemua lini dan sisi kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan pemenuhan hajat kebutuhan hidup lewat
jalur wirausaha, juga kebahagiaan yang akan datang (akhirat).[3]
[1] Wadhan, Konsepsi Semangat Kewirausahaan
Ciputra (Kesesuaian dengan Konsep Ekonomi Islam), 2016
Nuansa,Vol.13No.1Januari–Juni
[2] Sanerya
Hendrawan, Spiritual Management: From Personal Enlightenment Towards God
Corporate Governance, (Bandung: Mizan, 2009), 103.
[3] Kamaluddin
‘’Kewirausahaan Dalam Pandangan Islam’’,
Proseding Seminar Nasional Kewirausahaan, 1(1), 2019, hal 302-310
