Meskipun dianggap membosankan oleh sebagian orang, namun sebagian besar orang sepertinya setuju jika Presiden SBY adalah salah satu dari sedikit pemimpin yang menguasai teknik berpidato dengan baik. Artikulasi linguistik, kefasihan, penguasaan materi, serta gesturnya saat berpidato, dianggap sangat tertata. Jika Bung Karno dikenal karena gaya berpidato yang menggelorakan semangat, dan Pak Harto dikenal karena gaya “sambung rasa” yang hangat dan komunikatif saat sedang berhadapan dengan masyarakat bawah, maka Presiden SBY memang dikenal karena pidatonya yang tertata dan sistematis.
Pada kenyataannya, sebagaimana pernah diceritakan oleh beberapa orang terdekatnya, Presiden SBY memang selalu menyiapkan pidato-pidatonya dengan sangat teliti. Bahkan, ia melakukan latihan terlebih dahulu sebelum membawakan pidato-pidato tadi di depan publik.
Kepiawaian SBY dalam berpidato memang sudah terlatih lama. Saat masih perwira menengah, SBY, misalnya, pernah menjadi penulis pidato untuk Kepala Staf TNI AD (Kasad) Jenderal TNI Edi Sudradjat dan Wakasad Letjen TNI Wismoyo Arismunandar.
Menurut Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam, sebagai presiden, SBY terlibat secara langsung dalam penyusunan pidato yang akan dibawakannya, mulai dari penentuan topik, hingga merancang materinya. Sesudah draf awal diselesaikan oleh speech writer, Presiden SBY akan memeriksa naskah itu dengan teliti, mengkoreksi typo, spelling, menghapus kata atau kalimat yang tidak sesuai, mempertanyakan asumsi dan argumentasi, serta menambahkan hal-hal lain yang diperlukan. Proses ini, menurut Dino Pati Djalal, yang pernah menjadi salah satu speech writer SBY, bisa berlangsung berulang kali.
Pidato-pidato untuk forum kecil biasanya dipersiapkan dalam tempo yang pendek, cukup beberapa hari sebelumnya. Namun, untuk forum-forum besar, naskah pidato biasanya akan dipersiapkan beberapa minggu, bahkan beberapa bulan sebelumnya. Pidato untuk Sidang Tahunan Majelis Umum PBB, misalnya, biasanya dipersiapkan cukup panjang. Apalagi jika topiknya menjadi atensi dunia internasional, Presiden SBY bahkan tak segan untuk membentuk gugus tugas khusus yang bertugas menggodok materi yang akan disampaikan. Itu menunjukkan jika SBY memang benar-benar terlibat dengan semua pidato yang akan disampaikannya.
Jadi, menurut kesaksian orang-orang terdekatnya, tidak ada ceritanya Presiden baru mengetahui dan membaca naskah pidato yang akan dibawakannya beberapa menit sebelum tampil, atau bahkan persis pada saat tampil.
Hal lain yang mungkin tak banyak diketahui publik, Presiden SBY ternyata selalu melakukan latihan terlebih dahulu sebelum memberikan pidato. Ini terutama dilakukan untuk forum-forum internasional yang akan dihadirinya. Selain melakukan latihan di depan cermin, SBY juga melakukan latihan di tengah para pembantunya. Berapa menit ia harus berpidato, misalnya, akan dilatih betul agar pas. Selain itu, latihan itu juga berguna agar Presiden tidak keliru dalam spelling, terutama terkait penyebutan nama orang. Latihan ini bisa dilakukan di mana saja. Di hotel tempat menginap, atau di pesawat kepresidenan.
Menurut cerita Dipo Alam dalam buku biografinya, “Dalam Pusaran Adab Dipimpin dan Memimpin” (2021), sebelum berpidato di depan Parlemen Turki, 29 Juni 2010, misalnya, Presiden SBY juga melakukan latihan terlebih dahulu. Pada saat latihan itulah, Dipo Alam mengingatkan kepada Presiden mengenai cara melafalkan nama “ErdoÄŸan” seturut lidah orang Turki.
“Oh, jadi bunyi huruf ‘g’-nya disamarkan, ya?” tanya Pak SBY.
“Betul, Pak. Jadi dilafalkannya seperti bunyi ‘h’,” ujar Dipo. Sebelum diangkat menjadi Seskab, Dipo Alam memang pernah menjadi Sekjen D-8 yang berkantor di Istanbul, Turki, selama dua periode.
Jadi, seteliti itulah SBY dalam menyiapkan pidato-pidatonya.
Itu sebabnya, menurut Dipo Alam, tidak ada ceritanya para menteri SBY bisa bersenang-senang saat mendampingi Presiden melakukan kunjungan ke luar negeri. Yang ada, mereka harus bersiap kehilangan banyak sekali jam tidur. Apalagi, jika forum yang dihadiri sangat bergengsi, seperti saat SBY memberikan pidato mengenai reformasi Dewan Keamanan PBB, atau ketika ia diundang untuk memberikan kuliah umum di kampus-kampus bergengsi. Dipo Alam, bersama Mensesneg Sudi Silalahi, serta Menteri Luar Negeri, terutama, harus siap dipanggil jam berapapun untuk melayani Presiden berdiskusi terkait materi pidato, baik untuk memperbaiki teks, maupun untuk memberikan koreksi dan masukan saat Presiden melakukan latihan. Kadang Presiden latihan pada dinihari, atau pagi buta, dan mereka harus siap dipanggil pada saat itu juga.
Mengenai hal ini, Dipo Alam mengaku kalau dirinya sering merasa geli jika melihat penampilan Menlu Marty Natalegawa. Sebab, jam berapapun dia dipanggil Presiden SBY, ia akan selalu datang mengenakan jas dan dasi lengkap. Sangat rapi. Di sisi lain, Dino, yang selain menjadi speech writer juga merupakan Juru Bicara Presiden bidang hubungan internasional, kadang datang hanya dengan celana pendek saja. Dipo sendiri, kalau dipanggil dinihari, biasanya juga sudah mengenakan sarung dan tidak lagi pakai dasi. Karena di luar jam kerja, Presiden SBY tentu saja tidak mempersoalkan semua itu.
Ketika Dipo Alam bertanya kepada Menlu Marty, bagaimana dia bisa cepat mengenakan jas, dasi, dan berpakaian rapi ketika dipanggil Presiden, padahal Marty juga sebenarnya baru bangun dari tidurnya, ternyata memang ada rahasianya.
“Saya tidur selalu mengenakan jas dan dasi lengkap, Pak Dipo. Jadi, kapanpun saya dipanggil Presiden, saya tidak perlu berpakaian lagi,” ujarnya.
Saat mendengar cerita tersebut, saya kontan tertawa. Sebab, kebiasaan seperti itu juga sering saya lihat dilakukan oleh para ADC (Aide de Camp). Dalam acara-acara kunjungan ke luar negeri, saya sering melihat para ADC tidur dengan tangan terlentang di kamarnya, masih dengan jas dan dasi lengkap. Jika sewaktu-waktu dipanggil, mereka bisa langsung bergegas keluar kamar. Namun, saya sama sekali tak bisa membayangkan kalau kebiasaan semacam itu juga dipraktikkan oleh Menlu Marty Natalegawa.
Menariknya, menurut Dipo Alam, jam berapapun para menteri dan staf tadi dipanggil oleh Presiden SBY untuk mendiskusikan ataupun latihan pidato, selalu ada Ibu Ani di sana. Ternyata, menurut pengakuan SBY, Ibu Ani adalah kritikus pertama atas pidato-pidatonya. Saat tidak ada staf, SBY sering berlatih pidato hanya dengan istrinya, di mana istrinya itu akan memberikan catatan kurang begini, atau kurang begitu kepadanya.
Dulu saya sering bertanya, jika SBY memang piawai berpidato, kenapa ia selalu menggunakan teks dalam pidato-pidatonya? Ternyata teks-teks pidato itu dimaksudkan agar setiap ucapan Presiden bisa terdokumentasikan. Sehingga, apapun yang diucapkan oleh seorang Presiden, memang telah benar-benar dipikirkan secara matang sebelumnya sehingga bisa dipertanggungjawabkan di kemudian hari.
Saat SBY menjabat, terus terang saya bukan termasuk orang yang mengaguminya. Namun sesudah mendengar cerita-cerita semacam ini, saya jadi mengetahui kalau ia telah bekerja dan menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dengan sangat serius.
Semoga beliau bisa segera sehat kembali. Aamiin.
