WARTANUSANTARA.ID|SEJARAH-- Tragedi Bi'ru Ma'unah terjadi pada bulan Safar tahun ke-4 Hijriah. Salah seorang pimpinan bani Amir dari Najed, Abu Amir bin Malik Mulai'ib Al-Asinnah datang menemui Rosulullah Saw. Beliau mengajaknya untuk masuk Islam, namun Abu Amir tidak mau dan juga tidak menolak.
Abu Amir meminta kepada Rosulullah untuk mengutus beberapa sahabatnya untuk berdakwah kepada penduduk Najed.
"Aku berharap mudah-mudahan penduduk Najed mau menerimanya," ujar Abu Amir
Rosulullah menjawab, "Namun, aku khawatir dengan nasib mereka saat menghadapi orang-orang Najed."
"Akulah yang akan menjamin keselamatan mereka," jawab Abu Amir.
Setelah mendengar jaminan dari Abu Amir, Rosulullah Saw. mengutus 70 orang sahabatnya yang ahli qurra', karena mereka adalah orang-orang yang banyak hafal al-Qur'an. 70 orang ahli qurra' berangkat bersama Abu Amir.
Para rombongan ahli qurra' berjalan sampai di Bi'ru Ma'unah. Mereka mengutus Haram bin Milhan untuk menyampaikan surat kepada Amir bin At-Thufail, pemimpin bani Amir.
Amir bin At-Thufail malah membunuh Haram, tidak membaca sama sekali surat tersebut. Bersama dengan orang-orang Dzakwan dan Ashabah, Amir bin At-Thufail mengepung para ahli qurra' hingga terjadi peperangan yang tidak seimbang hingga para ahli qurra' syahid.
Berita nasib ahli qurra' sampai kepada Rasulullah, kemudian beliau berpidato kepada para sahabat;
"Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah bertempur melawan kaum musyrikin, dan kaum musyrikin telah membunuh mereka. Sungguh, mereka telah berdo'a, 'Ya Rabb kami, sampaikanlah kepada kaum kami bahwa kami telah bertemu dengan Rabb kami (meninggal dunia), dan kami telah rela kepada-Nya dan Dia telah rela terhadap kami.'
Rosulullah Saw. sangat sedih, lalu beliau mendoaakan kebinasaan bagi orang-orang yang mengkhianati mereka, selama sebulan penuh di dalam shalat. Doa dalam shalat tersebut dikenal qunut nazilah.
Sumber diolah dari Nurul Yaqin Karya Muhammad Al-Khudhari Bek
.png)