3 Adab Seorang Muslim Terhadap Kepemilikan Harta Kekayaan


Ditulis oleh Eva Marjoli
Mahasiswa STEI SEBI Depok

WARTANUSANTARA.ID|KEISLAMAN-- Harta adalah kekayaan yang dianugerahkan Allah Swt. kepada hamba-Nya sebagai bahan hidup untuk berbakti kepada-Nya.Ulama mengatakan bahwa sifat manusia adalah rakus akan harta. Karena manusia memiliki kekayaan, mereka tertarik pada kekayaan, singgasana, dan wanita. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi kaya.

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)" QS Ali Imran Ayat 14)

Jadi tabunya bukan cinta harta, tapi tabu keserakahan. Oleh karena itu, kecintaannya terhadap harta melebihi kecintaannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sehingga ia lupa akan Penciptanya dan orang-orang yang memberinya harta, sekalipun hanya titipan dari Allah SWT.

Agar seorang muslim itu terhindar dari keserakahan terhadap harta kekayaan yang dimilikinya, ada 3 adab yang harus dimiliki :

Pertama, tidak berlebih-lebihan dan tidak mengambil selain haknya. 

Rasulullah memberikan penjelasan yang sangat menarik soal ini. Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Demi Allah! Sungguh aku tidak khawatir terhadap kalian kecuali mengenai perhiasan dunia (harta) yang diberikan oleh Allah kepada kalian. Seorang lelaki pun bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah kebaikan (harta) itu mendatangkan kejelekan?” 

Rasulullah bersabda:

لاَ يَأْتِى الْخَيْرُ إِلاَّ بِالْخَيْرِ ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، وَإِنَّ كُلَّ مَا أَنْبَتَ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ ، إِلاَّ آكِلَةَ الْخَضِرَةِ ، أَكَلَتْ حَتَّى إِذَا امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتِ الشَّمْسَ ، فَاجْتَرَّتْ وَثَلَطَتْ وَبَالَتْ ، ثُمَّ عَادَتْ فَأَكَلَتْ ، وَإِنَّ هَذَا الْمَالَ حُلْوَةٌ ، مَنْ أَخَذَهُ بِحَقِّهِ وَوَضَعَهُ فِى حَقِّهِ ، فَنِعْمَ الْمَعُونَةُ هُوَ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ ، كَانَ الَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ

“Kebaikan itu tidaklah membuahkan/mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya harta benda ini nampak hijau (indah) nan manis (menggiurkan). Sungguh perumpamaannya bagaikan rerumputan yang tumbuh di musim semi. Betapa banyak rerumputan yang tumbuh di musin semi menyebabkan binatang ternak mati kekenyangan hingga perutnya bengkak dan akhirnya mati atau hampir mati. Kecuali binatang yang memakan rumput hijau, ia makan hingga ketika perutnya telah penuh, ia segera menghadap ke arah matahari, lalu memamahnya kembali, kemudian ia berhasil membuang kotorannya dengan mudah dan juga kencing. Untuk selanjutnya kembali makan, demikianlah seterusnya. Dan sesungguhnya harta benda ini terasa manis. Barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang benar dan membelanjakannya dengan benar pula, maka ia adalah sebaik-baik bekal. Sedangkan barang siapa yang mengumpulkannya dengan cara yang tidak benar, maka ia bagaikan binatang yang makan rerumputan akan tetapi ia tidak pernah merasa kenyang, (hingga akhirnya ia pun celaka karenanya).” (HR. Bukhari no. 6427 dan Muslim no. 1052).

Kedua, menyedekahkan sebagian. 

Seorang muslim harus hidup berdampingan, saling membantu, saling membantu, dan tentunya saling memberi. Juga, perintah yang pasti untuk bersedekah atau membelanjakan sangat jelas disebutkan dalam Al-Qur'an. 

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam pernah bersabda ketika beliau di atas mimbar sedang menuturkan masalah sedekah dan menghindari perbuatan meminta-minta.

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. وَالْيَدُ الْعُلْيَا اَلْمُنْفِقَةُ. وَالسُّفْلَى اَلسَّائِلَةُ

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah pemberi dan tangan yang di bawah adalah peminta-minta.” (HR. Bukhari).

Ketiga, jauhi sikap serakah. 

Cukup banyak orang yang cerdas, setia secara sosial, dan santun menjadi kasar dan menarik diri secara sosial setelah mendapatkan status atau kekayaan. Bahkan, perilakunya semakin buruk hingga kematian tiba-tiba merenggut semua kegembiraannya. Rasulullah bersabda, “Manusia cepat menua dan beruban karena dua hal, rakus terhadap harta dan rakus terhadap umur alias takut mati.” (HR. Bukhari).Namun, demikian jangan disalah artikan bahwa Islam seolah-olah anti terhadap harta. Justru Islam menganjurkan umatnya rajin bekerja dan jangan sampai meminta-minta.“Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian, kecuali dia bertemu dengan Allah, sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya, bekerja keras, menabung, dan berbagi. Allah dan Rasul-Nya tidak akan membiarkan kekayaan mendominasi kita. Sekalipun kita memiliki harta yang cukup untuk mencapai jumlah yang sangat besar, jangan biarkan iman terpenjara secara efektif olehnya. Kita harus belajar bagaimana menyikapi kekayaan  Khadijah, Abu Bakar, Utsman, Abdurrahman bin Auf bahkan Aisyah yang tidak berpindah keyakinan karena memiliki harta. Sebaliknya, harta menjadi alat penting untuk kesenangannya.Itulah orang yang benar-benar kaya dunia-akhirat. Sofyan Ats-Tsauri berkata, “Sesungguhnya orang berharta bila dia zuhud di dunia, dan orang itu adalah fakir bila dia gemar pada dunia.”

Sumber diolah dari beberapa materi kuliah

0/Post a Comment/Comments