Dampak Bahaya Pornografi, Kenali 4 Ciri yang Sudah Kecanduan


Ditulis oleh Oleh Keysha Daffaa Yuwana

Mahasiswa STEI SEBI Depok


WARTANUSANTARA.ID|OPINI

Pada era digital yang semakin maju membuat mudah membuka banyak akses. Hal tersebut membawa pengaruh bagi kehidupan masyarakat, pada teknologi juga memiliki 2 dampak yaitu dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatif dari teknologi membuat mudahnya mengakses content bermuatan seks yaitu pornografi sehingga remaja yang menikmati hal ini dan semakin lama akan menjadi candu.

Dampak candu dari pornografi tersebut mempunyai dampak yang besar terhadap perubahan emosional, kognitif, dan psikis. Keingintahuan yang tinggi terhadap berbagai hal yang menimpa dirinya termasuk masalah-masalah yang berhubungan dengan seksualitas. Dengan kecanggihan teknologi yang mudah membuat konten pornografi yang tersebar luas dan banyak sekali remaja yang menikmatinya hingga membuat candu. 


Paparan pornografi didapat melalui internet yang diperburuk dengan lifestyle dan kurangnya pengawasan, tidak ada komunikasi, tuntutan terlalu tinggi, kekerasan pada anak, tidak tahu potensi anak, serta diskriminasi dari orang tua dan lingkungan dapat memicu remaja untuk dapat terpapar pornografi.


Dari surveinya pada tahun 2021 kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (kemen PPPA) mengungkapkan 66,6% anak laki-laki dan 62,3% persen anak perempuan di Indonesia menyaksikan pornografi melalui media internet. Data tersebut juga mengungkapkan 34,5 persen anak laki-laki pernah terlibat pornografi atau mempraktikkan langsung kegiatan seksual, dan 25 persen anak perempuan.


Tujuan pembuatan konten pornografi yaitu untuk mendapatkan sensasi menyenangkan tersebut dan menyebabkan kecanduan, kecanduan ini akan berdampak pada kerusakan otak yang cukup serius. Dapat menimbulkan kerusakan otak yang permanen melebihi kecanduan narkoba. Perubahan anatomi dan patologis yang menghasilkan berbagai manifestasi disfungsi otak yang secara kolektif atau juga disebut sindrom hipofrontal.


Berikut adalah ciri-ciri anak atau remaja yang kecanduan pornografi: 


- Sering terlihat gugup apabila ada yang mengajaknya bicara, dan akan menghindari kontak mata. 

- Tidak punya gairah aktivitas, prestasi turun.

- Malas, susah bergaul dan sulit berkomunikasi. Tidak ingin lepas dari gadget.

- Senang menyendiri.


Dari ciri yang disebut di atas mengakibatkan seperti meningkatkan eksplorasi seks remaja, mudah berbohong, depresi, pendidikan terganggu dan terjadi penyimpangan seksual. Tingkat kecanduan pornografi menurut Skinner 2005 dibagi menjadi :


1. Level 1 : melihat pornografi sekali atau dua kali setahun, paparan sangat terbatas.

2. Level 2 : beberapa kali setiap tahun tetapi tidak lebih dari enam kali, fantasi sangat minimal

3. Level 3 : mulai muncul tanda kecanduan, sebulan sekali, mencoba menahan diri

4. Level 4 : mempengaruhi fokus untuk tugas sehari-hari, beberapa kali dalam sebulan

5. Level 5 : Setiap minggu, berusaha keras untuk berhenti, namun mulai mengalami gejala  

6. Level 6: setiap hari untuk memikirkan pornografi, menyebabkan berbagai masalah dalam kehidupan

7. Level 7: perasaan ketidakberdayaan dan keputusasaan bila tidak melihat pornografi, konsekuensi negatif.


Oleh karena itu, diperlukan pencegahan terhadap pornografi ini dimulai dari pengawasan dan pembinaan khususnya untuk anak-anak dan remaja dengan melalui peran aktif orang tua dengan cara :


- Memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap anak Mengenali lingkungan yang baik.

- Melatih anak untuk berkata tidak terhadap ajakan pornografi

- Mendampingi anak ketika mengakses internet

- Apabila anak ketahuan mengakses situs pornografi, orang tua harus mengajak berdialog dan menjelaskan dampak pornografi


Pengawasan orang tua terhadap anak dalam mengakses internet sangat penting. Dikarenakan jika anak sudah mengalaminya kerusakan otak yang sudah ditimbulkan dapat dipulihkan dengan berbagai terapi. Sedangkan kecanduan yang terjadi dapat dihentikan dengan pendampingan dari orang tua dan keluarga dan apabila diperlukan dapat meminta bantuan psikolog.


Sumber :


https://youtu.be/sRduP0PZAfk

https://youtu.be/Z-9A4fNCB2c


0/Post a Comment/Comments