WARTANUSANTARA.ID
-- Kisah Bani Israil adalah kisah yang paling banyak
disebutkan dalam Al-Qur’an, Bani Israil disandarkan pada suku Al-Ila (il = tuhan). Dalam sejarah, nama Israel atau Bani Israil dikenal juga
dengan Ibrani dan Yahudi. Dalam riwayat, sebutan Israel, orang atau Bani Israil
(Israiliyin), adalah sebutan yang dinisbatkan kepada nama bapak mereka,
yaitu Ya‘qub ibn Ishaq ibn Ibrahim 'Alaihi Salam.
Israil adalah kalimat yang terdiri dari dua kata, 'Isra' yang
artinya hamba atau teman dekat, dan 'el' artinya Tuhan. Dengan
demikian Israel artinya hamba Tuhan atau teman dekat Tuhan.
Sedangkan Yahudi dinisbatkan pada salah seorang putra Nabi Ya’kub yang
bernama Yahudza bin Ya’kub, salah satu dari 12 orang putra Ya’kub. Putra
lainnya bernama Ruben, Simeon, Lewi Yehuda, Isakhar, Zebulon, Yusuf AS,
Benyamin, Dan, Naftali, Gad, dan Asyer.
Al-Qur’an tidak hanya berisi ketentuan syariat Islam, melainkan juga
kisah-kisah umat terdahulu. Salah satu kaum yang diceritakan secara mendetail
dalam Kitabullah ialah Bani Israil. Sebutan Israil sesungguhnya mulia karena
merupakan nama lain dari Nabi Ya’qub Alaihi Salam.
Sejarah kabilah ini dapat ditelusuri sejak zaman Nabi Yusuf bin Ya’qub
'Alaihi Salam. Nabiyullah yang berwajah rupawan itu, setelah melalui pelbagai
ujian, akhirnya menempati posisi penting di Mesir. Bahkan, ia pun dapat
berjumpa lagi dengan ayahanda tercinta dan memaafkan saudara-saudaranya yang
telah berlaku zalim kepadanya.
Zaman berganti. Bani Israil akhirnya menjadi kaum yang tersingkir di
Mesir. Mereka bahkan dipekerjakan bak budak oleh penguasa setempat. Allah
Subhanahu wata’aala mengutus Nabi Musa untuk meneguhkan tauhid dan membebaskan
Bani Israil dari penindasan Fir’aun.
Akan tetapi, kaum Nabi Musa itu memiliki suatu watak yang buruk, yakni
enggan bersyukur. Padahal, berkali-kali Allah Subhanahu wata’aala
menganugerahkan nikmat dan perlindungan kepada mereka melalui Nabi Musa 'Alaihi
Salam. Bukannya semakin taat, tak sedikit dari mereka yang malahan membangkang
terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.
Allah Ta’ala kemudian menghukum Bani Israil. Mereka dibiarkan tersesat,
berputar-putar tanpa arah di Gurun Sinai selama 40 tahun. Mereka tak bisa
kembali ke Mesir, tidak pula keluar menuju Yerusalem. Dalam periode itu pula,
generasi lama digantikan yang baru. Dengan pimpinan generasi yang lebih muda
itulah, mereka akhirnya bisa keluar dari padang pasir tersebut.
Selain melawan langsung (perintah) nabi, sifat lainnya dari Bani Israil
ialah gemar bertanya yang menyulitkan diri mereka sendiri. Contohnya, suatu
ketika mereka diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih seekor sapi betina.
Bukannya langsung melaksanakan perintah, mereka justru bertanya lebih lanjut
tentang ciri-ciri sapi tersebut.
Telah disampaikan kepadanya perihal kriteria usia sapi betina yang dimaksud
Allah. Namun, mereka bertanya lagi, kali ini tentang warna si sapi, disampaikanlah bahwa sapi itu berwarna kuning tua dan tidak pernah
dipergunakan untuk membajak. Setelah semuanya ditanyakan, mereka akhirnya baru
melaksanakan perintah tersebut.
Mereka merasa kesulitan mencari jenis sapi yang dimaksud. Padahal,
sebelumnya Allah menghendaki kemudahan bagi mereka, tetapi mereka sendiri yang
mempersulitnya. Itulah sifat Bani Israil. Lihat penjelasan lengkapnya dalam Al-Qur’an
surah al-Baqarah ayat ke-67 hingga 71.
Watak berikutnya dari Bani Israil termasuk di dalamnya kaum Yahudi adalah merasa
superior. Mereka juga mengklaim bahwa Tuhan hanya untuk Bani Israil, karena itu
mereka memusuhi kaum atau umat lainnya jika tidak mau menuruti keinginannya.
Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’aala memerintahkan umat Islam agar tidak
mengikuti mereka.
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah” (QS al-Baqarah: 120).
(Dr. Mulyadi Al-Fadhil, M.PD.)
Ketua STAI Daarut Tauhiid & Lajnah Syariah Pesantren Daarut Tauhiid
---------------
Redaktur: Wahid Ikhwan

