Penerapan Model PBL dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta didik Pada Materi Kedaulatan NKRI


Ditulis oleh Susi Susanti, S.Pd

A. Pendahuluan

Pembelajaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. Faktor Intern berasari dari diri siswa mencakup minat, keinginan, dan kecapakan belajar. Faktor esktern diantaranya adalah guru dengan segala strateginya. Dalam mengemban tugas, guru menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran, karenanya dituntut selalu melakukan inovasi pembelajaran mencakup penemuan dan pemanfaatan media, pengelolaan kelas, dan mengatur strategi pembelajaran dengan baik. 

Permasalahan yang sering ditemukan dalam kegiatan pembelajaran adalah rendahnya motivasi belajar peserta didik pada materi tertentu, sehingga diperlukan strategi bagaimana untuk meningkatkan motivasi belajar pada peserta didik. Menurut Sadirman (2001) pengetian Motifasi berasal dari kata “motif” yang diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif . Pendapat lain juga mengatakan bahwa motivasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan. 

Dengan demikian motivasi dalam proses pembelajaran sangat dibutuhkan untuk tercapainya tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik. 

Salah satu upaya yang dapt dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah menggunakan pembelajarna yang inovatif. Baik dari sisi pemilihan model pembelajaran, metode pembelajaran, media yang digunakan, serta aplikasi digital penunjang pembelajaran. Untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan pada proses pembelajaran, penulis memilih model pembelajaran Problem Based Learning. Model pembelajaran Problem Based Learning dirasa sesuai dengan proses pembelajaran yang tertuang dalam Kurikulum Merdeka. Yaitu mengajarkan peserta didik keterampilan abad 21 critical thingking, creative thingking, communication, and collaboration. Model pembelajarna ini merupakan model yang berpusat kepada peserta didik, sehingga pembelajaran akan lebih berfokus kepada peserta didik dan guru hanya sebagai fasilitator.  

Pembelajaran PKn merupakan proses yang dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan peserta didik melaksanakan kegiatan belajar PKn, sehingga pemahaman pembelajaran PKn dapat dipelajari dengan baik oleh peserta didik. 

Dalam praktik pembelajaran PKn yang penulis lakukan selama ini, penulis masih berfokus pada penguasaan pengetahuan kognitif peserta didik yang lebih mementingkan hapalan materi. Pendidik hampir tidak pernah melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi.  Penulis juga jarang menggunakan media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas monoton dan membosankan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa peserta didik diperoleh informasi bahwa (a) siswa malas mengikuti pembelajaran yang banyak dilakukan guru dengan cara ceramah (b) selain ceramah, metode/model yang selalu dilakukan guru adalah penugasan atau Pekerjaan Rumah (PR). Sebagian peserta didik mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat teoritis. Tinggal menyalin dari buku teks atau mencontoh temannya. 

Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS adalah model pembelajaran yang mengacu peserta didik untuk memecahkan masalah (Problem Based Learning). PBL merupakan model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk mengenal cara belajar dan kerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah dalam kehidupan. Setelah melaksanakan pembelajaran PKn dengan model PBL. Penulis menemukan bahwa proses dan hasil belajar peserta didik meningkat. Lebih baik dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Praktik pembelajaran PBL yang berhasil baik ini penulis simpulkan sebagai sebuah best practice (praktik baik) pembelajaran berorientasi HOTS dengan model PBL.

B. PEMBAHASAN

Sebagian peserta didik sering kali mengalami kehilangan semangat atau motivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal tersebut disebabkan karena selama ini pembelajaran di kelas berlangsung secara konvensional atau masih berfokus pada guru, kemudian model pembelajaran pun masih menerapkan model pembelajaran konvensional seperti ceramah, disamping itu pemilihan media pembelajaran pun tidak bervariatif dan tidak menarik bagi peserta didik karena hanya mengandalkan buku paket saja, pemilihan model dan media pembelajaran yang tidak bervariatif ini disebabkan karena guru belum mampu atau belum terbiasa menerapkan model dan media pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.

Praktik ini penting untuk dibagikan karena akan memberikan dampak positif atau inovasi baru pada kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan ke depannya khususnya untuk saya sendiri dan juga untuk teman sejawat, menjadi motivasi dan solusi khususnya untuk saya pribadi agar pembelajaran kedepannya menjadi lebih baik dan lebih bervariatif, praktik pembelajaran ini dapat menjadi referensi bagi guru lain dalam mengembangkan perangkat ajar yang menarik motivasi atau minat belajar peserta didik dan dapat menjadi solusi bagi saya pribadi maupun rekan-rekan guru lain dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

Peran dan tanggung jawab saya dalam praktik ini antara lain sebagai sumber belajar, fasilitator, motivator, pengelola kelas, pembimbing, dan evaluator sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lebih baik dan motivasi belajar peserta didik dapat meningkat. Sedangkan tanggung jawab saya pada pembelajaran yaitu bertanggung jawab terhadap keberhasilan pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan, selain itu harus mampu menciptakan pembelajaran yang bekualitas dan bermakna bagi peserta didik dengan menerapkan model dan media pembelajaran yang bervariasi sehingga dapat meningkatkan motivasi atau minat belajar peserta didik.

Hal yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut yaitu Guru belum memahami penerapan model pembelajaran yang bervariasi dan relevan sesuai kebutuhan peserta didik, kurang inovatifnya media pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajar, sehingga pembelajaran terkesan monoton, peserta didik tidak terbiasa dengan model pembelajaran yang mengharuskan mereka untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran dan kurangnya motivasi atau minat belajar pada peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran.

Pihak yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Peserta didik sebagai sentral dalam proses pembelajaran, guru sebagai fasilitator, dosen dan guru pamong sebagai pembimbing dalam proses melaksanakan praktik pembelajaran dan rekan sejawat yang membantu terlaksananya kegiatan praktik pembelajaran.
Untuk merancang rencana aksi dalam meningkatkan motivasi belajar pada peserta didik dapat dilakukan dengan cara:

1. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut.

a. Memilih dan memahami model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik materi pelajaran dan karakristik peserta didik seperti model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) dengan kelima fase yang telah dilakukan dalam pembelajaran yang menuntut mereka untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran
b. Proses pemilihan media pembelajaran yang berupa video, harus mencakup: materi yang sesuai,suara dan tampilan videonya jelas dan mudah dimengerti, sedangkan proses pembuatan media PPT: gambar dan tulisannya harus jelas, singkat dan mudah dimengerti, serta tampilan yang menarik untuk dibaca.
c. Memotivasi peserta didik agar mau berkontribusi atau berperan aktif selama proses pembelajaran diskusi berlangsung, salah satunya yaitu dengan cara memberikan peran, tanggung jawab atau tugas kepada masing-masing peserta didik.
d. Guru lebih banyak memberikan apresiasi terhadap peserta didik dengan cara memberikan reward kepada peserta didik, seperti mengajak seluruh peserta didik tepuk tangan kepada peserta didik yang mampu menjawab pertanyaan hingga pujian atas keberhasilan dalam presentasi di kelas serta dalam pembelajaran di selingi dengan adanya Ice breaking sehingga suasana pembelajaran menjadi lebih manarik.

2. Strategi yang digunakan

a. Memilih untuk menggunakan model pembelajaran PBL sedangkan untuk metodenya berupa ceramah bervariasi, diskusi kelompok dan tanya jawab.
b. Strategi yang digunakan oleh guru yaitu dengan memilih pembelajaran yang mudah dipahami oleh peserta didik dengan memanfaatkan gambar-gambar, video youtube yang sesuai dengan materi yang ditayangkan dalam bentuk Powerpoint 
c. Melakukan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada peserta didik. Dimana tahapan-tahapan kegiatan tersebut telah disesuaikan dengan sintaks model pembelajaran yang dipilih dan dirancang oleh guru dalam modul ajar.
d. LKPD, instrument penilaian, media pembelajaran sabagai alat yang dapat membantu siswa dalam memahami materi

3. Proses yang dilakukan

a. Proses yang dilakukan yaitu dengan memahami sintaks model pembelajaran PBL apakah sesuai dengan indikator, tujuan pembelajaran, juga materi yang akan dipelajari oleh peserta didik.
b. Mencari gambar atau video yang relevan dengan materi yang dipelajarai oleh peserta didik
c. Merencang kegiatan pembelajaran dalam modul ajar sesuai dengan model pembelajaran yang dipilih
d. Membimbing siswa selama proses pembelajaran dan dalam menyelesikan LKPD baik secara individu maupun kelompok
e. Melakukan evaluasi dan refleksi dalam kegiatan pembelajaran.

4. Pihak yang terlibat

a. Penulis Susi Susanti, S.Pd selaku guru Pendidikan Pancasila di SMP Darul Falah
b. Bapak Drs. H. Baehaqi, M.Si selaku kepala SMP Darul Falah yang telah banyak memberi bimbingan, saran, ide, dan masukannya. Serta mengijinkan penulis dalam menggunakan fasilitas yang ada di sekolah.
c. Bapak Yudi Supriadi selaku wakasek kurikulum yang sudah sangat membantu penulis dalam memberikan banyak referensi dalam mengerjakan Best Practice ini
d. Rekan-rekan guru di Lingkungan SMP Darul Falah yang sangat mendukung dan membantu kegiatan ini.
e. Peserta didik kelas IX D SMP Darul Falah yang sudah sangat bersemangat dalam melakukan pembelajaran dan membantu penulis dalam kegiatan ini.

5. Sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini.

a. Sumber daya atau materi yang diperlukan adalah kemampuan guru dalam mengoprasikan alat-alat seperti laptop, LCD, jaringan internet (Sarana dan Prasarana)
b. Guru harus memahami sintaks model pembelajaran yang akan diterapkan dan juga memahami materi yang akan dibahas pada saat pembelajaran (Kompetensi Guru)
c. Media pembelajaran (bahan ajar, LKPD, lembar evaluasi, video pembelajaran, power point)

Setelah melakukan rencana aksi yang dibuat, maka ada beberapa refleksi dan hasil dampak yang didapat dari aksi tersebut, diantaranya yaitu sebagai berikut :

1. Dampak dari aksi dan langkah-langkah yang dilakukan adalah :

a. Peserta didik lebih bersemangat, antusias dan memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran. Pada saat pembelajaran peserta didik dibagi dalam kelompok untuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah dalam LKPD nya hingga mempresentasikan hasil diskusi kelompok serta menanggapi presenstasi kelompok lain dan hampir semua peserta didik terlibat aktif, hanya ada 5 orang peserta didik yang kurang aktif.
b. Penggunaan dari video pembelajaran dan presentasi slide PPT sangat membantu pemahaman peserta didik terkait materi yang diajarkan.
c. Pemilihan Model & Metode sangat efektif, dilihat dari antusias dan keaktifan peserta didik melakukan setiap kegiatan pembelajaran, peserta didik mampu memberikan tanggapan dan jawaban di setiap diskusi kelompok.
d. Dari hasil refleksi di akhir pembelajaran peserta didik merasa antusias dan bersemangat selama proses pembelajaran menggunakan Model pembelajaram PBL dan penggunaan video Pembelajaran serta powerpoint.
e. Guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator atau pembimbing di kelas sehingga pembelajaran lebih berpusat pada peserta didik.

2. Apakah hasilnya efektif?

a. Hasilnya sangat efektif, karena peserta didik sangat antusias saat proses pembelajaran berlasung, mulai dari pendahuluan hingga proses pembelajaran selesai.
b. Hasilnya efektif peserta didik lebih lebih berperan aktif dan lebih berani dalam bertanya dan menyampaikan pendapat selama kegiatan dikusi kelompok.

3. Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan?

a. Respon kepala sekolah sangat positif dan mendukung penuh atas kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan.
b. Rekan sejawat sangat positif dan antusias, sehingga mereka juga ingin melaksanakan model pembelajaran yang telah saya laksanakan. Karena berdampak besar terhadap motivasi belajar peserta didik.
c. Peserta didik merasa senang dengan proses pembelajaran yang berlangsung karena mereka dapat terlibat secara aktif dan kegiatannya menarik, menyenangkan, serta mudah dipahami. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kegiatan refleksi saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

4. Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan?

a. Faktor keberhasilan pembelajaran ini ditentukan dari penguasaan guru terhadap model, metode, media pembelajaran dan langkah langkah pelaksanaan dalam rancangan modul ajar yang telah dibuat.
b. Dukungan kepala sekolah dan rekan sejawat yang turut membantu mempersiapkan alat dalam proses perekaman kegiatan pembelajaran.
c. Dapat mengantisipasi atau mengatasi tantangan yang dihadapi
d. Berusaha melaksanakan semaksimal mungkin apa yang telah direncanakan.

5. Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut?

a. Untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan bagi peserta didik sehingga dengan hal tersebut dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
b. Untuk melaksanakan proses pembelajaran sehari hari lebih kondusif dan terstruktur.
c. Pembelajaran lebih bervariasi.
d. Pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan.
e. Media dan alat/bahan pembelajaran lebih inovatif

C. KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapatkan berdasarkan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Dengan menerapkan model pembelajaran PBL dan penggunaan media pembelajaran yang bervariatif dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.

2. Dalam setiap proses pembelajaran pendidik harus menyadari kondisi atau situasi kelas serta karakteristik peserta didiknya sehingga paham betul tentang apa masalah dan solusi yang dibutuhkan oleh peserta didik.

3. Guru harus menyesuaikan materi dengan model dan metode pembelajaran inovatif didukung oleh media pembelajaran yang menarik dan bervariatif.

4. Setelah mengetahui masalah yang dihadapi peserta didik, maka pendidik merasa tertantang untuk selalu meningkatkan kualitas diri agar dapat melakukan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
5. Guru senantiasa selalu meningkatkan kompetensinya, maka kemampuan dan pengetahuan peserta didik pun akan meningkat.

6. Dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning akan merangsang keaktifan belajar peserta didik sehingga dapat melatih keberanian peserta didik dalam bertanya, mengemukakan pendapat, memecahkan masalah dan mempresentasikan di depan kelas

7. Pembelajaran PKn dengan model pembelajaran Problem Based Learing layak dijadikan best practice pembelajaran berorientasi HOTS  karena dapat meingkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan transfer pengetahuan, berpikir kritis, aktif, kreatif dan pemecahan masalah.  

8. Dengan penyusunan Modul Ajar secara sistematis dan cermat, pembelajaran PKn dengan model pembelajaran Problem Based Learning yang dilaksanakan tidak sekadar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan kecakapan abad 21.


DAFTAR PUSTAKA

Arends . (2007). Model Pembelajaran Problem Based Learning .Jakarta : Bumi Aksara Arifin, Zainal. (2016). Evaluasi Pembelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya. Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian. Jakarta. Rineka Cipta. Daryanto . (2014). Pembelajaran Pendekatan Saintifik. Bandung : Remaja Rosdakarya Depdiknas. (2001). Cara Menentukan Daya Pembeda Soal.Bandung :Remaja Rosdakarya Diknas. (2004) . Pedoman Pengembangan Bahan Ajar. Bandung :Remaja Rosdakarya Ibrahim ,Nur . (2000) .Model Pembelajaran Problem Based Learning. Bandung : Remaja Rosdakarya Kunandar. (2015


0/Post a Comment/Comments