[WARTANUSANTARA.ID] Upaya pembicaraan gencatan senjata permanen di Gaza menghadapi satu rintangan pelik: nasib sekitar 200 pejuang Hamas yang terperangkap di dalam terowongan di wilayah yang kini dikuasai Israel.
Sebuah laporan mengungkap bahwa Turki (Türkiye) telah mengambil peran kunci sebagai mediator untuk menegosiasikan "jalan keluar yang aman" bagi para pejuang ini.
Menurut berbagai sumber dari Palestina, Hamas, dan Turki, Ankara kini bekerja sama dengan mediator Arab lainnya, yaitu Mesir dan Qatar, serta Amerika Serikat, untuk menyelesaikan kebuntuan ini. Nasib para pejuang tersebut dilaporkan telah mempersulit pergeseran perundingan gencatan senjata ke fase berikutnya yang bertujuan mengakhiri perang secara permanen.
Konfirmasi dari Berbagai Pihak
Dua pejabat Turki, termasuk juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) yang berkuasa, telah mengonfirmasi peran mediasi Turki atas nasib 200 warga Palestina tersebut, meskipun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Seorang pejabat Hamas, yang tidak mau disebutkan namanya, juga membenarkan bahwa Turki adalah salah satu mediator. Namun, ia menolak memberikan detail negosiasi karena menyangkut "masalah keamanan yang sensitif."
Kantor Perdana Menteri Israel dilaporkan tidak menanggapi permintaan komentar mengenai peran Turki dalam masalah ini.
Titik Uji Rencana Gencatan Senjata
Pekan lalu, utusan AS Steve Witkoff menyebut bahwa penyelesaian kebuntuan ini akan menjadi "kasus uji" untuk langkah-langkah di masa depan dalam rencana gencatan senjata yang lebih luas. Witkoff menyarankan bahwa kebuntuan itu dapat diselesaikan dengan memberikan mereka jalan keluar yang aman ke wilayah lain di Gaza yang dikuasai Hamas.
Sumber lain menyebutkan bahwa para pejuang Hamas yang terperangkap di daerah Rafah yang dikuasai Israel **siap untuk menyerahkan senjata mereka** dengan imbalan diizinkan pindah ke wilayah lain di Gaza.
Hamas sebelumnya telah menuntut agar para pejuangnya diizinkan pergi ke daerah-daerah yang dikuasai kelompok itu, sebuah tuntutan yang sejauh ini ditolak oleh Israel.
Artikel tersebut juga mencatat bahwa Turki, yang merupakan salah satu penandatangan kesepakatan gencatan senjata yang didukung AS, dikenal sebagai kritikus keras kampanye militer Israel di Gaza dan memiliki hubungan dekat dengan kelompok Palestina.
Sumber diolah dari Daily Sabah
