Analisis Empat Pilar Bisnis pada UMKM Kuliner “Kebumen Fried Chicken Mantap-Mantap” di Depok


[WARTANUSANTARA.ID] 
Dalam upaya memahami secara langsung praktik dan tantangan bisnis, empat mahasiswi dari IAI SEBI melakukan kunjungan studi mendalam ke salah satu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner lokal, yaitu "Kebumen Fried Chicken Mantap-Mantap". Kunjungan observasi ini merupakan bagian dari penugasan mata kuliah LAB BISNIS untuk menganalisis empat pilar utama dalam bisnis: Pemasaran, Produksi, Sumber Daya Manusia, dan Keuangan. Tim peneliti yang terdiri dari Alfina Wahyu Rahmasari, Najla Nur Hanifah, Haniyah Maulida, dan Riska Maulinda Sakila berfokus pada bagaimana UMKM ini bertahan dan bersaing di tengah ketatnya pasar kuliner Depok. Hasil observasi ini memberikan gambaran komprehensif mengenai strategi bisnis sehari-hari yang efektif, mulai dari penentuan target pasar hingga pengelolaan keuangan yang masih sederhana.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner "Kebumen Fried Chicken Mantap-Mantap" (KFC Mantap-Mantap) menampilkan strategi bisnis yang terfokus pada harga ekonomis dan konsistensi kualitas. Di pilar Pemasaran, usaha ini menargetkan segmen pasar spesifik, yaitu ibu-ibu yang mencari makanan praktis, bapak-bapak, dan pelajar, dengan rentang usia pelanggan rata-rata 18-40 tahun. Produk unggulan yang paling diminati adalah Paket Box Ayam. Posisi pasar (positioning) usaha ini didasarkan pada harga yang sangat terjangkau (7.000 per potong), rasa yang enak, dan ketersediaan sambal geprek. Meskipun memiliki lima cabang offline di lokasi strategis seperti Duren Mekar dan Gunung Sindur, perusahaan ini memilih untuk belum merambah ke penjualan online, dengan promosi utama yang mengandalkan banner dan mouth to mouth.

Di sisi Produksi, perusahaan sangat berorientasi pada konsistensi dan efisiensi operasional harian. Kualitas ayam dipilih dari pemasok yang terpercaya, dan kebutuhan bahan dihitung berdasarkan data penjualan harian. Untuk menjaga kualitas, penggorengan produk dilakukan fresh setiap 2 jam sekali. Pengendalian kualitas dilakukan dengan mengecek produk sebelum diberikan ke pelanggan, dan ayam yang tidak sesuai standar akan dibuang (waste). Secara struktural, tugas dibagi antara area dapur dan kasir/frontliner, namun pencatatan penjualan dan stok harian masih dilakukan secara manual dalam buku catatan stiap harinya. 

Untuk Sumber Daya Manusia (SDM), strategi manajemen didasarkan pada kebutuhan mendasar bisnis ritel kecil. Perekrutan karyawan difokuskan pada kandidat yang jujur, mau belajar, dan mandiri, mengingat setiap cabang hanya dijaga oleh satu orang karyawan. Kinerja karyawan diukur dari laporan harian, kebersihan outlet, dan cara mereka melayani pembeli. Sebagai motivasi, owner memberikan bonus kecil setiap akhir bulan jika penjualan cabang bagus, serta apresiasi spontan untuk meningkatkan loyalitas. Pelatihan yang diberikan mencakup hal-hal dasar seperti cara menggoreng ayam dan standar kebersihan untuk menjamin kualitas produk yang "kompak" di semua cabang.

Terakhir, pilar Keuangan menunjukkan pengelolaan yang hati-hati namun minim formalisasi. Modal usaha sepenuhnya berasal dari dana sendiri owner. Pencatatan pengeluaran dilakukan secara rutin setiap hari, dan tidak ada pihak lain yang mengawasi penggunaan dana usaha sepenuhnya dipegang oleh owner. Owner telah memisahkan uang pribadi dan uang usaha untuk memastikan uang penjualan digunakan untuk kebutuhan bisnis. Meskipun terbuka 100% kepada karyawan mengenai informasi keuangan, usaha ini belum membuat laporan keuangan formal seperti laporan laba rugi atau neraca, dan pencatatan masih menggunakan cara manual karena minimnya pengetahuan akuntansi.

Artikel ini dibuat  oleh kelompok 5.yg terdiri dari 4 orang
Riska Maulinda Sakila 
Haniyah Maulida 
Alfina Wahyu rahmasari 
Najla nur Afifah

0/Post a Comment/Comments