Strategi Dakwah Wali Songo: Mengapa Menggunakan Wayang dan Gamelan?


Wartanusantara.id
– Sejarah masuknya Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa, adalah kisah tentang kecerdasan budaya. Berbeda dengan penyebaran agama di wilayah lain yang kerap diwarnai peperangan, Islam menyebar di Jawa ibarat air yang mengalir tenang: meresap tanpa merusak wadahnya.

Aktor utama di balik kesuksesan ini adalah Wali Songo. Mereka memahami bahwa masyarakat Jawa saat itu (masa akhir Majapahit) sangat lekat dengan tradisi Hindu-Buddha. Alih-alih mengharamkan tradisi tersebut secara frontal, para Wali memilih jalur akulturasi budaya.

Dua media paling efektif yang digunakan adalah seni Wayang dan musik Gamelan. Mengapa dua kesenian ini yang dipilih? Berikut ulasannya.

1. Wayang: Media Visual Pendidikan Publik

Di masa lalu, masyarakat Jawa belum banyak yang bisa membaca teks kitab kuning. Namun, mereka sangat gemar menonton pertunjukan. Sunan Kalijaga melihat potensi ini. Ia tidak menghapus wayang yang bersumber dari epik Mahabharata dan Ramayana, tetapi melakukan modifikasi filosofis.

Apa yang diubah?

  • Bentuk Wayang: Bentuk wayang kulit diubah menjadi lebih stilistik (tidak menyerupai manusia asli secara anatomis) untuk menghindari hukum haram menggambar makhluk bernyawa dalam fiqih Islam yang ketat saat itu.
  • Isi Cerita: Kisah-kisah disisipi nilai tauhid. Contoh paling masyhur adalah pusaka "Jimat Kalimasada" milik Yudhistira (Pandawa). Dalam versi Wali Songo, ini diartikan sebagai Kalimat Syahadat. Siapapun yang memiliki pusaka ini (mengucap syahadat), maka ia akan selamat dunia akhirat.
  • Karakter Baru: Munculnya tokoh Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong). Filosofinya dalam sekali, misalnya Semar (Sammara: bergegas dalam kebaikan) yang menjadi pengasuh dan penasihat para ksatria.

2. Gamelan: Magnet Pengumpul Massa

Jika wayang adalah "proyektor film"-nya, maka Gamelan adalah "konser musik"-nya. Sunan Bonang adalah tokoh sentral di balik strategi ini. Beliau menciptakan gending-gending Jawa yang bernuansa dzikir dan nasihat hati.

Salah satu mahakarya Sunan Bonang adalah tembang "Tombo Ati" yang masih populer hingga detik ini. Strateginya sederhana namun jenius:

  1. Gamelan dibunyikan di halaman masjid.
  2. Masyarakat berkumpul karena tertarik dengan alunan musik yang merdu (Bonang).
  3. Setelah massa berkumpul, mereka diperbolehkan masuk untuk menonton dengan "tiket" berupa pengucapan dua kalimat syahadat.

Tradisi ini kemudian melahirkan perayaan Sekaten (berasal dari kata Syahadatain) yang masih lestari di Keraton Yogyakarta dan Surakarta hingga hari ini.

Mengapa Strategi Ini Efektif?

Strategi ini dikenal dengan prinsip Tut Wuri Handayani atau pendekatan sufistik.

  • Tidak Menggurui: Dakwah disampaikan lewat hiburan, sehingga masyarakat tidak merasa dipaksa pindah agama.
  • Mudah Dicerna: Nilai-nilai Islam yang abstrak (aqidah) divisualisasikan menjadi karakter wayang yang konkret.
  • Damai: Tidak ada pertumpahan darah atau benturan sosial yang keras.

Kesimpulan

Wali Songo mengajarkan kita bahwa berdakwah dan mengajar tidak harus kaku. Penggunaan Wayang dan Gamelan membuktikan bahwa Islam bisa berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan prinsip tauhidnya. Inilah akar dari wajah Islam Nusantara yang ramah dan moderat.


Referensi Sumber:

  1. Sunyoto, Agus. (2016). Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah. Tangerang Selatan: Pustaka IIMaN.
  2. Salam, Solichin. (1960). Sekitar Wali Sanga. Kudus: Menara Kudus.
  3. Kementerian Agama RI. (2019). Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas IX MTs. Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah.

0/Post a Comment/Comments