CARACAS, Wartanusantara.id – Awan hitam geopolitik kembali menyelimuti dunia di awal tahun 2026 ini. Belum selesai ketegangan di berbagai belahan bumi lain, laporan mengejutkan datang dari Amerika Latin. Media-media besar di Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa militer AS tengah melancarkan serangan udara ke wilayah Venezuela.
Langkah ini menandai eskalasi paling drastis dalam hubungan Washington-Caracas, mengubah tekanan yang tadinya berupa "sanksi ekonomi" menjadi "konfrontasi fisik".
1. Serangan "Tiba-Tiba" atau Terencana?
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Daily Sabah dan media AS, operasi ini dikabarkan menargetkan instalasi strategis militer Venezuela. Belum ada konfirmasi resmi dari Gedung Putih mengenai tujuan spesifik serangan ini—apakah untuk melumpuhkan pertahanan udara rezim Nicolas Maduro atau target spesifik lainnya.
Namun, pengamat militer menilai langkah ini adalah puncak dari kebuntuan diplomatik yang terjadi selama bertahun-tahun. AS tampaknya kehilangan kesabaran dengan situasi politik di negara kaya minyak tersebut.
2. Venezuela: Raksasa Minyak yang Digempur
Kenapa Indonesia dan dunia harus peduli? Jawabannya satu: MINYAK. Venezuela adalah pemilik cadangan minyak terbukti (proven reserves) terbesar di dunia. Serangan militer ke wilayah ini berpotensi:
- Menghentikan Produksi: Infrastruktur minyak bisa rusak atau terhenti operasinya.
- Lonjakan Harga Minyak Mentah: Ketidakpastian pasokan akan membuat harga minyak mentah dunia (Brent & WTI) meroket.
- Efek ke Indonesia: Jika harga minyak dunia naik, beban subsidi energi (BBM) di APBN kita akan membengkak, atau harga BBM non-subsidi akan ikut melambung.
3. Reaksi Global: Mengutuk atau Mendukung?
Dunia kini terbelah. Sekutu tradisional Venezuela seperti Rusia, Tiongkok, dan Iran diprediksi akan mengecam keras tindakan AS ini sebagai bentuk "imperialisme" dan pelanggaran kedaulatan. Sementara sekutu AS di Barat mungkin akan mendukung dengan alasan "pemulihan demokrasi".
PBB diperkirakan akan segera menggelar sidang darurat. Apakah ini akan menjadi proxy war baru di halaman belakang Amerika?
Kesimpulan
Januari 2026 dibuka dengan dentuman rudal di Venezuela. Bagi Indonesia, kita harus waspada. Bukan soal siapa yang benar atau salah, tapi bersiap menghadapi gelombang kejut ekonomi yang mungkin timbul akibat konflik ini.
Sumber: Diolah dari Daily Sabah & Laporan Media AS (3 Januari 2026).
