Bedah Strategi Muhammad Al-Fatih: Memindahkan 70 Kapal Melintasi Bukit demi Menaklukkan Konstantinopel (1453 M)


"Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan."
(HR. Ahmad)

Selama lebih dari 800 tahun, hadits Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi mimpi bagi setiap khalifah Islam. Mulai dari Muawiyah bin Abu Sufyan hingga Harun Ar-Rasyid, semuanya pernah mencoba menembus tembok Konstantinopel, namun gagal.

Hingga akhirnya, pada 29 Mei 1453, seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih) berhasil mewujudkan Bisyarah (kabar gembira) tersebut.

Bukan dengan sihir, melainkan dengan kombinasi ketakwaan, sains teknologi, dan strategi militer yang di luar nalar manusia pada zamannya. Berikut adalah bedah strategi penaklukan Konstantinopel yang melegenda.

1. Tantangan: Kota dengan Pertahanan Terkuat di Dunia

Konstantinopel (kini Istanbul) bukanlah kota sembarangan. Ia dilindungi oleh sistem pertahanan lapis tiga yang mengerikan:

  • Tembok Theodosius: Dinding rangkap tiga setinggi 12 meter dan tebal 5 meter yang tidak pernah jebol selama 1.123 tahun.
  • Rantai Raksasa Golden Horn: Teluk "Tanduk Emas" dipalang dengan rantai besi raksasa yang membentang di laut, sehingga kapal musuh mustahil bisa masuk untuk menyerang dari arah laut yang dindingnya lebih lemah.

2. Teknologi: Meriam Raksasa "The Basilica"


Al-Fatih sadar, tembok setebal itu tidak bisa ditembus dengan alat pelontar batu biasa. Ia kemudian merekrut insinyur jenius asal Hungaria bernama Urban (Orban).

Al-Fatih meminta dibuatkan meriam yang belum pernah dilihat mata manusia sebelumnya. Lahirlah Meriam Basilica:

  • Panjang: 8 meter.
  • Berat peluru: Mencapai 600 kg.
  • Daya ledak: Suaranya terdengar hingga jarak 16 km.

Teknologi artileri inilah yang mengguncang mental pasukan Romawi (Byzantium) setiap harinya.

3. Strategi Mustahil: Kapal Berlayar di Atas Gunung

Inilah puncak kejeniusan Al-Fatih. Karena jalur laut dihadang rantai besi, dan jalur darat dihadang tembok tebal, pasukan Islam mengalami kebuntuan.

Pada malam tanggal 21-22 April 1453, Al-Fatih memerintahkan strategi yang dianggap gila: Memindahkan armada laut lewat daratan!

  • Rute: Melintasi bukit Galata yang terjal dan berhutan.
  • Cara: Ribuan tentara meratakan tanah, menggelar balok-balok kayu yang diolesi lemak sapi dan minyak zaitun agar licin.
  • Hasil: Dalam satu malam (semalam suntuk), 70 kapal perang berhasil ditarik oleh tenaga manusia dan kerbau menaiki bukit dan meluncur turun ke perairan Teluk Golden Horn.

Pagi harinya, pasukan Romawi terbangun dengan horor. Mereka melihat kapal-kapal Utsmani sudah ada di depan dinding kota mereka yang paling lemah. Runtuhlah mental bertarung mereka.

4. Kemenangan Akhir: Sebaik-baik Pasukan

Setelah pengepungan selama 53 hari, pada tanggal 29 Mei 1453, serangan terakhir dilancarkan. Al-Fatih turun langsung menyemangati pasukannya.

Dengan teriakan takbir yang menggema, pasukan Janissari (pasukan khusus) berhasil mengibarkan bendera Utsmani di atas menara. Kaisar Constantine XI gugur dalam pertempuran.

Sultan Mehmed II pun sujud syukur dan masuk ke kota itu, mengubah namanya menjadi Islambol (Kota Islam) atau Istanbul, serta menjadikan gereja Hagia Sophia sebagai masjid tempat shalat Jumat pertama.

Kesimpulan

Kisah Al-Fatih mengajarkan kita bahwa Bisyarah (janji Allah) tidak datang begitu saja sambil berpangku tangan. Ia harus dijemput dengan persiapan ilmu, teknologi mutakhir, dan strategi yang cerdas.

Seperti kata Al-Fatih: "Kalian lihat gunung itu menghalangi kita? Kalau begitu, kita akan memindahkan kapal-kapal kita melaluinya!"

Daftar Pustaka (Referensi)

Artikel ini disusun berdasarkan referensi sejarah yang kredibel:

  1. Ash-Shallabi, Dr. Ali Muhammad. (2003). Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. (Terjemahan). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. (Buku induk terlengkap tentang sejarah Utsmani).
  2. Crowley, Roger. (2005). 1453: The Holy War for Constantinople and the Clash of Islam and the West. London: Faber and Faber. (Perspektif sejarawan Barat yang objektif mengakui kehebatan strategi Al-Fatih).
  3. Inalcik, Halil. (1973). The Ottoman Empire: The Classical Age 1300–1600. London: Weidenfeld & Nicolson.
  4. Siauw, Felix Y. (2011). Muhammad Al-Fatih 1453. Jakarta: Alfatih Press.

0/Post a Comment/Comments