JAKARTA, Wartanusantara.id – Fakta mengejutkan kembali terungkap dalam peta ekonomi syariah global. Meski Indonesia menyandang status sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, ternyata dalam hal Keuangan Syariah, kita masih harus banyak "berguru" ke negara tetangga, Malaysia.
Melansir laporan terbaru dan diskusi pakar di Republika, posisi Indonesia saat ini terbilang unik: Tertinggal jauh dari Malaysia, namun sudah lebih maju dibandingkan Mesir.
Lho, kok bisa? Mari kita bedah faktanya biar nggak gagal paham.
1. Rapor Merah: Kenapa Kita Kalah dari Malaysia?
Jawabannya ada di Pangsa Pasar (Market Share).
- Malaysia: Keuangan syariah sudah menguasai lebih dari 30-40% total pasar perbankan mereka. Di sana, bank syariah bukan lagi "alternatif", tapi sudah jadi menu utama (arus utama).
- Indonesia: Meski penduduk muslimnya ratusan juta, pangsa pasar perbankan syariah kita masih merangkak di angka 7-11% (Data OJK/BI 2025-2026). Mayoritas umat muslim di sini masih lebih nyaman (atau terjebak) di bank konvensional.
Penyebabnya? Malaysia sukses menerapkan Pendekatan Kultural & Struktural. Pemerintah mereka sejak lama "memaksa" dan memfasilitasi agar dana negara, dana haji, dan investasi besar masuk lewat jalur syariah. Ekosistem halalnya pun terintegrasi dari hulu ke hilir. Di Indonesia, literasi kita masih rendah; banyak yang belum paham bedanya "Bunga" dan "Bagi Hasil".
2. Rapor Hijau: Kenapa Kita Lebih Baik dari Mesir?
Meski kalah dari Malaysia, kita patut bangga karena infrastruktur keuangan syariah Indonesia dinilai lebih stabil dan progresif dibanding Mesir.
- Regulasi: Indonesia punya OJK dan KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah) yang strukturnya jelas. Produk seperti Sukuk Ritel (Surat Berharga Syariah Negara) kita sangat laris manis dan diakui dunia.
- Stabilitas: Mesir menghadapi tantangan inflasi dan mata uang yang fluktuatif, yang membuat sektor keuangan syariah mereka sulit berkembang secepat Indonesia.
3. Apa yang Harus Dicuri (Ilmunya) dari Malaysia?
Menurut para pakar, ada beberapa "Jurus Malaysia" yang wajib kita tiru jika ingin jadi Global Hub Ekonomi Syariah:
- Jadikan Gaya Hidup (Lifestyle): Di Malaysia, produk syariah itu keren, modern, dan menguntungkan. Bukan cuma soal "halal/haram", tapi soal "cuan dan berkah". Branding ini yang perlu diperkuat di Indonesia.
- Dukungan Pemerintah Totalitas: Kebijakan top-down yang mewajibkan BUMN atau institusi besar menggunakan instrumen syariah bisa jadi pendorong (booster) yang efektif.
- Inovasi Produk: Jangan kaku. Bank syariah harus punya fitur secanggih bank konvensional. Mobile banking-nya harus sat-set, fiturnya lengkap.
Kesimpulan
Menjadi "lebih baik dari Mesir" bukanlah garis finis. Target Indonesia seharusnya adalah menyalip Malaysia. Dengan potensi ratusan juta nasabah, Indonesia adalah "Raksasa Tidur" yang jika bangun, bisa mengguncang ekonomi syariah dunia. Kuncinya satu: Literasi dan keberpihakan kebijakan.
Sumber: Diolah dari Republika: "Keuangan Syariah Indonesia Tertinggal dari Malaysia, tapi Lebih Baik dari Mesir"
